TANJUNGPINANG (Kepri.co.id) – Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kepri datang dengan koper berisi seragam lomba yang disetrika rapi. Sebanyak 27 perempuan dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Di leher mereka menggantung harapan satu provinsi. Di tangan mereka, selembar tiket hard copy bertanggal 24 Juni 2026 — bukti bahwa mereka peserta sah Pesparawi Nasional XIV di Manokwari.
Kamis (25/6/2026) malam mereka mendarat di Jakarta. Jumat pagi, 26 Juni 2026, harusnya mereka sudah di panggung Manokwari sebagai peserta Paduan Suara Wanita tampil pertama. Seragam sudah dipakai. Suara sudah dipanaskan. Tapi yang mereka dapat bukan panggilan check-in. Yang mereka dapat kata petugas bandara: ”Maaf bu, tiketnya belum dibayar. Ini baru booking.”
Di titik itulah waktu berhenti untuk Kontingen Pesparawi Kepri. Rombongan yang dilepas resmi oleh pemerintah daerah itu, mendadak jadi rombongan yang terlantar di Terminal 3 Soekarno-Hatta. Bukan karena badai atau bencana. Tapi, karena selembar kertas yang dikira tiket, ternyata hanya janji.
Panitia Kepri sudah dihubungi berkali-kali, solusinya tidak ada. Tidak pernah ada arahan untuk batal. Artinya, mereka memang disuruh terbang ke Jakarta dulu, baru disuruh sadar bahwa mereka tidak akan pernah sampai Papua.
Lalu apa yang dilakukan 27 perempuan itu? Mereka tidak menggelar konferensi pers dengan air mata. Tidak membentangkan spanduk hujatan. Tidak memaki panitia di depan kamera. Mereka memilih melakukan hal yang paling mereka kuasai: bernyanyi.
Di lantai bandara yang dingin, di antara pengumuman delay dan suara koper diseret, mereka mempersembahkan lagu lomba. Lagu yang harusnya menggema di gedung Pesparawi Manokwari, akhirnya bergema di Soekarno-Hatta. Tanpa juri. Tanpa nilai. Tanpa piala. Penontonnya? Seluruh rakyat Indonesia yang merekam, yang membagikan, yang ikut perih.
Ini bukan sekadar gagal berangkat. Ini soal pertanggungjawaban publik. Pesparawi Nasional dibuka oleh Wakil Presisden (Wapres), kontingen dilepas resmi oleh pemerintah daerah. Lalu, saat mimpi itu dibatalkan oleh tiket yang tidak ada, siapa yang harus berdiri paling depan minta maaf? Siapa yang pesan tiket 24 Juni 2026, tapi tidak menekan tombol ”bayar”? Kenapa 27 orang dibiarkan terbang ke Jakarta dulu baru dikabari? (aji)






