Penulis: Suqyan Rahmat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sejarah
RAKYAT Ukraina sampai hari ini menderita setiap hari akibat keputusan Presidennya, yang memaksa negaranya tetap bergabung dengan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/ NATO). Yang berdampak negaranya diserang Rusia sejak tahun 2022 sampai sekarang.
Banyak kota telah hancur, jutaan orang mati sia-sia, kehidupan menjadi kacau balau, dan empat wilayah Ukraina telah menjadi milik Rusia sejak perang. Disebabkan ketidakmampuan tentara Ukraina mengalahkan tentara Rusia.
Sampai hari ini, Zelenski tetap tak mau menerima kenyataan bahwa negaranya sudah kalah perang dan terus-menerus mengorbankan tentaranya. Bahkan, beliau berteguh hati tetap ingin menggabungkan negaranya ke NATO, persekutuan tentara terbesar di dunia.
Padahal, dilihat dari sisi keterdesakan, Ukraina selama ini hidup aman dan tak pernah ada ancaman dari Rusia, setelah peristiwa Krimea. Tak ada keterdesakan Ukraina bergabung ke NATO.
Ukraina yang mau bergabung dengan NATO itu, umpamanya seperti Inggris bergabung dengan Pakta Warsawa. Begitulah dalam pandangan Rusia, sebagai tokoh utama Eropa Timur. Karena dari sisi politik, hubungan Ukraina dengan Rusia umpamanya seperti Inggris dengan Amerika.
Di samping itu, Ukraina adalah wilayah penyangga utama Rusia disisi barat Eropa. Sehingga, penggabungan itu mencemaskan Rusia bila terjadi.
Dari sisi Ukraina sebagai negara berdaulat, Rusia jelas tak berhak melarang dan mencegah Ukraina bergabung dengan NATO. Meskipun dilihat dari sisi sejarah, sikap Ukraina ini dianggap berkhianat, di mata Rusia.
Zelenski tak mempedulikan romantisme masa lalu Ukraina dengan Rusia, karena ambisi pribadinya. Beliau tak peduli Kiev dulu adalah ibukota Rusia kuno. Kepribadian Zelenski ini, menderitakan bangsa ukraina.
Sekarang… 4 tahun setelah perang terjadi, kekuatan Rusia terkini setelah zaman Soviet telah diketahui. Perang tetap tak bisa diketahui kapan akan berakhir, karena kebebalan Zelenski.
Saya sebagai pendukung Amerika, mendukung cukup negara NATO di Eropa yang berperang. Karena Amerika terlindung lautan Atlantik yang luas dan anggota NATO di Eropa adalah lawan yang seimbang untuk Rusia. Lagipula, perang ini terlalu banyak menguras duit Amerika. ***
—
Penulis adalah alumni UII yang berkeahlian di bidang Hukum Internasional. Sop kambing adalah makanan kegemarannya. Tinggal di Batam.
***) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi







