JENEWA (Kepri.co.id – Xinhua) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif yang mulai berkobar pada Minggu (11/8/2024) dan menyebar ke area seluas lebih dari 30 Kilometer (Km), hingga mencapai pinggiran timur laut Athena, berhasil diatasi pada Selasa (13/8/2024) pagi waktu setempat. Bencana tersebut menelan satu korban jiwa dan menyebabkan kerusakan signifikan.
Yunani baru saja mengalami Juni dan Juli 2024 terpanas sepanjang catatan sejarahnya. Negara itu menghadapi ribuan karhutla setiap musim panas, dan perubahan iklim tampaknya memicu lebih banyak kebakaran lebih besar.
Baca Juga: China Diterpa Cuaca Ekstrem, Gelombang Panas hingga Hujan Badai Terjang Sejumlah Daerah
Menurut laporan bersama yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/ WMO) dan badan iklim Uni Eropa (UE), Copernicus, pada April 2024, Eropa menjadi benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia, dengan suhu yang meningkat sekitar dua kali lipat dari rata-rata global.
Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Jenewa, Swiss. (XHTV)
“Panas ekstrem yang terus berlanjut sepanjang Juli 2024, menimbulkan dampak yang sangat menghancurkan bagi masyarakat, kesehatan masyarakat, ekosistem, juga ekonomi. Panas ekstrem benar-benar memiliki efek domino di seluruh masyarakat. Suhu rata-rata global selama 13 bulan terakhir ini, yaitu dari Juni 2023 hingga Juni 2024, telah mencetak rekor bulanan baru,” ujar pejabat media WMO, Clare Nullis.
Baca Juga: Jepang Alami Juli Terpanas
Menurut WMO, gelombang panas berkepanjangan dan parah telah melanda setiap benua, dengan sedikitnya 10 negara mengalami suhu harian melebihi 50 derajat Celsius di beberapa wilayah selama setahun terakhir.
Suhu rata-rata di Jepang pada Juli 2024, mencapai tingkat tertingginya sejak pencatatan dimulai tahun 1898, melampaui rekor pada tahun 2023 lalu.
Baca Juga: Gelombang Panas Landa 17 Kota di Italia Pekan Ini
Gelombang panas yang melanda Italia memecahkan rekor di banyak wilayah. Per Senin (12/8/2024), 17 dari 27 kota terbesar di negara tersebut, berada di bawah peringatan “merah”, menyamai jumlah tertinggi yang tercatat tahun ini.
Spanyol melaporkan 608 kematian yang disebabkan suhu tinggi pada pekan pertama Agustus 2024, hampir dua kali lipat dari jumlah kematian pada pekan sebelumnya yaitu 335, menjadikannya pekan terburuk dalam tahun 2024 ini, menurut Institut Kesehatan Carlos III.
WMO memperkirakan, kemungkinan 80 persen suhu rata-rata global untuk sementara waktu, akan melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri selama setidaknya satu dari lima tahun ke depan.
Baca Juga: Pemadaman Listrik dan Kelangkaan Air Landa Eropa di Tengah Gelombang Panas Berkepanjangan
“Dengan peningkatan suhu ini, kami memperkirakan gelombang panas pada musim panas yang lebih kuat dan lebih sering terjadi, serta kekeringan yang parah. Di sisi lain, badai akan lebih kuat di musim panas dengan hujan es yang lebih besar dan angin yang lebih intens, dan juga di musim gugur dan musim dingin, kami memperkirakan akan terjadi banjir yang lebih hebat,” Ahli Klimatologi di Badan Lingkungan Hidup Negara Slovenia (ARSO), Mag Gregor Vertacnik. (amr/ xinhua-news.com)







