Pedagang Lokal Raih Keuntungan dari Kehadiran Kereta Cepat Whoosh Jakarta – Bandung

Para penumpang berpose foto dengan rangkaian kereta electric multiple unit (EMU) Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), di peron Stasiun Halim di Jakarta, pada 17 April 2024. (F. Xinhua/Xu Qin)

JAKARTA (Kepri.co.id Xinhua) – Saat berjalan keluar dari Stasiun Tegalluar Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang juga dikenal dengan sebutan Whoosh, di Bandung, Provinsi Jawa Barat, para penumpang akan menemukan sejumlah kios menjual kudapan, makanan, dan minuman. Area di luar stasiun itu kini dipadati para penjual makanan.

Situasi itu jauh berbeda dengan beberapa bulan lalu, tepatnya pada awal Oktober 2023 lalu, saat Whoosh pertama kali diluncurkan dan stasiun tersebut baru rampung dibangun. Saat itu, suasana masih sepi dan pemandangan yang terlihat hanyalah hamparan sawah dan lahan kosong.

Siti Fatimah (30), salah satu pemilik kios, mengatakan kepada Xinhua, dia membuka kios di rumahnya yang memiliki luas 18 meter persegi di dekat stasiun tersebut, saat kereta cepat Whoosh mulai dioperasikan.

Dia menjual gorengan dan beberapa jenis makanan. Pada pagi hari, dia biasanya menyajikan menu bubur. Sebelumnya, dia merupakan ibu rumah tangga dengan seorang putri, sementara suaminya berprofesi sebagai pekerja konstruksi.

“Sebelum membuka kios ini, saya tidak memiliki penghasilan. Kini, saya dapat mengantongi lebih banyak penghasilan dibandingkan suami saya, terutama saat hari libur,” ujarnya.

Foto yang diabadikan pada 16 Oktober 2023 ini, menunjukkan rangkaian kereta electric multiple unit (EMU) melaju di sepanjang jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Padalarang, Provinsi Jawa Barat. (F. Xinhua/Xu Qin)

Di samping kios Siti, terdapat kedai milik Suprijatna (43) yang menjual minuman, termasuk kopi dan teh. Dia telah membuka kedainya sejak Maret 2024. Dengan pengoperasian Stasiun Tegalluar, Suprijatna melihat ada peluang menjual minuman guna mengantongi penghasilan tambahan, sembari tetap menggarap sawah setidaknya dua hari dalam sepekan.

“Kini, saya dapat menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya. Sebelum berjualan minuman, saya hanya dapat mengantongi Rp500.000 per bulan. Sekarang, saya dapat meraup sedikitnya Rp1 juta. Kehadiran stasiun ini, merupakan berkah bagi warga setempat seperti kami,” ungkapnya kepada Xinhua.

Suprijatna menuturkan, sebagian besar pelanggannya merupakan pegawai konstruksi yang bekerja di stasiun tersebut. Namun, belum lama ini, semakin banyak penumpang KCJB yang berbelanja di kedainya sebelum melanjutkan perjalanan mereka menggunakan bus antar jemput (shuttle).

Tak hanya di luar stasiun, ada juga puluhan kedai dan kios yang menjual makanan dan minuman di dalam Stasiun Tegalluar. Para penumpang dapat menikmati berbagai macam makanan dan minuman, yang ditawarkan sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

Para penumpang berpose difoto dengan rangkaian kereta electric multiple unit (EMU) Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), di peron Stasiun Halim di Jakarta, pada 17 April 2024. (F. Xinhua/Xu Qin)

Kereta cepat Whoosh memiliki kecepatan yang dirancang hingga 350 Kilometer (Km) per jam, menghubungkan Stasiun Halim di Jakarta Timur dengan Stasiun Tegalluar di Bandung.

Banyak laporan menyebutkan, kereta itu membuat para pengguna transportasi umum di Indonesia penasaran, mengingat moda transportasi tersebut dapat memangkas waktu perjalanan antara kedua kota dari tiga jam lebih menjadi sekitar 40 menit saja.

Dalam upacara peresmian Whoosh tahun lalu, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menyatakan optimismenya, KCJB dapat menghadirkan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia.
“Ini akan memberikan efek berganda (multiplier effect), mulai dari lapangan kerja baru, terutama masyarakat setempat, hingga pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang dilewati jalur kereta cepat tersebut,” kata sang Presiden.

Merupakan yang pertama dari jenisnya di Indonesia dan Asia Tenggara, kereta cepat Whoosh melaporkan lonjakan penumpang pada setiap momen liburan.

PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), sebuah konsorsium perusahaan patungan (joint venture) antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dan China yang membangun dan mengelola KCJB, melaporkan, jalur kereta itu telah mengangkut 2 juta penumpang hingga awal Maret 2024.

Para penumpang melakukan check-in di ruang tunggu Stasiun Halim di Jakarta, pada 17 Maret 2024. (F. Xinhua/Xu Qin)

Selama masa libur panjang pada akhir pekan lalu, KCIC juga melaporkan lonjakan volume penumpang, dengan rata-rata 21.000 penumpang per hari atau naik 30 persen dibandingkan hari-hari biasa.

“Kami telah memprediksi peningkatan penumpang selama masa libur panjang tersebut. Inilah alasan kami mengoperasikan 48 perjalanan dengan ketersediaan 28.000 tempat duduk per hari,” papar General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa dalam sebuah pernyataan.

Pelaksana Tugas Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, menyampaikan, para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat telah mengisi berbagai kios di Stasiun Padalarang, stasiun pemberhentian kereta cepat sebelum Tegalluar, dan Stasiun Tegalluar.

“Penduduk Jawa Barat menyambut baik (kehadiran) kereta Whoosh. Hal itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Ke depan, kami berharap UMKM juga dapat menjalin kerja sama dengan asosiasi pariwisata, guna menyediakan paket-paket wisata di Bandung,” imbuhnya. (asa/ xinhua-news.com)