Penulis: Setyasih Harini
Universitas Slamet Riyadi Surakarta
DI TENGAH kepungan modernisasi dan efisiensi. Ketika masyarakat terjerat dengan serba-instan. Ketika urusan hajatan kini cukup diselesaikan lewat sapuan layar gawai. Ketika hajatan terselesaikan dengan mudah melalui transaksi wedding organizer. Masuknya industri jasa boga (catering) dan komersialisasi hajatan, mengubah relasi sosial menjadi relasi transaksional (konsumen dan penyedia jasa), uang menjadi kebutuhan urgen yang tidak sedikit.
Ketika terjadi privatisasi ruang hidup yang ditandai dengan perubahan tren perumahan modern (cluster) atau pergeseran hajatan ke gedung-gedung pertemuan yang secara arsitektur dan kultural membatasi partisipasi tetangga sekitar. Ketika arus urbanisasi dan perubahan mata pencaharian warga desa yang beralih ke sektor formal atau pabrik, menyisakan ruang waktu yang sempit untuk terlibat dalam kegiatan sosial spontan. Masih ada sebuah praktik sosial-budaya dalam segelintir masyarakat Sukoharjo, Jawa Tengah yang terus bertahan. Tradisi ini mampu melampaui sekat zaman, yakni rewang.
Tradisi rewang biasa identik dengan kegiatan memasak. Rewang umumnya dilakukan oleh perempuan, terutama yang sudah menikah. Rewang adalah kegiatan jadul dalam dapur yang penuh asap dan belanga. Rewang sering digambarkan sebagai kumpulan para emak dengan tangan kotor dan berbau. Memang, secara sukarela para emak membiarkan tangan mereka menjadi kotor dengan aneka bau bumbu masakan. Bahkan, rewang juga diwarnai dengan canda tawa dan guncingan antartetangga.
Namun, rewang lebih dari sekadar aktivitas bergotong royong menyiapkan panggung atau mengolah racikan dapur hajatan secara sukarela. Rewang adalah denyut nadi modal sosial yang merekatkan kohesi antarwarga. Keunikan rewang tidak hanya terletak pada pembagian peran kerja komunal yang harmonis. Rewang menempatkan posisi dapur bukan sebatas tempat memasak, melainkan sebagai ruang publik. Dapur ditempatkan sebagai ruang dialog, ruang transfer nilai, serta panggung legitimasi perempuan Jawa yang menjadi penentu utama kesuksesan sebuah perayaan.
Menyelisik rewang di era hari ini menjadi sangat krusial. Rewang hadir bukan sekadar sebagai romantisme warisan leluhur. Kehadiran rewang dalam ruang masyarakat Sukoharjo, membuktikan masih ada benteng pertahanan terakhir masyarakat dari ancaman komodifikasi budaya dan erosi solidaritas, akibat gaya hidup individualistis.
Asal-Usul Rewang
Dalam masyarakat Jawa yang kental akan kehidupan komunal, tradisi rewang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat. Kesadaran masyarakat bahwa manusia tidak mampu berdiri sendiri. Ketika suatu keluarga hendak mengadakan hajatan, entah syukuran keberhasilan anak, pernikahan, kematian, khitanan, selametan, atau apa pun, dalam bentuk hajatan besar, umumnya membutuhkan bantuan orang lain.
Pemilik hajat datang mengundang warga sekitar tempat tinggalnya untuk membantu. Namun, tetangga terkadang secara spontan begitu mengetahui bahwa ada orang yang punya hajatan tidak jauh dari rumahnya. Rewang juga terjadi akibat adanya ”ketumpangan” sebagai sarana membalas budi kebaikan dari orang yang pernah memberikan bantuan sebelumnya.
Rewang dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Meski tempat dan jenis pekerjaannya berbeda, kegiatan ini dapat dilakukan secara bersamaan oleh laki-laki dan perempuan. Laki-laki biasanya menangani pekerjaan berat seperti mendirikan tarub atau mengangkat barang berat, sedangkan perempuan biasanya menanak nasi, memasak aneka kue atau sayur. Yang pasti, para emak akan menguasai dapur dan mengatur hidangan.
Tradisi ini, tidak hanya meringankan beban orang yang punya hajatan, tetapi juga menjadi ruang sosial. Gambaran relasi kekerabatan dan persaudaraan semakin memperkuat identitas masyarakat Jawa yang komunal. Masih ada juga sebagian masyarakat migran Jawa yang tinggal di wilayah lain, yang masih mempertahankan tradisi ini.
Nilai Terpendam Rewang
Tak dapat dipungkiri, uang menjadi sarana yang memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhannya, terutama saat hajatan. Dengan uang, acara hajatan dapat terselesaikan dengan mudah, cepat, dan praktis. Seakan, dalam hajatan semua diukur dengan uang. Semua diakhiri transaksi dua pihak atau lebih dengan uang. Ya, uang memegang kendali penting dalam hajatan namun tidak, saat rewang berlangsung. tradisi ini bekerja di atas prinsip timbal balik (reciprocity) tanpa kalkulasi uang tunai. Tenaga dibayar dengan tenaga, kehadiran tetangga dibayar dengan loyalitas sosial. Inilah yang penulis nyatakan sebagai ekonomi moral.
Di balik praktik yang tampak sederhana itu tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan bermasyarakat. Rewang mengajarkan bahwa kebersamaan lebih berharga daripada individualisme. Rewang mengajak kita untuk menyadari betapa pentingnya tetangga di sekitar rumah. Rewang menyadarkan bahwa keikhlasan tanpa pamrih adalah fondasi solidaritas, dan kepercayaan antarwarga adalah modal sosial yang sesungguhnya.
Kerja fisik yang awalnya berat terasa ringan karena dilakukan bersama-sama, mengubah beban kerja menjadi rekreasi komunal, tanpa disengaja namun dijalani dengan ikhlas. Dalam kerangka modal sosial, rewang membangun jaringan kepercayaan, resiprositas, dan rasa tanggung jawab kolektif.
Bagi perempuan Jawa, dapur rewang bukan sekadar ruang kerja domestik. Saat perempuan ikut rewang dan melakukan aktivitasnya di dapur, secara tidak langsung menunjukkan arena legitimasi. Di sinilah para emak menjadi penentu kesuksesan hajatan, penghubung keluarga dengan masyarakat, serta penjaga nilai-nilai keharmonisan.
Rewang tidak melihat latar belakang seseorang dari aspek ekonomi, fisik, atau pendidikan. Nilai-nilai sosial seperti solidaritas, gotong royong, empati, dan kerukunan sejalan dengan sila ketiga Pancasila.
Rewang justru menjadi benteng budaya menghadapi arus modernisasi yang cenderung individualistis. Asap belanga di dapur saat para emak berkumpul dalam situasi rewang, mewujudkan adanya ruang otonom perempuan. Di situlah terjadi pertukaran informasi, mencairkan stratifikasi sosial, dan membangun solidaritas gender informal yang terkadang luput dari struktur formal desa. Bisa dikatakan rewang menjadi ajang munculnya demokrasi ala emak.
Menyelamatkan Tradisi atau Berdamai dengan Zaman
Ketika rumah tetangga semakin berjarak, dibatasi tembok menjulang tinggi serta pagar besi, kepedulian sosial semakin menipis. Saat itu, tanda-tanda erosi solidaritas akar rumput mulai terlihat. Hilangnya rewang adalah gejala awal dari alienasi masyarakat komunal menuju masyarakat yang individualistis. Jika tetap dibiarkan, yang muncul adalah runtuhnya social safety net (jaring keamanan sosial) secara informal.
Padahal, jaring keamanan sosial sangat dibutuhkan setiap saat tanpa mengenal waktu. Kita mungkin masih ingat ketika terjadi pandemi kesehatan global, tetangga menjadi orang pertama yang memberikan bantuan dengan menggantungkan makanan siap makan atau sayuran atau kebutuhan lainnya di pagar. Mungkin keluarga belum sempat datang membantu, tapi tetanggalah yang sigap setiap saat.
Dengan kata lain, tetangga dekatlah lini pertahanan pertama. Lemahnya ikatan kultural melemahkan daya tahan komunitas. Di sinilah muncul paradoks teknologi. Masyarakat semakin mudah berkomunikasi atau berhubungan secara digital di media sosial, namun semakin terasing secara fisik dari manusia yang tinggal di sebelah rumahnya.
Seperti banyak tradisi lokal lainnya, rewang kini menghadapi tekanan zaman. Kehadiran wedding organizer, katering profesional, dan gaya hidup praktis di perkotaan perlahan menggeser semangat sukarela menjadi transaksi komersial. Media sosial mempermudah undangan virtual, tetapi mengurangi interaksi tatap muka yang menjadi inti rewang.
Generasi muda yang semakin individualis dan terpapar budaya global, berisiko kehilangan pemahaman mendalam atas makna di balik praktik tersebut. Jika dibiarkan, rewang bisa kehilangan jiwa dan berubah menjadi sekadar seremoni formal tanpa substansi moral.
Oleh karena itu, pelestarian rewang tidak cukup dengan nostalgia. Rewang harus diajarkan secara aktif kepada generasi mendatang melalui pendidikan formal dan informal, dengan menyesuaikan bentuknya tanpa mengorbankan esensinya. Partisipasi bisa lebih fleksibel seperti dalam bentuk pemikiran, tenaga, materi, atau koordinasi melalui teknologi agar sesuai dengan ritme hidup masyarakat kontemporer.
Yang pasti, rewang merintis semangat gotong royong agar tetap hidup. Pemerintah daerah, lembaga adat, dan komunitas perlu mengakui rewang sebagai warisan budaya takbenda, sementara sekolah dan keluarga harus menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan solidaritas sejak dini. Sebuah peringatan bahwa modernisasi tidak boleh dibayar dengan memiskinkan nurani dan meruntuhkan jembatan silaturahmi antarmanusia. Hanya dengan cara itu, rewang akan tetap menjadi ruang pembelajaran karakter, pengikat identitas sosial, dan bekal moral yang relevan bagi bangsa Indonesia di tengah derasnya arus perubahan. ***
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.







