RAFAH (Kepri.co.id – Xinhua) – Di tengah teriknya musim panas, seorang sopir asal Mesir, Mohammed Abdel-Fattah (50), menunggu dengan cemas membawa truknya, memuat bantuan medis dan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza melalui perlintasan Rafah, yang ditutup sejak Israel menduduki (sisi Palestina) perlintasan itu pada awal Mei 2024 lalu.
“Saya tiba sepekan setelah perlintasan ini ditutup,” ungkap Abdel-Fattah (50), seorang sopir truk dari Kairo, kepada Xinhua sambil duduk di samping truknya di dekat sisi Mesir perlintasan Rafah.
Baca Juga: Kelangkaan Air Perburuk Penderitaan di Gaza yang Dilanda Perang
Pada 7 Mei 2024, militer Israel mengumumkan pemberlakuan kontrol “operasional” atas sisi Palestina perlintasan itu, yang merupakan pintu gerbang utama menyalurkan bantuan kemanusiaan dan bantuan ke daerah kantong tersebut.
“Kami tidur di dalam truk dan menderita karena suhu musim panas yang tinggi, tetapi kami masih berharap bisa menyeberang ke Gaza, mengantarkan bantuan kepada warga,” ujar Abdel-Fattah.
Truk Abdel-Fattah sebagian besar mengangkut pasokan medis dan tenda. Namun, banyak rekan-rekannya, yang mengangkut makanan, mendapati barang-barang bawaan mereka rusak karena panas.
“Banyak makanan yang diangkut truk membusuk karena terpapar panas dan sinar matahari,” ujarnya. “Hati saya hancur saat makanan membusuk di sini, sementara ribuan warga Palestina di balik tembok-tembok ini kelaparan.”
Baca Juga: Anak-Anak di Gaza Terinfeksi Penyakit Kulit di Tengah Krisis Air dan Obat-Obatan
Khaled Zayed, Kepala Bulan Sabit Merah Cabang Mesir di Sinai Utara, mengonfirmasi kepada Xinhua, penutupan perlintasan Rafah yang sedang berlangsung menyebabkan kerusakan parah pada bantuan yang menumpuk di sisi Mesir karena suhu tinggi.
“Ratusan truk yang memuat makanan, obat-obatan, dan pasokan kemanusiaan telah menunggu di sisi Mesir perlintasan ini, selama lebih dari dua bulan,” keluh Zayed. “Sejumlah besar bantuan makanan juga kadaluarsa setelah menunggu di sisi Mesir, selama berbulan-bulan.”
Menurut Zayed, lebih dari 500 truk saat ini sedang menunggu di sisi Mesir perlintasan Rafah, dengan sejumlah besar bantuan disimpan di gudang-gudang di dekat Kota Arish, Mesir.
“Bulan Sabit Merah Mesir baru-baru ini mulai mendistribusikan bantuan dalam jumlah besar kepada warga Palestina yang terdampar di Mesir, termasuk para pasien dan warga Palestina yang terluka, sedang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Provinsi Sinai Utara, Mesir,” kata Zayed kepada Xinhua.

Bulan Sabit Merah Mesir belum lama ini berhenti menerima bantuan dari berbagai negara, karena penutupan perlintasan Rafah. Zayed mengatakan, banyak lembaga donor telah diberitahu Bulan Sabit Merah, untuk sementara waktu menunda pengiriman bantuan hingga krisis teratasi.
Baca Juga: Kisah Petani Gaza Tanam Sayuran di Atap Bangunan untuk Bantu Tetangganya yang Kelaparan
Direktur Jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat Palestina (Palestinian Non-Governmental Organizations Network), Amjad Shawwa, mengatakan, jumlah truk yang mengangkut bantuan ke Jalur Gaza telah berkurang hingga 60 persen, sejak Israel memulai operasi militernya di Rafah pada April 2024 dan menduduki perlintasan Rafah pada Mei 2024.
“Sebelum penutupan perlintasan Rafah, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza sangat buruk, karena hanya sekitar 200 truk yang dapat menyeberang masuk ke Gaza dalam satu hari,” ungkap Shawwa kepada Xinhua, seraya menambahkan, Israel memberlakukan lebih banyak pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Kelaparan, kehausan, wabah, dan penyakit merebak dengan cepat, terutama di kalangan anak-anak dan perempuan, sejak penutupan perlintasan Rafah,” keluhnya. (hen/ xinhua-news.com)







