Anambas Foundation Salurkan Rp73 Miliar Sejak 2018, 74 Persen Tenaga Kerjanya Putra Daerah

ANAMBAS, Kepri.co.id – Yayasan Anambas Foundation telah menyalurkan dana lebih dari Rp73 miliar sejak 2018 untuk mendukung konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Anambas. Selain menjaga kelestarian hutan dan laut, yayasan juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis lingkungan.

Head of Anambas Foundation, Devina Mariskova, menyampaikan hal tersebut saat penandatanganan naskah kesepahaman bersama dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas. Kegiatan berlangsung di Aula Prof. Dr. Zein, Kantor Bupati Kepulauan Anambas, Kamis (29/10/2026).

Dalam sambutannya, Devina menjelaskan tiga pilar utama program yayasan. Ketiganya meliputi konservasi hutan atau Above, konservasi laut atau Below, dan pengembangan masyarakat atau Beyond. Selama delapan tahun, ketiga pilar tersebut telah menjangkau 35 desa.

“Pendekatan program yayasan kami jalankan melalui tiga pilar yang saling terhubung, yaitu konservasi hutan, konservasi laut, dan pengembangan masyarakat” kata Devina.

Di darat, yayasan mendukung penyediaan lebih dari 2.000 bibit pohon. Kegiatannya mencakup penanaman, pemeliharaan, dan pengembangan agroforestri bersama kelompok tani di Gunung Timur, Siantan, dan Desa Telaga.

Sementara itu, di laut, yayasan memantau terumbu karang di 32 titik dan merehabilitasi lebih dari 4.000 meter persegi terumbu karang. Yayasan juga mendukung perlindungan habitat penyu bersama para rangers dari beberapa desa.

Menurut Devina, program tersebut tidak hanya berfokus pada pelestarian alam. Yayasan juga membekali masyarakat dengan keterampilan pemantauan ekosistem, pengelolaan pariwisata berbasis konservasi, dan pengembangan usaha.

Serap Tenaga Kerja Lokal dan Dorong Ekonomi Masyarakat

Anambas Foundation juga melibatkan masyarakat lokal dalam berbagai programnya. Dalam wawancara seusai kegiatan, Devina menyebut yayasan memiliki sekitar 92 staf dan pekerja lapangan. Mereka bertugas di desa-desa mitra dan kantor yayasan di Batam.

“74 persennya adalah anak-anak asli Anambas” ujar Devina.

Para pekerja tersebut menangani berbagai bidang. Sebagian mengelola sampah dan program pemberdayaan perempuan. Sebagian lainnya mengurus fasilitas desa, melindungi habitat penyu, dan memantau terumbu karang.

Devina menilai pekerjaan berbasis lingkungan membuka peluang bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Melalui pelatihan dan pendampingan, mereka dapat memperoleh keterampilan sekaligus penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Kami mau memperlihatkan bahwa ekonomi hijau ini, lapangan pekerjaan hijau ini, tidak memandang latar belakang pendidikan. Yang penting mereka punya jiwa untuk mau melindungi alam sekaligus memberdayakan masyarakat” katanya.

Selain membuka lapangan kerja, yayasan mendukung pertanian rumahan, pengembangan usaha perempuan, pendidikan, dan pengelolaan sampah terpadu.

Di Desa Telaga dan Kiabu, para ibu telah menghasilkan lebih dari 1.000 kilogram sayuran sejak program pertanian rumahan dimulai. Pada 2026, yayasan juga mengajak 140 siswa dari sembilan sekolah mengikuti program Digital English Club untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Dalam pengelolaan sampah, yayasan telah mendampingi 32 desa. Sejak 2018, program tersebut dilaporkan berhasil mencegah lebih dari 1.300 ton sampah mencemari lingkungan dan laut.

Melalui program Desa Indah Kelola Sampah Mandiri atau DIKARI, yayasan membantu warga mengembangkan pengelolaan sampah dari rumah tangga hingga penjualan kepada pengepul. Yayasan juga menjalankan layanan bank sampah keliling di dua pulau besar. Hasil penjualan sampah dapat menambah pendapatan warga dan desa.

Salurkan Dana untuk Program dan Perekonomian Lokal

Devina menjelaskan bahwa yayasan menghimpun dana dari berbagai sumber. Sumber tersebut meliputi dukungan patron, perusahaan swasta, program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), serta hibah dari lembaga yang mendukung konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

“Totalnya semua adalah Rp73 miliar selama delapan tahun” jelasnya.

Pada 2025, yayasan menyalurkan lebih dari Rp10,5 miliar untuk mendukung perekonomian setempat. Dana tersebut membantu membiayai tenaga kerja, transportasi, akomodasi, penyediaan makanan, dan kebutuhan kegiatan lapangan.

Sementara itu, pada 2026, penghimpunan dana program telah melampaui target Rp17,8 miliar. Yayasan berharap kemitraan dengan pemerintah daerah dapat memperluas dukungan bagi kebutuhan pembangunan yang belum terpenuhi.

Selain pendanaan, Devina menekankan pentingnya riset ilmiah untuk meningkatkan ketepatan program konservasi. Karena itu, yayasan berencana mengembangkan Anambas Marine Research Center (AMRC) dalam lima tahun ke depan, dengan izin dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas.

Yayasan juga bekerja sama dengan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dalam penelitian. Salah satu fokusnya ialah melacak pergerakan penyu dan mempelajari kondisi lingkungan di sepanjang jalur pergerakannya.

“Kalau penyunya sehat, banyak, berarti air lautnya juga bagus untuk ikan, dan nelayan juga bisa dapat pendapatan dari situ” ungkap Devina.

Menurutnya, penelitian tersebut dapat membantu yayasan memahami kondisi ekosistem laut. Hasilnya juga diharapkan menjadi dasar untuk menyusun program konservasi yang lebih tepat sasaran.

Anambas Sustainability Forum Direncanakan pada 2027

Selain mengembangkan riset, Anambas Foundation merencanakan Anambas Sustainability Forum pada Juni 2027. Yayasan memilih waktu tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas.

Forum ini akan membuka ruang bagi pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk bertukar gagasan. Pertemuan tersebut juga diharapkan dapat mempertemukan inovasi dan potensi pendanaan bagi pembangunan berkelanjutan.

Devina berharap nota kesepahaman dengan Pemkab Anambas dapat memperkuat koordinasi antarpihak. Kerja sama itu mencakup kelompok masyarakat, pemerintah desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kelompok pengawas masyarakat, dan perangkat daerah.

“Kami berharap nota kesepahaman yang ditandatangani hari ini dapat memperkuat landasan kerja sama yang telah kita bangun” ujarnya.

Ke depan, yayasan ingin menyelaraskan pengalaman lapangan dan sumber dayanya dengan prioritas pembangunan daerah. Devina berharap kemitraan tersebut dapat memperkuat penghidupan masyarakat sekaligus menjaga sumber daya alam Anambas.

Ia juga berharap pengalaman program di Anambas dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah kepulauan lainnya di Indonesia. Dengan begitu, daerah kepulauan dapat mengembangkan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. (latep)