Merdeka dari Penjilat dan Pengkhianat: Refleksi HIT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia
SAUDARAKU sekalian yang dirahmati Allah. Ada penyakit hati yang lebih berbahaya daripada kebohongan yang tampak di permukaan: menjadi bermuka dua.
Di depan tampak setia, ramah, dan memuji setinggi langit, tetapi di belakang berubah menjadi sebaliknya. Inilah yang dalam Islam dikenal sebagai dzul wajhain, manusia bermuka dua.
Kepada yang berkuasa ia menyanjung tanpa batas, tetapi ketika kepentingan berubah, pujian itu berubah menjadi celaan. Kesetiaan berubah menjadi pengkhianatan.
Yang dipuji bukan karena kebenaran, tetapi karena kekuasaan dan kepentingan. Di sinilah pujian kehilangan kemuliaannya dan berubah menjadi alat penjilatan.
Rasulullah SAW telah memperingatkan keras tentang pujian yang berlebihan dan tidak jujur, karena ia bukan penghormatan, melainkan bisa menjadi racun bagi yang memuji maupun yang dipuji.
Orang yang dikelilingi penjilat akan kehilangan cermin kebenaran. Ia hanya mendengar apa yang ingin ia dengar, bukan apa yang benar.
Akibatnya, kesalahan dianggap kebenaran, dan kebenaran dianggap gangguan. Orang yang jujur justru tersingkir, sementara yang pandai menyenangkan hati justru diangkat.
Inilah bahaya terbesar penjilatan: ia membunuh kejujuran dan melahirkan kebutaan moral.
Penjilat biasanya tidak berdiri sendiri. Ia memiliki saudara kembar: pengkhianat. Pengkhianat tidak selalu datang dengan wajah garang, tetapi sering dengan senyum dan kata-kata manis. Ia tidak selalu tampak sebagai musuh, justru sering berada paling dekat dengan yang dikhianatinya.
Hari ini kita masih mudah menemukannya: di depan atasan ia paling lembut, di belakang ia paling keras mencaci. Di depan kekuasaan ia paling loyal, tetapi ketika kekuasaan bergeser, loyalitasnya ikut berganti. Hari ini ia memuji setinggi langit, besok ia menjadi orang pertama yang merendahkan.
Prinsipnya sederhana: selama ada keuntungan, ia setia. Ketika keuntungan hilang, ia berpindah arah. Inilah wajah penjilatan dan pengkhianatan.
Alquran telah mengingatkan tentang orang-orang yang bermuka dua dan berpenyakit hati, serta ancaman bagi mereka yang mengkhianati amanah.
Rasulullah SAW juga menegaskan, tanda kemunafikan adalah berdusta, mengingkari janji, dan berkhianat ketika dipercaya.
Namun, yang lebih penting untuk direnungkan: jangan cepat menunjuk orang lain. Karena cermin ini pertama-tama untuk diri sendiri. Kita semua bisa tergoda oleh jabatan, pujian, dan kepentingan.
Pertanyaannya bukan hanya: siapa penjilat di sekitar kita? Tetapi juga: jangan-jangan kita sedang belajar menjadi penjilat?
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, mengingatkan kita bahwa bangsa ini tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari pengorbanan panjang.
Namun, sejarah juga mencatat, di setiap masa perjuangan selalu ada mereka yang memilih jalan aman dengan menjilat kekuasaan, dan mengkhianati bangsanya sendiri.
Artinya, musuh bangsa tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam: dari mentalitas penjilatan dan pengkhianatan.
Dulu mereka menjilat penjajah demi kedudukan. Kini bisa saja menjilat kekuasaan demi jabatan. Dulu mereka mengkhianati bangsa demi perlindungan. Kini, bisa saja mengkhianati demi kepentingan pribadi. Bentuknya berubah, tetapi jiwanya sama.
Karena itu, kemerdekaan tidak cukup dijaga dari luar, tetapi juga dari dalam diri bangsa sendiri.
Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari menjadi budak pujian, budak jabatan, dan budak kepentingan. Merdeka berarti berani berkata benar, meski tidak populer.
Berani menolak yang salah, meski berisiko. Dan berani tidak menjadi penjilat meski berada di dekat kekuasaan.
Sebab penjilat mungkin dekat dengan penguasa, tetapi jauh dari kemuliaan. Pengkhianat mungkin mendapat keuntungan sesaat, tetapi kehilangan kehormatan selamanya.
Pada akhirnya, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan pujian akan hilang. Yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban atas amanah.
Maka di usia 81 tahun kemerdekaan ini, kita perlu bertanya: apakah kita sedang meneruskan nilai para pahlawan, atau justru mengkhianati semangat mereka?
Para pahlawan tidak berjuang agar kita menjadi bangsa penjilat. Mereka berjuang agar kita menjadi bangsa yang bermartabat, berani, dan jujur.
Karena itu, jangan menjadi penjilat di hadapan kekuasaan. Jangan menjadi pengkhianat terhadap amanah. Jadilah manusia yang teguh pada kebenaran, meski sendirian.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari penjilat dan pengkhianat, tetapi bangsa yang mampu menolak dan mengalahkan keduanya dengan kejujuran, keberanian, dan integritas.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dari penjajahan. Merdeka dari ketakutan. Dan terutama, merdeka dari menjadi manusia yang kehilangan prinsip karena kekuasaan. ***







