JAKARTA (Kepri.cos.id – Xinhua) – Indonesia sedang mencari investor, mendanai proyek energi ramah lingkungan dan terbarukan, guna mendukung agenda negara memerangi perubahan iklim dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto, mengatakan, dalam sebuah acara belum lama ini, Indonesia membidik pendanaan investasi hijau sekitar 281 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.203) sebagai bagian dari total 1,1 triliun Dolar AS yang dibutuhkan mencapai emisi nol bersih tahun 2060.
Baca Juga: Indonesia dan China Jajaki Peluang Kerja Sama Energi Nuklir
Sebagai bagian dari upaya menarik investor asing, pemerintah Indonesia menawarkan 21 proyek infrastruktur hijau berkelanjutan. Sebanyak 19 proyek di antaranya terkait dengan proyek jalur pipa.
Airlangga mengatakan, dua proyek yang siap investasi adalah Green Refinery Cilacap di Cilacap dan Green Refinery Plaju di Sumatra Selatan, yang masing-masing bernilai 860 juta Dolar AS.
“Investasi pada energi ramah lingkungan dan terbarukan, akan memberikan dukungan terhadap energi bersih dan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia,” kata sang menteri di Jakarta.
Selain proyek pipa, Indonesia juga fokus pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara nasional, untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang jumlahnya terbatas dan menimbulkan polusi.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, telah menawarkan 12 proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi kepada investor, yang membutuhkan total investasi hingga 2,16 miliar Dolar AS. Kapasitas proyek-proyek ini berkisar antara 15 hingga 60 MegaWatt (MW).
Baca Juga: Energi Terbarukan PLTS Dimatangkan, BP Batam dan Kementerian ESDM Tinjau Ketahanan Energi Listrik
Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM RI, Eniya Listiani Dewi, mengatakan, pemerintah saat ini sedang mendata seluruh potensi yang ada di Indonesia.
“Panas bumi dan tenaga air terbuka untuk semua investasi,” ujar Eniya di Jakarta, Selasa (16/7/2024).
Secara terpisah, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) RI, Rachmat Kaimuddin, mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral, bahan-bahan utama yang digunakan dalam industri hilir energi terbarukan serta produksi teknologi transisi energi.
“Dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan yang kita miliki, tujuan kita tidak hanya memenuhi target emisi, tetapi juga menjadikan Indonesia pemimpin dalam teknologi energi hijau dan terbarukan. Guna mewujudkan visi tersebut, pemerintah memiliki tanggung jawab besar menarik investasi yang sesuai potensi ekonomi dan komitmen iklim Indonesia,” ungkapnya dalam sebuah rilis pers.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menyoroti potensi besar Indonesia di sektor energi ramah lingkungan dan terbarukan, menggarisbawahi bahwa Indonesia mempunyai kapasitas solusi berbasis alam terbesar kedua di dunia setelah Brasil, dengan kapasitas hingga 1,5 GtCO2 per tahun.
“Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan sebesar 3.686 GW (gigawatt), terdiri dari tenaga surya sebesar 3.295 GW, tenaga air 95 GW, bioenergi 57 GW, tenaga angin 155 GW, energi panas bumi 24 GW, dan energi laut 60 GW. Namun, hanya 12,54 MW (megawatt) dari kapasitas tersebut yang dimanfaatkan,” kata Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Kemaritiman, Investasi, dan Luar Negeri Kadin, Shinta Widjaja Kamdani dalam sebuah pernyataan.
“Dengan mengembangkan potensi tersebut, Indonesia dapat memiliki lebih dari 1,1 terawatt kapasitas energi terbarukan, dan dapat menjadi pemimpin dalam transisi global menuju energi terbarukan,” imbuhnya. (asa/ xinhua-news.com)







