“Bahan Kimia Abadi” Berbahaya Ditemukan dalam Air Minum di Jerman

"Bahan Kimia Abadi" Berbahaya Ditemukan dalam Air Minum di Jerman
Orang-orang menghadiri Festival Layang-Layang Raksasa ke-12 di Berlin, Jerman, pada 27 September 2025. (F. Xinhua/Zhang Haofu)

BERLIN (Kepri.co.id – Xinhua) – Sebuah kelompok lingkungan Jerman mendeteksi adanya zat “bahan kimia abadi” berbahaya di dalam hampir semua sampel air minum yang diuji secara nasional.

Federasi Lingkungan dan Konservasi Alam (BUND) Jerman mengatakan, jejak senyawa PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances) ditemukan dalam 42 dari 46 sampel yang dikumpulkan pada periode Juni hingga Oktober.

Berlin menjadi salah satu area yang terdampak paling parah, dengan kadar PFAS yang tinggi terdeteksi dalam air dari distrik pemerintah kota tersebut. Menurut kantor berita Jerman dpa, PFAS dikaitkan dengan kerusakan hati serta kanker ginjal dan testis. Para ahli memperingatkan zat-zat tersebut dapat mencemari sumber air secara permanen.

PFAS banyak digunakan dalam produk-produk seperti perlengkapan luar ruangan, peralatan masak antilengket, dan kosmetik. BUND mengungkapkan hanya sebagian kecil dari ribuan senyawa PFAS yang saat ini teregulasi di Jerman.

“Sampel acak kami menunjukkan bahwa PFAS telah lama masuk ke siklus air kami, mulai dari air permukaan hingga air tanah dan bahkan air minum,” ujar Verena Graichen, Direktur Pelaksana BUND. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Pelaku Industri Jerman: Kolaborasi AI-Manusia jadi Inti dari Logistik Masa Depan, Bukan Automasi

Deputi Pelayanan Umum BP Batam Hadiri Networking Dinner bersama Delegasi Kementerian dan Pengusaha Jerman

Pemadaman Komputer Picu Gangguan di Sejumlah Bandara Jerman

Perusahaan-perusahaan Jerman Berniat Tingkatkan Investasi di Pasar China

NIKMATI MENU KHAS JERMAN DAN POTONGAN EARLY BIRD 10%, PAKET OKTOBERFEST BBQ FESTIVAL HARRIS RESORT WATERFRONT BATAM

Ekonomi Jerman Kembali Melambat dan Turun Tipis pada Q2 Tahun 2024

Gelaran UEFA EURO 2024 akan Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Jerman 0,1 Persen

Kalah Dalam Pemilu UE, Kanselir Jerman Olaf Scholz Hadapi Tekanan yang Semakin Besar