Sekali Pindai QR Code, Kisah Pasar Bahulak Terbuka: Gerbang Wisata Karungan Kini Hadirkan Brand Story Digital

KKN Universitas Slamet Riyadi Surakarta bersama Pemerintah Desa Karungan menunjukkan QR Code yang terhubung dengan Brand Story Pasar Bahulak, sebagai upaya memperkenalkan sejarah dan potensi wisata Desa Karungan melalui media digital. (Sumber: Dok Pribadi Heni Nur Utami)

Penulis: Heni Nur Utami
Mahasiswa Universitas Slamet Riyadi Surakarta

SEBUAH QR (Quick Response) Code kini terpasang di gerbang wisata Pasar Bahulak, Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Bukan sekadar ornamen digital, kode tersebut menjadi pintu masuk bagi pengunjung untuk mengenal sejarah, filosofi, daya tarik, hingga potensi masyarakat yang menjadi bagian dari identitas Pasar Bahulak.

Inovasi tersebut, dihadirkan melalui kolaborasi Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi Surakarta bersama Pemerintah Desa Karungan sebagai bagian dari upaya digitalisasi informasi wisata desa. Dengan hanya memindai QR Code menggunakan telepon seluler, pengunjung dapat mengakses Brand Story Pasar Bahulak, yang dikemas sebagai media informasi digital mengenai cerita dan identitas pasar budaya tersebut.

Kehadiran QR Code di gerbang wisata menjadi langkah sederhana untuk mengubah fungsi gerbang Pasar Bahulak. Jika sebelumnya gerbang hanya menjadi penanda kawasan wisata, kini pengunjung dapat menggunakannya sebagai akses awal untuk mengenal lebih jauh tempat yang mereka kunjungi.

Dari Satu QR Code, Mengenal Sejarah Pasar Bahulak

Brand Story yang terhubung dengan QR Code, memuat informasi mengenai perjalanan dan identitas Pasar Bahulak. Pengunjung dapat mengetahui bagaimana Pasar Bahulak dibangun dengan semangat menghidupkan kembali suasana kehidupan masyarakat pada zaman dahulu.

Nama ”Bahulak” sendiri merujuk pada istilah yang bermakna zaman dahulu. Konsep tersebut, kemudian diwujudkan melalui berbagai unsur tradisional, mulai dari penggunaan koin batok kelapa sebagai alat tukar, permainan tradisional, kuliner khas, hingga kesenian lokal.

Informasi yang sebelumnya hanya dapat diperoleh melalui cerita masyarakat atau Ketika berada langsung di lokasi, kini dikemas dalam bentuk digital. Hal ini membuat cerita Pasar Bahulak lebih mudah diakses, dibagikan, dan diperkenalkan kepada masyarakat di luar Desa Karungan.

Gerbang Wisata Menjadi Pintu Masuk ke Ruang Digital

Pemanfaatan QR Code dipilih karena relatif sederhana dan mudah digunakan. Pengunjung cukup membuka kamera atau aplikasi pemindai QR Code pada telepon seluler, kemudian diarahkan menuju halaman digital Brand Story Pasar Bahulak.

Konsep tersebut menjadi bentuk pemanfaatan teknologi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Digitalisasi tidak mengubah karakter tradisional Pasar Bahulak, tetapi justru digunakan sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai tradisi tersebut dengan cara yang lebih relevan bagi masyarakat saat ini.

Kepala Desa Karungan serta jajaran BUMDES desa Karungan, turut mendukung adanya inovasi digital tersebut, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi desa. Kehadiran media digital juga diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Mereka tidak hanya melihat berbagai aktivitas dan ornamen tradisional di Pasar Bahulak, tetapi dapat memperoleh informasi mengenai makna dan sejarah yang menyertainya.

Cerita UMKM Lokal Ikut Masuk Ruang Digital

Tidak berhenti pada sejarah dan budaya, Brand Story Pasar Bahulak juga memperkenalkan potensi ekonomi masyarakat Desa Karungan. Salah satunya adalah INDIL (Intip Kendil), produk olahan intip yang memiliki keterkaitan dengan tradisi memasak nasi menggunakan kendil.

Dengan dimasukkannya informasi mengenai INDIL dalam Brand Story, digitalisasi Pasar Bahulak sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan produk lokal kepada pengunjung dan masyarakat yang mengakses informasi tersebut secara daring.

Digitalisasi gerbang wisata melalui QR Code menjadi salah satu langkah untuk memperkuat identitas Pasar Bahulak di tengah perkembangan teknologi. Teknologi dimanfaatkan bukan untuk menggantikan pengalaman tradisional yang menjadi daya tarik utama pasar, melainkan untuk membuat cerita di baliknya lebih mudah ditemukan.

Tim KKN Universitas Slamet Riyadi Surakarta bersama Pemerintah Desa Karungan, berharap, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari promosi digital Pasar Bahulak dan potensi Desa Karungan.

Kini, gerbang Pasar Bahulak bukan hanya menjadi tanda bahwa pengunjung telah memasuki kawasan wisata. Satu QR Code di gerbang tersebut menjadi pintu menuju cerita—tentang sejarah, tradisi, budaya, dan potensi masyarakat Desa Karungan yang dikemas dalam ruang digital. ***