23 Spesies Mamalia Terinfeksi Flu Burung H5 di AS

23 Spesies Mamalia Terinfeksi Flu Burung H5 di AS
Foto yang diabadikan pada 21 Mei 2021 ini, menunjukkan seekor singa di Kebun Binatang Nasional Smithsonian di Washington DC, Amerika Serikat. (F. Xinhua/Liu Jie)

LOS ANGELES (Kepri.co.id – Xinhua) – Wabah flu burung H5 di Amerika Serikat (AS) telah menginfeksi lebih banyak spesies hewan, termasuk 23 spesies mamalia. Demikian menurut Departemen Pertanian AS.

Situs web Departemen Pertanian AS yang melacak virus tersebut, memperbarui laporan pada Selasa (13/8/2024) bahwa Influenza A yang juga dikenal sebagai HPAI (Highly Pathogenic Avian Flu H5N1), terdeteksi pada banyak mamalia, seperti tikus rusa (deer mouse), tikus rumah, kelinci ekor kapas gurun (desert cottontail), tikus padang rumput, rakun, sigung belang, rubah merah, singa gunung, kucing hutan liar (bobcat), dan beruang hitam.

Baca Juga: Pakar Serukan Kerja Sama Internasional Perangi Influenza dalam Konferensi Influenza Dunia 2024

“Ada banyak spesies yang berpotensi rentan terhadap penyakit flu burung, yang sangat menular (HPAI),” kata situs tersebut.

“Selain pada burung dan unggas, virus H5N1 telah terdeteksi pada beberapa mamalia. Infeksi dapat menyebabkan penyakit, termasuk penyakit parah dan kematian dalam beberapa kasus.”

Departemen Pertanian AS menyampaikan, meningkatnya minat terhadap kucing domestik berkaitan dengan wabah HPAI, pihak berwenang mengumpulkan informasi yang relevan sejak Maret 2024 lalu dan melaporkannya ke Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organization for Animal Health/ WOAH).

“Sebagai hewan peliharaan, kucing domestik dapat menjadi jalur potensial bagi virus flu burung menyebar ke manusia,” ungkap Kristen Coleman, seorang assistant professor di School of Public Health di University of Maryland, yang juga affiliate professor di Jurusan Kedokteran Hewan, sebagaimana dilaporkan di outlet berita universitas tersebut pada Juni 2024.

Seekor kucing menikmati ketika dagunya dibelai dalam acara Mega Adoption di Houston, Texas, Amerika Serikat pada 10 November 2019. (F. Xinhua/Yi-Chin Lee)

“Kami mengamati distribusi global dan penyebaran infeksi flu burung pada spesies kucing antara tahun 2004 hingga 2024, menemukan peningkatan drastis dalam laporan infeksi virus tersebut pada kucing mulai tahun 2023, dengan lonjakan infeksi yang dilaporkan terjadi pada kucing peliharaan, berlawanan pada hewan liar atau hewan yang dipelihara di kebun binatang. Peningkatan ini bertepatan dengan penyebaran galur H5N1 yang cepat di antara spesies mamalia saat ini,” imbuh Coleman.

Baca Juga: Dianjurkan Banyak Minum, Kasus Mirip Flu Singapura Ditemukan di Batam

Laporan tersebut memperingatkan, flu burung saat ini tidak dilaporkan menular di antara manusia, dan tidak ada jaminan virus itu akan berkembang ke arah tersebut, tetapi penyakit itu jelas sedang berubah.

“Galur H5N1 yang ada saat ini telah menyebar ke hewan yang belum pernah tertular sebelumnya, dan hewan peliharaan yang dapat menularkannya kepada manusia dapat berperan dalam perubahan virus tersebut.”

Flu burung, virus yang biasanya menyebar di antara burung liar dan unggas peliharaan, mengalami perubahan hingga dapat menginfeksi sapi perah di AS pada Desember 2023 lalu atau Januari 2024 ini, dan sejak itu menyebar ke spesies hewan lainnya.

Sejak terdeteksi H5N1 pada sapi perah di AS, sekitar 35 kucing domestik dilaporkan terinfeksi virus tersebut hingga saat ini, sementara tidak ada kasus H5N1 pada manusia yang ditularkan dari kucing yang terinfeksi virus tersebut, urai pejabat kesehatan AS.

“Sungguh luar biasa cepat dan ganasnya pergerakan virus ini. Jadi, saya berharap kita bisa segera mengatasinya,” kata Kay Russo, seorang dokter hewan asal Colorado yang pernah menangani sapi perah dan unggas, yang paling terdampak virus tersebut tahun 2024 ini.

Di Colorado, enam kasus Influenza A pada kucing telah terdeteksi pada sejumlah kucing domestik sepanjang tahun 2024 ini, menurut situs web Colorado Veterinary Medical Association.

Baca Juga: Aksi China Tangani Penyakit Langka Bangkitkan Harapan di Kalangan Pasien

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/ CDC) federal AS terus menyatakan, risiko terhadap masyarakat umum rendah.

Namun, Russo mengatakan, level kekhawatiran meningkat akibat lonjakan kasus yang terkonfirmasi H5N1.

“Orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan kucing terinfeksi, harus dianggap memiliki risiko yang sama dengan orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan hewan lain yang terinfeksi, seperti sapi atau unggas,” papar Russo dalam email yang dikirimkan ke Colorado Public Radio pada Selasa (13/8/2024).

“Risiko penularan ke manusia akibat kontak dengan kucing belum dipahami dengan baik.” (hen/ xinhua-news.com)