Penulis: Setyasih Harini
Dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta
BUDAYA bukan sekadar warisan masa lalu yang statis, menjadi pajangan di dalam museum. Dengan sifatnya yang universal, budaya dapat diterima oleh siapa saja dari berbagai latar belakang. Universalitas budaya menjadikannya sebagai jembatan perdamaian dan instrumen “soft power” yang paling tajam dalam memenangkan hati dunia.
Hal ini dibuktikan secara gemilang dalam perhelatan “La Noche Cultural de Indonesia y Colombia” (Malam Budaya Indonesia dan Kolombia) yang digelar di Wisma Duta RI Bogota belum lama ini. Di tengah sorotan lampu catwalk, para finalis Ratu Kecantikan Dunia Kolombia (Miss Mundo Colombia) tampil memukau bukan dengan gaun rancangan desainer ternama Paris atau Milan, melainkan dengan balutan pakaian adat Nusantara.
Kejadian ini memberikan pesan kuat bagi nation branding Indonesia. Pertama, pakaian adat Nusantara adalah identitas bangsa. Representasi Nusantara melalui pakaian adat mampu melampaui batas geografis dan bahasa. Kehadiran lebih dari 250 tamu undangan, yang mencakup jajaran Duta Besar, pejabat tinggi pemerintah Kolombia, hingga pengusaha, menunjukkan bahwa kekayaan ragam kain dan corak khas Indonesia memiliki daya pikat universal yang mampu menyatukan berbagai kalangan.
Lebih dari Sekadar Estetika
Menariknya, bukan sebatas pada pemanfaatan ajang beauty pageant internasional sebagai medium promosi, melainkan perhelatan tingkat dunia menjadi langkah nyata yang strategis. Keanggunan para kontestan yang berpadu harmoni dengan wastra Nusantara. menciptakan visualisasi positif bagi citra Indonesia.
Namun, diplomasi ini tidak berhenti pada estetika semata. Kesuksesan acara tersebut. merupakan buah dari diplomasi budaya yang terstruktur, seperti yang ditunjukkan oleh keterlibatan Duta Besar RI untuk Kolombia, Tatang Budie Utama Razak, yang dipercaya menjadi satu-satunya juri internasional dalam ajang Miss Mundo Colombia.
Pengakuan terhadap eksistensi dan posisi tawar Indonesia di kancah internasional tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah diwujudkan melalui diplomasi budaya yang cerdas dan berkelanjutan. Pakaian adat, dengan segala keindahan, simbolisme, dan keunikan yang melekat padanya, menjadi instrumen soft power yang ampuh. Pakaian adat tidak hanya memamerkan keragaman identitas bangsa, tetapi juga menegaskan bahwa Indonesia hadir sebagai negara yang memiliki daya tarik tersendiri di tengah kompetisi global.
Melalui kehadiran institusi seperti Casa de Indonesia di Bogotá, diplomasi ini tidak berhenti pada level formal, melainkan diperdalam secara konkret melalui pengajaran bahasa, seni membatik, hingga kuliner, tetapi terus berkelanjutan pada waktu mendatang. Langkah-langkah tersebut menunjukkan, Indonesia memahami pentingnya membangun kedekatan emosional dan kultural dengan masyarakat dunia, bukan hanya melalui jalur politik dan ekonomi.
Lebih dari itu, pakaian adat berfungsi sebagai ”pintu masuk” yang mengundang rasa ingin tahu masyarakat internasional untuk menyelami kekayaan Indonesia yang lebih luas. Ketika seseorang terpesona oleh keindahan kain batik atau keanggunan busana tradisional, rasa penasaran itu secara alami mendorong para pecinta pakaian adat untuk mempelajari hal-hal lain yang berkaitan.
Khasanah budaya lain seperti bahasa, menikmati cita rasa kuliner, memahami nilai-nilai filosofis di balik setiap motif, hingga menghargai keragaman budaya Nusantara secara utuh menjadi peluang yang dapat dimunculkan pada perhelatan global tahun-tahun berikutnya.
Pelaksanaan diplomasi budaya melalui Casa de Indonesia bukan semata-mata ajang pamer atau sekadar seremoni formal, melainkan sebuah investasi jangka panjang yang strategis dalam memperkuat citra dan posisi tawar Indonesia di mata dunia. Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, kehadiran pusat budaya semacam ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya mengandalkan diplomasi konvensional, tetapi juga mampu membangun kedekatan yang autentik dengan masyarakat internasional.
Melalui pengajaran bahasa, praktik seni membatik, dan pengenalan kuliner, Casa de Indonesia secara perlahan menanamkan pemahaman yang lebih dalam tentang jati diri bangsa. Proses ini tidak memberikan hasil instan, namun secara konsisten membentuk persepsi positif yang pada gilirannya meningkatkan daya tawar Indonesia dalam berbagai forum bilateral maupun multilateral.
Lebih jauh, pendekatan ini membuktikan bahwa kekuatan soft power yang berakar pada identitas lokal justru memiliki kemampuan unik untuk membuka ruang dialog yang lebih dalam dan bermakna di kancah internasional.
Ketika masyarakat dunia terpapar langsung pada kekayaan budaya Indonesia, mulai dari keindahan pakaian adat hingga filosofi yang terkandung di dalamnya. Masyarakat internasional yang menikmati ajang Casa de Indonesia secara langsung tidak hanya menjadi penonton, melainkan mitra dialog yang menghargai perbedaan dan keunikan.
Soft power semacam ini bekerja secara halus namun efektif, menciptakan jembatan kepercayaan yang sulit dicapai melalui instrumen politik atau ekonomi semata. Pada akhirnya, keberhasilan Casa de Indonesia menegaskan bahwa identitas lokal yang kuat, jika dikelola dengan bijak, dapat menjadi modal utama bagi Indonesia untuk hadir secara bermartabat dan berpengaruh di panggung dunia.
Dampak Nyata bagi Negara
Investasi pada promosi budaya ini, terbukti bukan sekadar seremoni atau formalitas diplomatik belaka. Kesepakatan bebas visa pertama kali ditandatangani pada 5 Agustus 2020 oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dan Menteri Luar Negeri Kolombia, Claudia Blum, dengan tujuan meningkatkan jumlah wisatawan setelah pandemi kesehatan global memberikan dampak positif hingga sekarang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) RI mengonfirmasi adanya tren peningkatan jumlah wisatawan asal Kolombia ke Indonesia dari tahun ke tahun, sebagai dampak langsung dari promosi budaya yang konsisten dan terarah.
Kenaikan jumlah wisatan setiap tahun sejak tahun 2022, menjadi bukti empiris bahwa upaya diplomasi budaya, termasuk melalui pengenalan pakaian adat dan kekayaan tradisi lainnya, mampu menjangkau masyarakat awam di negara mitra dan mengubah rasa ingin tahu menjadi keputusan nyata, untuk datang dan mengalami Indonesia secara langsung. Setiap kegiatan budaya yang digelar di luar negeri tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi jangka panjang yang menghasilkan dampak terukur.
Lebih dari itu, fenomena ini membuktikan bahwa nation branding yang dibangun di atas fondasi pakaian daerah dan identitas lokal. Ajang Casa de Indonesia mampu menggerakkan sektor ekonomi sekaligus memperkuat hubungan bilateral dua negara yang secara geografis berjauhan.
Ketika wisatawan Kolombia mulai berdatangan, tidak hanya menyumbang devisa, tetapi juga membuka peluang kerja sama di bidang perdagangan, pendidikan, dan pertukaran budaya yang lebih luas. Pakaian adat yang semula berfungsi sebagai ”pintu masuk” visual dan emosional, pada akhirnya menjadi katalisator bagi terciptanya jaringan ekonomi dan sosial yang saling menguntungkan. Inilah wujud nyata soft power Indonesia, yang berhasil mengubah apresiasi budaya menjadi manfaat konkret bagi bangsa.
Pakaian adat Nusantara adalah ”diplomat” diam yang berbicara lewat motif, warna, dan filosofi tanpa perlu banyak kata. Setiap helai kain batik atau tenun yang dikenakan di panggung internasional membawa serta cerita sejarah, filosofi, dan keunikan identitas bangsa yang telah diwariskan lintas generasi.
Ketika seorang finalis ratu kecantikan di Amerika Selatan dengan penuh kebanggaan mengenakan batik atau tenun Indonesia, momen itu menjadi lebih dari sekadar penampilan; ia berubah menjadi pernyataan simbolik bahwa kedaulatan budaya kita diakui secara sukarela oleh dunia. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan diplomatik, melainkan penerimaan yang tulus dari individu yang mewakili wajah publik di negara lain.
Pengakuan semacam ini, justru memiliki daya yang lebih kuat karena lahir dari rasa kagum dan apresiasi yang autentik, sekaligus menegaskan bahwa soft power Indonesia mampu menembus batas-batas geografis dan meraih penghormatan yang tulus di mata masyarakat global.
Tantangan ke Depan
Tentu, apresiasi internasional ini harus menjadi cermin bagi kita di dalam negeri. Sangat ironis jika keindahan pakaian daerah kita dipuja di Bogota, namun mulai ditinggalkan di Tanah Air demi tren yang kurang berakar pada jati diri bangsa. Kita harus memastikan bahwa kemilau pakaian adat di panggung internasional berbanding lurus dengan kecintaan masyarakat domestik terhadap warisannya sendiri.
Keberhasilan di Kolombia adalah pengingat bahwa Indonesia memiliki modal budaya yang tak terbatas, untuk menjadi pusat perhatian dunia. Tugas kita sekarang adalah terus “menenun” konsistensi tersebut, agar kain Nusantara tidak hanya memukau di atas catwalk, tapi benar-benar menjadi pengikat hubungan ekonomi dan diplomatik yang berkelanjutan di seluruh penjuru dunia. ***
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.







