WUHAN (Kepri.co.id – Xinhua) – Mengunjungi proyek-proyek konservasi air Sungai Yangtze, meneliti kawasan industri pertanian, dan meninjau perusahaan-perusahaan teknologi tinggi.
Baru-baru ini, delegasi yang terdiri dari lebih dari 20 orang dari Kementerian Transmigrasi RI, melakukan perjalanan dari Yichang ke Wuhan di Provinsi Hubei, China tengah, untuk merasakan langsung vitalitas ekonomi Hubei dan mencari peluang kerja sama serta pembangunan.
“Perkembangan pesat China sungguh menakjubkan,” ujar Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman, “Indonesia bersedia bekerja sama dengan China dan yakin kita dapat bergerak lebih cepat dan lebih jauh.”
Seiring dengan semakin eratnya kerja sama Indonesia-China, pertukaran antara Hubei dan Indonesia semakin erat. Hubei saat ini memiliki 284 proyek yang sedang berjalan di Indonesia, dengan nilai kontrak kumulatif melebihi 11 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.580) dan investasi kumulatif hampir 400 juta Dolar AS.
Dari Januari hingga Agustus 2025 ini, nilai impor dan ekspor Hubei dan Indonesia mencapai 23,4 miliar Yuan (1 Yuan = Rp2.326), meningkat lebih dari 51 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di ruang pameran Hubei Angel Biotechnology Group Co Ltd, delegasi Indonesia terpesona oleh proses produksi cerdas untuk berbagai macam produk. Mulai dari fermentasi roti, penyedap rasa, hingga produksi pupuk dan pakan.
Pimpinan perusahaan tersebut menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Angel telah menginvestasikan lebih dari 1 miliar Yuan per tahun untuk penelitian dan pengembangan.
Produk unggulannya, Angel Yeast, memiliki pangsa pasar global lebih dari 20 persen, dan memproduksi 150.000 Ton bumbu dapur setiap tahunnya, yang banyak digunakan dalam kecap, sup, dan produk daging di seluruh dunia.
Yuyo Budianto, anggota delegasi ahli dari Kementerian Perhubungan, mengabadikan foto dengan ponselnya sembari mendengarkan presentasi. “Inovasi serta penelitian dan pengembangan (litbang) merupakan mesin inti pembangunan industri, kisah perkembangan Angel sepenuhnya menunjukkan bahwa ekspansi global membutuhkan fokus pada litbang dan inovasi berkelanjutan,” ujarnya.

Delegasi tersebut mengunjungi kantor pusat Gezhouba Group di Wuhan. Berpartisipasi dalam pembangunan Bendungan Tiga Ngarai, mendukung Proyek Pengalihan Air Selatan ke Utara, dan berinvestasi dalam proyek infrastruktur global, sejarah perkembangan dan praktik global perusahaan ini tersaji dengan jelas di hadapan delegasi.
Pada 25 September lalu, upacara peletakan batu pertama proyek fotovoltaik terapung berkapasitas 60 Megawatt di Waduk Saguling di Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang dikerjakan oleh China Gezhouba Group Co Ltd telah dilaksanakan.
Proyek ini merupakan yang pertama diluncurkan dalam kerangka rencana kelistrikan baru Indonesia (2025-2034). Setelah beroperasi, proyek ini diharapkan dapat menghasilkan 129 juta Kilowatt-jam listrik per tahun, menghemat 56.000 Ton batu bara standar, dan mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 149.000 Ton.
“China tengah mengubah sungai menjadi energi dan mewujudkan cetak biru,” ujar Ernadi Sudarmanto Sudarsono, selaku penasihat menteri transmigrasi. Sudarsono menyampaikan rasa terima kasihnya, dengan mengatakan bahwa wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur memiliki potensi tenaga air yang sangat besar dan dengan tulus mengundang perusahaan-perusahaan China untuk berinvestasi di Indonesia dan bersama-sama membangun fasilitas tenaga air.

Beras juga menjadi fokus utama kunjungan tersebut. Setibanya di pusat penelitian dan demonstrasi padi hibrida milik Wuhan Guoying Seed Co Ltd di Distrik Huangpi, Wuhan, para delegasi disambut oleh hamparan sawah keemasan yang membentang luas. Sebagai makanan pokok yang tak tergantikan di meja makan masyarakat Indonesia, pemandangan bulir-bulir padi yang terisi penuh di setiap tangkai membuat para delegasi merasa terkesan.
“Di Indonesia, beberapa provinsi memiliki hasil panen padi sedikitnya dua ton per Hektare, tetapi di Wuhan, kami telah menemukan solusi untuk meningkatkan hasil panen,” kata Jeffrey Anthony Saplet, seorang perencana di Biro Umum dan Layanan Pengadaan Kementerian Transmigrasi RI.
Dia menyampaikan, Indonesia saat ini sedang gencar mempromosikan swasembada pangan, dan akan bekerja sama dengan otoritas pertanian lainnya untuk mengundang peneliti pertanian China melakukan kunjungan lapangan guna memperdalam kerja sama dalam industri benih padi dan membantu meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia.

Kerja sama medis, komunitas cerdas, pertukaran pendidikan. Selama kunjungannya, buku catatan Menteri Iftitah dipenuhi pengamatan dan refleksinya. “Pembangunan China bersifat sistematis dan berkelanjutan, dengan berbagai sektor maju secara paralel dan saling mendukung. Hal ini layak untuk dipelajari,” ujarnya.
Di pemberhentian terakhir, Universitas Normal China Tengah (Central China Normal University), Iftitah tetap enggan beranjak, bahkan setelah menyampaikan pidato utamanya, berbicara dengan tulus kepada para mahasiswa melalui mikrofon.
Dia berkata, “Indonesia adalah negara yang dinamis. Saya berharap, Anda akan datang untuk bekerja di Indonesia dan menyumbangkan kearifan China bagi pembangunan Indonesia.” (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Wakil Kepala BP Batam Dampingi Mentrans Kunker Hari Kedua di Kawasan Rempang
Mentrans Temu Warga Rempang, Iftitah: Tak Ada Paksaan Transmigrasi Lokal
Li Claudia Salurkan Bantuan dan Sumbangan Pembangunan di Rempang Eco City
Kepala BP Batam Dampingi Menteri Transmigrasi RI Serahkan 94 SHM ke Warga Rempang







