Pemadaman Listrik dan Kelangkaan Air Landa Eropa di Tengah Gelombang Panas Berkepanjangan

Kekhawatiran Iklim Meningkat Saat Gelombang Panas Ekstrem Landa Dunia
Wisatawan berlindung di bawah payung mengunjungi Colosseum di tengah gelombang panas di Roma, Italia, pada 12 Juli 2024. (F. Xinhua/Alberto Lingria)

BRUSSEL (Kepri.co.id – Xinhua) – Gelombang panas yang terjadi secara kontinu di Eropa selatan dan timur, menyebabkan lonjakan permintaan dan pemadaman listrik.

Meningkatnya penggunaan unit pendingin udara dan air dingin, memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada infrastruktur listrik dan air, menyebabkan banyak sistem mengalami kolaps dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Bumi Catat Rekor Suhu Terpanas pada Juni 2024, Rekor Suhu Global Tertinggi Selama 13 Bulan Beruntun

Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service) Uni Eropa (UE), Bumi mengalami hari terpanas yang pernah tercatat pada 22 Juli 2024, dengan suhu rata-rata global harian mencapai rekor tertinggi baru yakni 17,16 derajat Celsius.

“Saat ini, kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seiring iklim yang terus memanas, kita akan menyaksikan rekor-rekor baru yang akan dipecahkan dalam beberapa bulan dan tahun mendatang,” ujar Carlo Buontempo, direktur layanan tersebut.

Di Italia, kota-kota seperti Roma, Naples, dan Florence mencatatkan suhu mendekati rekor tertinggi. Sementara Sardinia dan Sisilia menghadapi kondisi panas,mencapai hingga 44 derajat Celsius.

Negara itu sedang meningkatkan impor energi, mengingat turunnya produksi tenaga air dan penggunaan pendingin udara yang melonjak, lapor media Italia.

Malta, negara pulau di Mediterania, mengalami pemadaman listrik sehari penuh di beberapa daerah, dengan rusaknya jaringan distribusi listrik bawah tanah akibat cuaca sangat panas. Di Gzira, listrik padam selama hampir 40 jam hingga perbaikan dilakukan.

Sebuah layar menunjukkan suhu udara mencapai 43 derajat Celsius di sebuah taman di Bucharest, Rumania, pada 13 Juli 2024. (F. Xinhua/Cristian Cristel)

“Saya kecewa karena kami tahu musim panas akan membawa peningkatan suhu, tetapi kami tidak (bersiap) dengan rencana yang baik sebelumnya. Hanya ada sedikit investasi dalam jaringan distribusi dalam satu dekade terakhir, sehingga jelas infrastruktur tersebut mengalami tekanan,” ujar warga Malta Steve Vella kepada Xinhua.

Baca Juga: Gelombang Panas Landa 17 Kota di Italia Pekan Ini

Rumania juga mengalami fluktuasi listrik. Pihak berwenang telah merekomendasikan berbagai langkah menghemat energi, seperti menyetel unit pendingin udara pada suhu 24-26 derajat Celsius, dan menghindari penggunaan mesin cuci antara pukul 18.00 hingga pukul 21.00 waktu setempat (pukul 22.00-01.00 WIB).

Di Montenegro, jaringan listrik mengalami gangguan signifikan di bawah peringatan cuaca “merah”. Baru-baru ini, kalangan pebisnis di Tivat memprotes pemadaman listrik, mengutip hal tersebut menghadirkan kerugian terhadap operasional mereka dan ekonomi secara keseluruhan.

Gangguan listrik regional pada 21 Juni 2024 menyebabkan pemadaman di Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Albania, dan Montenegro.

Kepala Badan Promosi Ekspor Bosnia dan Herzegovina, Enes Aliskovic, menyampaikan, lonjakan permintaan listrik di Montenegro selama puncak musim wisata menyebabkan tumbangnya sistem kelistrikan di negara tersebut.

Kroasia mencetak rekor konsumsi listrik baru yakni 3.341 megawatt-jam pada 16 Juli 2024 pukul 20.00 waktu setempat, atau pada 17 Juli 2024 pukul 01.00 WIB.

Mengingat musim wisata semakin intensif dan meningkatnya penggunaan pendingin udara di semua fasilitas wisata dan tempat kerja, serta properti residensial, rekor konsumsi listrik maksimum per jam diperkirakan akan kembali pecah pada musim panas tahun ini, menurut Operator Sistem Transmisi Kroasia (HOPS).

Seorang pria menyejukkan diri di depan sebuah kipas yang dipasang di sekitar Colosseum di Roma, Italia, pada 12 Juli 2024. (F. Xinhua/Alberto Lingria)

Bogomil Ferfila, seorang ilmuwan politik Slovenia, mengaitkan tekanan pasokan listrik di Balkan Barat itu, dengan sejumlah faktor. Seperti minimnya pendanaan infrastruktur energi yang parah, salah urus yang terus berlanjut, dan hambatan geopolitik.

Selama musim puncak tersebut, konsumsi listrik berpotensi melonjak secara tidak normal, menyebabkan jaringan listrik mengalami kelebihan beban, ungkapnya kepada Xinhua.

Selain itu, kelangkaan air juga melanda beberapa wilayah di Eropa. Belum lama ini, hotel-hotel di Sisilia, Italia, menolak kedatangan pelancong akibat kelangkaan air.

Baca Juga: Forum Davos Musim Panas 2024 Desak Kerja Sama Global dalam Transisi Energi dan Pemerangan Perubahan Iklim

Beberapa bagian di wilayah pulau tersebut mengalami kesulitan parah, pasokan air dilaporkan hanya tersedia selama dua hingga tiga jam per hari. Di beberapa daerah terpencil, warga melakukan protes, karena tidak memiliki akses terhadap air bersih selama enam pekan.

Demikian juga, desa-desa di wilayah Kardzhali di Bulgaria menghadapi kelangkaan air minum serius, akibat gelombang panas dan minimnya curah hujan.

Orang-orang menikmati es krim di dekat pantai di Brighton, Inggris, pada 19 Juli 2024. (F. Xinhua)

Sejumlah pembatasan terkait penggunaan air diterapkan di Pchelarovo, yang terletak sekitar 230 Kilometer (Km) di sebelah tenggara Sofia, ibu kota Bulgaria, di mana warganya hanya dapat menikmati air bersih selama empat jam sehari.

Suhu tinggi di Eropa selatan dan timur diprediksi akan berlanjut, menyebabkan pasokan listrik dan air akan terus mengalami tekanan. (amr/ xinhua-news.com)