Jelang Harsiarnas 2003, Hasan: Siaran Lokal di Daerah Perbatasan Dorong Nasionalisme

Kadiskominfo Kepri, Hasan SSos diwawancarai host RRI terkait kesiapan Provinsi Kepri menjadi tuan rumah Harsiarnas ke-90 Tahun 2023 dan Rakornas Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Kantor RRI Tanjungpinang, Kamis (13/7/2023). (F. dok humas bp batam)

TANJUNGPINANG (Kepri.co.id) – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo) Provinsi Kepri, Hasan SSos, berharap Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke-90 Tahun 2023 dan Rakornas Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang direncanakan tanggal 15 Juli 2023 di Tugu Sirih Tanjungpinang, berjalan sukses sebagai tuan rumah.

Jelang kick-off persiapan Harsiarnas Tahun 2023 dan Rakornas KPI dengan tema “Dari Perbatasan Bangun Siaran Ramah, Bermartabat dan Berbudaya”, Hasan secara khusus menghadiri talkshow bersama RRI Tanjungpinang, Kamis (13/7/2023).

Baca Juga: Siaran Sehat Pemilu Bermartabat, Ansar Pimpin Rapat Persiapan Kepri Tuan Rumah Hasiarnas ke-90

Talkshow ini, untuk mensosialisasikan pentingnya penyiaran di daerah perbatasan dan kesiapan Provinsi Kepri menghelat Harsiarnas ke-90 Tahun 2023. Dipandu Apriyani sebagai host, talkshow tersebut menghadirkan Komisioner KPI Pusat, Mimah Susanti dan Komisioner KPID Provinsi Kepri, Tito Suwandy.

Penyiaran di daerah perbatasan sangat penting, untuk menjaga ketahanan nasional di wilayah tersebut. Adanya siaran lokal maupun nasional di daerah perbatasan, akan mendorong rasa nasionalisme masyarakat di perbatasan untuk cinta kepada negara.

Kadis Kominfo Provinsi Kepri, Hasan SSos diwawancarai host RRI Tanjungpinang, Apriyani terkait kesiapan Provinsi Kepri sebagai tuan rumah Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke-90 Tahun 2023 dan Rakornas Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Tanjungpinang, Kamis Kamis (13/7/2023). (F. dok humas pemprov kepri)

Hasan menyebutkan, salah satu alasan utama pemerintah Indonesia menyegerakan sistem baru penyiaran ASO (Analog Switch Off) yang diganti dengan televisi digital, untuk daerah-daerah seperti ini (perbatasan, terdepan, terpencil dan tertinggal).

Tujuannya, agar masyarakat yang tinggal di perbatasan mudah mengakses siaran domestik. Sehingga, ketahanan nasional di wilayah itu dapat terjaga.

“Dengan kehadiran televisi digital, diharapkan arus informasi dari sumber-sumber kredibel dapat diverifikasi, maupun informasi layanan pemerintah untuk masyarakat dapat tersampaikan dengan baik, dengan menyeimbangkan arus informasi dari berbagai media,” ujar Hasan.

Hasan juga menekankan, penyiaran di daerah perbatasan mempunyai peran strategis. Untuk itu, penyiaran di kawasan perbatasan perlu ditangani secara sungguh-sungguh, secara holistik untuk menciptakan keamanan di wilayah perbatasan negara.

“Siaran merupakan sarana informasi khususnya bagi publik, untuk memahami segala informasi yang ada. Keberadaan KPI menjadi leading sector-nya. Inovasi KPI, dapat memberikan lagi suasana penyiaran yang menyeluruh dan mudah dijangkau,” ujar Hasan.

Sementara itu, Mimah Susanti menyampaikan, daerah perbatasan sudah semestinya menjadi perhatian pemerintah pusat dalam hal keterjangkauan siaran.

Hal tersebut, menjadi salah satu alasan utama Provinsi Kepri dipilih menjadi tuan rumah Harsiarnas ke-90 Tahun 2023. Dengan begitu, peringatan Harsiarnas dan Rapat Koordinasi Nasional KPI dapat menghasilkan gagasan dan kebijakan baru, untuk menjamin daerah perbatasan mendapatkan penyiaran nasional.

Setidaknya, ada tiga nilai strategis dari kehadiran penyiaran digital di daerah perbatasan negara. Pertama, dari perspektif keamanan dan kedaulatan negara.

Kedua, pengukuhan nilai-nilai dan wawasan kebangsaan. Ketiga, peningkatan kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia kita.

“Kita ingin teman-teman KPI dan pemerintah pusat datang ke Kepri, untuk melihat situasi penyiaran di perbatasan seperti apa. Ke depan, kita akan membangun citra positif untuk penyiaran,” kata Mimah Susanti.

Adapun Tito Suwandy juga sepakat dengan apa yang disampaikan Mimah Susanti. Dirinya menyebutkan, persoalan terbatasnya penyiaran di Kepri, tidak hanya meliputi Natuna dan Anambas yang memang ada di perbatasan.

Namun, daerah seperti Batam yang sudah maju juga masih ada beberapa pulau yang tidak mendapatkan penyiaran dari Indonesia.

“Kalau kita cek sekarang itu, pulau-pulau hinterland di Batam seperti Pulau Kasu, masih susah dapat siaran Indonesia, ini yang menjadi tugas kita, jangan sampai tidak ada siaran nasional malah menggerus rasa nasionalisme mereka,” kata Tito. (hen)