Indonesia Dorong Investasi Tiongkok Tingkatkan Nilai Tambah Industri Domestik

Indonesia Dorong Investasi Tiongkok Tingkatkan Nilai Tambah Industri Domestik
Noor Sona Maesana Mushonnif, staf khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), memberi pidato pada acara Dialog Global South: Forum Meja Bundar Tiongkok-Indonesia di Jakarta, 19 Oktober, 2026. (F. Xinhua)

Noor Sona Maesana Mushonnif, staf khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), memberi pidato pada acara Dialog Global South: Forum Meja Bundar Tiongkok-Indonesia di Jakarta, 19 Oktober, 2026. (F. Xinhua)

JAKARTA, Kepri.co.id – Xinhua – Indonesia mendorong penguatan kemitraan investasi dengan Tiongkok, mempercepat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Noor Sona Maesana Mushonnif, staf khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional, mengatakan, investasi perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai penanaman modal, tetapi juga memperkuat industri nasional dan memperluas keterlibatan pengusaha Indonesia dalam rantai pasokan industri.

Hal tersebut disampaikan Sona dalam acara Dialog Global South: Forum Meja Bundar Tiongkok-Indonesia (Global South Dialogue: China-Indonesia Roundtable Forum) di Jakarta pada Senin (19/10/2026).

Menurut Sona, Indonesia membutuhkan percepatan transformasi ekonomi dan penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang. Dalam proses tersebut, kemitraan dengan investor internasional, termasuk Tiongkok, dinilai dapat membuka peluang untuk meningkatkan kapasitas industri domestik.

Berdasarkan materi perencanaan investasi periode 2025-2029, kebutuhan investasi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp13.000 triliun untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029.

“Indonesia dan Tiongkok memiliki peluang besar untuk membangun kemitraan yang saling menguatkan. Kerja sama ini perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai investasi, tetapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri nasional, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk tumbuh bersama,” kata Sona dalam keterangannya, dikutip pada Selasa (20/10/2026).

Dia menuturkan, hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok telah berkembang melalui kerja sama di berbagai sektor, termasuk pengolahan mineral, rantai pasok baterai kendaraan listrik, dan manufaktur. Nilai investasi kumulatif Tiongkok di Indonesia selama periode 2021-2025 tercatat mencapai sekitar 34,44 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp18.006).

Ke depan, peluang kerja sama kedua negara dinilai dapat diperluas ke sektor energi terbarukan, ekonomi digital, kesehatan, ketahanan pangan, serta hilirisasi perkebunan, perikanan, dan kelautan.

Sona menekankan bahwa pengembangan sektor-sektor tersebut perlu disertai peningkatan keterlibatan pengusaha nasional agar manfaat investasi dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha domestik.

Menurut dia, percepatan hilirisasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pengusaha nasional. Upaya tersebut penting untuk membangun ekosistem usaha yang kuat sekaligus memastikan investasi berkontribusi terhadap pengembangan industri dalam negeri.

Dia mengatakan bahwa pengusaha nasional dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu memperoleh akses lebih luas untuk menjadi pemasok bagi industri, mulai dari penyediaan barang, jasa pemeliharaan, dan logistik hingga komponen produksi.

Untuk mendukung hal tersebut, perusahaan besar perlu memberikan penjelasan mengenai standar kebutuhan industri, sementara pemasok lokal perlu mendapatkan pendampingan agar mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Sona menambahkan bahwa kemitraan industri yang berkelanjutan membutuhkan hubungan bisnis yang jelas, peningkatan kualitas pemasok lokal, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri.

Dengan demikian, investasi tidak hanya menghadirkan modal dan teknologi, tetapi juga berpotensi memperkuat kemampuan industri serta meningkatkan daya saing pelaku usaha nasional.

Dia juga menegaskan, penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok perlu berlandaskan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan manfaat bersama.

Menurut Sona, kemitraan kedua negara diharapkan tidak berhenti pada realisasi investasi, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama jangka panjang yang mendukung transformasi ekonomi Indonesia dan pertumbuhan yang inklusif.

“Hubungan Indonesia dan Tiongkok memiliki ruang besar untuk terus diperkuat. Dengan menghubungkan investasi, teknologi, kebutuhan industri, dan kapasitas pengusaha nasional, kita ingin memastikan bahwa kemitraan ini memberikan manfaat nyata bagi kedua negara sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia,” pungkasnya. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Utusan Indonesia untuk Tiongkok Promosikan Peluang Investasi Hijau dan Digital

Indonesia Jajaki Investasi China di Sektor Energi Surya hingga Kendaraan Roda Dua

Realisasi Investasi Asal China di Indonesia Naik 22 Persen pada Q1 2026

Dari Pertambangan Nikel hingga Produksi EV, Investasi China Dorong Pengembangan Rantai Pasokan EV Terintegrasi di Indonesia

Danatara dan GEM Asal China Kerja Sama Proyek Smelter Nikel 1,42 Miliar Dolar AS