PANGGUNG kehidupan adalah sebuah auditorium luas tanpa atap, tempat miliaran manusia memainkan lakonnya masing-masing dengan mengenakan topeng terbaik yang mereka miliki. Ada yang pandai merangkai senyum demi simpati, meneteskan air mata demi perhatian, dan menebarkan pujian demi memperoleh pengakuan. Semua seolah menjadi aktor yang piawai memainkan peran, menari di bawah lampu sorot yang gemerlap, meskipun sesungguhnya mereka tahu bahwa panggung ini tidak pernah abadi.
Suatu saat, lampu akan padam, tepuk tangan akan berhenti, dan tirai kehidupan akan diturunkan tanpa seorang pun mampu menahannya. Ironisnya, di tengah kesadaran bahwa hidup memiliki batas, masih banyak manusia yang begitu takut kehilangan pujian sesama, tetapi justru tidak pernah takut kehilangan kejujuran.
Kebenaran tidak lagi ditimbang dengan neraca objektivitas, melainkan dijahit mengikuti ukuran kepentingan. Ada yang memainkan peran dengan tulus, ada pula yang sekadar berpura-pura, bahkan rela mengorbankan kebenaran demi mempertahankan citra dan kekuasaan.
Lebih dari empat dekade silam, Ahmad Albar melalui lagu legendarisnya menyampaikan sebuah penggalan lirik yang hingga hari ini terasa semakin relevan, ”Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, ada peran wajar, ada peran berpura-pura.” Sebuah metafora sederhana, tetapi menyimpan kritik sosial yang begitu dalam.
Apa yang dahulu terdengar sebagai ungkapan puitis, kini seakan menjelma menjadi potret kehidupan sehari-hari. Menang dan kalah tidak selalu ditentukan oleh kualitas, integritas, dan ketulusan, tetapi sering kali oleh kelihaian membangun pencitraan serta memanipulasi persepsi. Fakta yang objektif dapat digeser menjadi penilaian subjektif, hanya karena tidak sesuai dengan kepentingan kelompok.
Kinerja yang nyata terkadang kalah oleh penampilan yang memikat, sementara mereka yang pandai mempertontonkan kesibukan justru memperoleh panggung lebih luas daripada mereka yang sungguh-sungguh bekerja. Yang berpeluh di balik layar tidak selalu mendapatkan penghargaan, sedangkan yang sibuk mengatur sorotan kamera terkadang tampil sebagai pahlawan.
Sungguh menggelikan ketika slogan kehebatan diteriakkan begitu lantang, seolah tidak ada manusia lain yang lebih baik, padahal kehebatan sejati tidak membutuhkan pengumuman berulang-ulang. Sebab, kualitas akan menemukan pengakuannya sendiri, sementara kesombongan hanyalah kostum yang suatu saat harus dilepaskan.
Gemerlap dunia, pujian, popularitas, dan pengakuan yang terus dikejar perlahan dapat membuat manusia kehilangan kewaspadaan batin. Mata masih terbuka, tetapi hati mulai tertidur. Akal masih bekerja, tetapi nurani tidak lagi diberi kesempatan berbicara. Manusia sibuk membangun istana kebanggaan melalui harta, jabatan, pengikut, dan keturunan, seolah semua itu dapat menjadi jaminan keabadian. Padahal, tidak lebih dari perhiasan sementara yang sewaktu-waktu dapat ditinggalkan.
Alquran dalam Surah Al-An’am ayat 32 telah mengingatkan dengan sangat santun sekaligus menohok, ”Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” Peringatan serupa kembali ditegaskan dalam Surah Al-’Ankabut ayat 64, ”Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
Kedua ayat ini bukan ajakan meninggalkan kehidupan dunia, melainkan peringatan agar manusia tidak keliru menempatkan dunia sebagai tujuan akhir. Bekerjalah, berkaryalah, berjuanglah, dan raihlah keberhasilan, tetapi jangan sampai semua itu membuat kita kehilangan arah, menghalalkan segala cara, serta melupakan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Lebih jauh, Surah Al-Hadid ayat 20 menggambarkan dengan sangat indah sekaligus menggetarkan tentang hakikat kehidupan dunia, ”Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
Allah kemudian mengumpamakan kehidupan itu seperti hujan yang menumbuhkan tanaman hingga membuat para petani kagum melihat keindahannya. Namun, tidak selamanya tanaman itu menghijau. Ada saatnya ia mengering, menguning, kemudian hancur dan diterbangkan angin. Begitulah kehidupan manusia. Apa yang hari ini dibanggakan, esok bisa menjadi kenangan. Apa yang hari ini diperebutkan, kelak mungkin tidak lagi berarti.
Jabatan yang dahulu membuat seseorang dihormati akan berakhir, kekayaan yang dibela dengan segala cara akan berpindah tangan, dan popularitas yang dibangun dengan susah payah perlahan menghilang. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menggambarkan manusia di dunia seperti orang yang sedang tidur. Mereka bermimpi menggenggam harta dan kekuasaan, lalu merasa telah memperoleh kemenangan.
Namun, ketika kematian datang, mereka terbangun dan menyadari bahwa semua yang dibanggakan itu tidak ikut dibawa. Sebuah renungan yang seharusnya membuat kita lebih rendah hati, bukan semakin tinggi hati.
Dalam kehidupan sosial, berbangsa, berorganisasi, maupun menjalankan amanah publik, kebenaran semestinya menjadi fondasi, bukan barang dagangan yang nilainya berubah mengikuti kepentingan. Karena itu, agama mengajarkan pentingnya tabayyun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi.
Surah Al-Hujurat ayat 6 memberikan peringatan yang sangat tegas, ”Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” Ayat ini bukan sekadar pedoman menerima berita, tetapi juga menjadi rem moral, agar manusia tidak tergesa-gesa menghakimi, memutarbalikkan fakta, menyebarkan fitnah, atau membenarkan sesuatu hanya karena berasal dari kelompok yang disukainya.
Rasulullah SAW juga mengingatkan melalui hadis riwayat Imam Ahmad tentang datangnya tahun-tahun penuh tipu daya, ketika pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, dan orang yang amanah justru dikhianati. Ketika ditanya tentang siapa Ruwaibidhah, Rasulullah menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang bodoh yang turut berbicara dan mencampuri urusan masyarakat luas.
Peringatan ini terasa begitu dekat dengan realitas ketika kebisingan lebih dihargai daripada kebijaksanaan, keberanian berpendapat tidak diimbangi keluasan pengetahuan, dan popularitas dianggap lebih penting daripada kapasitas serta integritas. Tidak semua yang lantang berbicara memahami persoalan, sebagaimana tidak semua yang diam berarti tidak memiliki kemampuan.
Bagi jiwa yang berusaha menjaga iman dan kejernihan nurani, dunia terkadang terasa seperti penjara karena begitu banyak godaan yang harus ditahan, keinginan yang harus dikendalikan, dan ketidakadilan yang harus dihadapi tanpa kehilangan akhlak. Sebaliknya, bagi mereka yang menjadikan kesenangan sebagai tujuan tertinggi, dunia mungkin terasa seperti surga yang tidak ingin ditinggalkan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Hadis ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah ukuran kebahagiaan dan kemenangan yang sesungguhnya. Prof Dr KH Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, mengajak kita memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan tidak boleh mengaburkan orientasi manusia terhadap kehidupan akhirat.
Popularitas, pengaturan opini, dan kepiawaian membangun citra tidak dapat menggantikan kebenaran yang sesungguhnya. Senada dengan itu, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan tentang kefanaan dunia dan pentingnya menjadikan iman serta amal sebagai bekal kehidupan.
Kepalsuan mungkin dapat disusun sedemikian rapi, sehingga terlihat meyakinkan di mata manusia, tetapi tidak ada rekayasa yang mampu menghindarkan seseorang dari keadilan Allah. Sebab, manusia boleh saja tertipu oleh penampilan, tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di balik setiap perkataan, tindakan, dan niat.
Ketika tirai kehidupan benar-benar diturunkan, napas terakhir mulai tersengal di tenggorokan, tidak ada lagi panggung untuk mempertontonkan kehebatan, tidak ada penonton untuk memberikan tepuk tangan, dan tidak ada kamera untuk mengabadikan pencitraan. Semua akan pergi meninggalkan kita. Jabatan, kekayaan, popularitas, pujian, bahkan orang-orang yang dahulu mengelilingi kita tidak akan mampu menggantikan pertanggungjawaban pribadi di hadapan Sang Pemilik Kehidupan.
Saat itulah, seluruh topeng harus dilepaskan, segala kepura-puraan kehilangan makna, dan setiap peran yang pernah dimainkan akan diperhitungkan. Maka, sebelum lampu sorot itu padam, masih ada waktu untuk memperbaiki lakon. Tidak perlu menjadi manusia paling hebat di mata semua orang, cukup menjadi manusia yang jujur dalam menjalankan amanah, adil dalam menilai, bijaksana dalam berbicara, dan tulus dalam berbuat.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengatur tepuk tangan manusia hingga lupa mempersiapkan diri menghadapi pengadilan Allah. Sebab, kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi aktor terbaik di atas panggung dunia, melainkan perjalanan untuk menjadi manusia yang pantas mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya di hadapan Sang Khalik. ***







