Rumahitam, Puisi, dan Jiwa Kota: Merawat Rindu di Tengah Riuhnya Menara Industri

”Hidup hanya menunda kekalahan.” — Chairil Anwar

SELAMAT datang di Batam, kota yang tumbuh dari peluh, deru mesin, gemuruh industri, dan mimpi-mimpi yang diukur melalui angka investasi.

Di sini, pagi kerap dimulai sebelum matahari benar-benar terjaga, sementara malam baru menemukan sunyinya ketika manusia selesai bergulat dengan target pekerjaan dan tuntutan kehidupan.

Waktu terasa semakin mahal, secangkir kopi menjadi teman singgah untuk mengusir penat, dan kesibukan seolah menjelma irama yang tidak pernah selesai dimainkan.

Di antara gedung-gedung yang menjulang, persoalan kota masih menunggu jawaban: sampah, banjir, polusi, air bersih, serta kegelisahan sosial yang sesekali membuat hati terasa sesak.

Batam terus membangun tubuhnya, tetapi ada pertanyaan yang patut direnungkan: apakah di tengah pertumbuhan itu masih tersedia ruang bagi jiwa manusia untuk bernapas?

Sebab kota tidak hanya membutuhkan bangunan yang tinggi, pelabuhan yang sibuk, dan investasi yang terus bertambah, tetapi juga manusia yang tidak kehilangan kepekaan.

Ada kesedihan yang tidak selesai dengan gaji bulanan, kerinduan yang tidak terbayar oleh kemewahan, dan kegelisahan yang tidak selalu menemukan jawabannya dalam angka-angka ekonomi.

Barangkali di situlah seni menemukan tempatnya: menjadi rumah bagi perasaan yang tidak sempat diucapkan oleh manusia, yang terlalu sibuk mengejar kehidupan.

Di tengah riuhnya kota industri, seni sering terdengar seperti bisikan kecil yang kalah oleh kebisingan mesin, kontainer, dan lalu lintas. Namun, di sebuah sudut Sekupang, tepatnya di Jalan Ir Sutami, ada ruang sederhana yang memilih untuk tidak menyerah kepada kesunyian kebudayaan.

Namanya Komunitas Seni Rumahitam. Tidak berdiri dengan kemegahan gedung pertunjukan, tidak pula menawarkan kemewahan fasilitas, tetapi menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga: ruang bagi manusia untuk saling mendengarkan, mengungkapkan perasaan, dan merayakan keindahan kata-kata.

Ada kisah ketulusan di balik kelahirannya. Budayawan Tarmizi Rumahitam menyisihkan sebagian hasil keringat dari Bengkel Tanjak Rumahitam, usaha kerajinan penutup kepala adat Melayu, untuk membangun ruang apresiasi sastra bernama Lamankata Rumahitam.

Dari usaha sederhana itulah, tumbuh panggung mini yang menjadi tempat bersemainya gagasan, kreativitas, dan perjumpaan lintas generasi. Tidak menunggu investor besar, tidak pula menggantungkan hidup pada gemerlap seremoni. Ada kecintaan yang bekerja dalam diam, ada pengorbanan yang tidak selalu meminta tepuk tangan.

Barangkali, demikianlah kebudayaan sejati bertahan: bukan semata-mata karena besarnya anggaran, melainkan karena masih ada manusia yang rela menyisihkan sebagian rezeki, waktu, dan hidupnya untuk menjaga, agar api kesenian tetap menyala.

Dari ruang kecil itu lahir program Sebab Puisi, singkatan dari Sabtu Batam Berpuisi. Program ini diselenggarakan setiap bulan di Lamankata Rumahitam, menjadi ruang perjumpaan bagi para penyair, seniman, pendidik, wartawan, dan masyarakat umum untuk membaca, mendengarkan, mendiskusikan, serta merayakan puisi.

Tidak ada karpet merah, tidak ada panggung megah dengan tata cahaya yang memukau. Hanya ruang bersahaja, suasana akrab, dan kata-kata yang kadang membuat seseorang terdiam lebih lama daripada biasanya.

Di sana, jabatan dan profesi melebur, sekat-sekat sosial mencair, sementara setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyuarakan isi hati. Ada yang membawa kegembiraan, ada yang menyimpan kehilangan, ada pula yang datang dengan kegelisahan tentang kehidupan.

Puisi tentang cinta, kemanusiaan, masyarakat pesisir, sejarah, kebudayaan Melayu, hingga perubahan zaman, mendapatkan tempat untuk tumbuh dan didengarkan. Ketika seseorang berdiri di hadapan mikrofon, membacakan bait demi bait dengan suara yang kadang bergetar, sesungguhnya ia sedang menyerahkan sebagian rahasia jiwanya kepada orang lain.

Pada saat itulah, puisi berhenti menjadi sekadar rangkaian kalimat dan menjelma jembatan perasaan. Kita mungkin tidak pernah mengalami luka yang sama, tetapi melalui puisi kita belajar memahami kesedihan orang lain.

Sebab tidak semua yang terluka mampu bercerita, tidak semua yang rindu sanggup mengungkapkan, dan tidak semua kehilangan dapat dijelaskan dengan kata-kata biasa.

Di zaman ketika gawai pintar mampu mendekatkan manusia yang berjauhan, kita justru sering menyaksikan orang-orang duduk berdekatan, tetapi tenggelam dalam kesibukan dunianya masing-masing.

Informasi datang seperti hujan yang tidak mengenal musim, gambar berganti setiap detik, dan percakapan berlangsung tanpa selalu menghadirkan keintiman. Kita semakin cepat mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu semakin dalam memahami kehidupan.

Di tengah kegersangan semacam itu, sastra dan puisi menjadi tempat berteduh bagi pikiran yang lelah serta perasaan yang kehabisan kata. Puisi memang tidak dapat memperbaiki jalan berlubang, mengatasi banjir, membersihkan udara, atau menyelesaikan persoalan air bersih.

Namun, ia dapat menjaga agar manusia tidak kehilangan kepekaan terhadap semua persoalan tersebut. Ia merawat nurani, menumbuhkan empati, dan mengingatkan bahwa di balik setiap angka pembangunan selalu ada kehidupan manusia yang harus dihargai.

Rumahitam juga memiliki makna lebih jauh sebagai ruang untuk merawat ingatan dan identitas kebudayaan Melayu, di tengah perubahan wajah Batam. Tradisi, bahasa, sejarah, kehidupan pesisir, dan kearifan lokal tidak boleh hanya menjadi kenangan yang dipajang dalam acara seremonial. Semuanya harus terus diceritakan, didiskusikan, ditafsirkan, dan diwariskan.

Modernisasi tidak seharusnya membuat kita tercerabut dari akar, sebagaimana kemajuan tidak boleh memutus hubungan manusia dengan sejarah dan kebudayaannya. Melalui puisi, masa lalu dapat kembali menyapa masa kini, sementara generasi muda memperoleh kesempatan untuk mengenali jati dirinya.

Batam tentu membutuhkan investasi, kawasan industri, pelabuhan, pusat perdagangan, dan infrastruktur yang terus berkembang. Namun, kemajuan sebuah kota tidak semestinya hanya diukur dari tingginya gedung, besarnya nilai transaksi, atau cepatnya pertumbuhan ekonomi.

Kota yang beradab juga harus menyediakan ruang bagi kesenian, kebudayaan, literasi, dan perjumpaan antarmanusia.

Di sinilah Rumahitam mengirimkan pesan sederhana tetapi mendalam: ruang kecil pun dapat menyimpan cita-cita besar. Karena itu, keberadaan Lamankata patut mendapatkan perhatian dan dukungan bersama.

Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan serta anggaran yang berkelanjutan, dunia usaha membangun kemitraan yang tidak berhenti pada seremoni, lembaga pendidikan memperkenalkan pelajar kepada komunitas seni, dan masyarakat ikut menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan.

Dukungan dapat diwujudkan melalui pendanaan program, penyediaan ruang, promosi kegiatan, dokumentasi karya, hingga pembelian buku dan karya seniman lokal.

Jangan sampai orang-orang yang dengan tulus merawat kesenian harus berjalan sendirian, sementara kota sibuk merayakan angka investasi dan kemegahan pembangunan.

Rumahitam, Lamankata, dan ruang-ruang serupa tidak semestinya bertahan hanya dari pengorbanan pribadi para penggeraknya.

Jika Batam ingin disebut sebagai kota maju, kota ini juga harus mampu membiayai, melindungi, dan menghidupkan tempat-tempat yang merawat ingatan, imajinasi, serta keberanian warganya untuk berpikir dan bersuara.

Sebab investasi kebudayaan mungkin tidak selalu menghasilkan keuntungan yang tercatat dalam laporan keuangan bulanan, tetapi buahnya dapat tumbuh melampaui usia sebuah proyek pembangunan.

Maka, jika suatu hari kita terlalu lelah mengejar waktu, terlalu sibuk menghitung keuntungan, atau terlalu penat menghadapi riuhnya persoalan kota, tidak ada salahnya singgah sejenak di Rumahitam.

Duduklah, dengarkan seseorang membaca puisi, atau bacakan kata-kata yang selama ini tersimpan di dalam hati. Tidak perlu menjadi penyair terkenal untuk datang, sebagaimana tidak perlu menjadi orang kaya untuk menikmati keindahan.

Barangkali dari sebuah perjumpaan sederhana, seseorang menemukan keberanian untuk bercerita, sementara orang lain belajar memandang kehidupan dari sudut yang berbeda.

Biarlah menara-menara bisnis terus menjulang, mesin-mesin industri tetap bekerja, dan angka-angka ekonomi terus bertumbuh.

Namun, jangan sampai di tengah segala kemajuan itu kita lupa merawat sesuatu yang membuat kita tetap manusia. Dari panggung kecil Lamankata, Rumahitam mengajarkan bahwa puisi tidak selalu mengubah dunia dengan suara keras.

Kadang-kadang, ia hanya perlu mengetuk satu hati agar kembali peka terhadap kehidupan. Ia mungkin tidak mampu menghentikan deru mesin, tetapi dapat menghaluskan suara hati yang mulai mengeras; tidak sanggup meruntuhkan gedung-gedung tinggi, tetapi mampu membangun jembatan antarmanusia yang semakin jauh secara perasaan.

Dan ketika bangunan mulai lapuk, angka kehilangan makna, serta zaman terus berganti, kata-kata yang lahir dari ketulusan mungkin masih tinggal lebih lama dalam ingatan.

Karena itu, mendukung ruang kebudayaan bukanlah pekerjaan tambahan setelah pembangunan selesai, melainkan bagian penting dari pembangunan itu sendiri.

Batam tidak hanya membutuhkan kawasan industri yang menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga ruang-ruang yang membentuk manusia berdaya pikir, berempati, dan berani menjaga masa depan kotanya.

Pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya dikenang karena menara yang pernah menjulang atau besarnya kekayaan yang pernah dikumpulkan, tetapi juga karena nilai-nilai kemanusiaan yang berhasil diwariskannya.

Rumahitam mungkin hanya sebuah ruang kecil di Sekupang, Lamankata mungkin hanya panggung sederhana, dan Sebab Puisi mungkin hanya perjumpaan bulanan.

Namun, dari tempat seperti itulah harapan kebudayaan dapat terus menyala. Sebab kemajuan tanpa kebudayaan akan kehilangan arah, pembangunan tanpa kemanusiaan akan kehilangan makna, dan kehidupan tanpa kepekaan hanya akan menyisakan rutinitas yang berjalan tanpa rasa.

Biarlah Batam terus tumbuh sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi jangan biarkan jiwanya tertinggal di antara beton, baja, dan angka-angka.

Rawatlah puisi, hidupkanlah seni, dan berikan tempat bagi mereka yang masih percaya bahwa keindahan bukan sesuatu yang mewah, melainkan kebutuhan jiwa.

Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah kota layak dicintai bukan hanya apa yang dibangunnya, tetapi juga apa yang dijaganya agar tidak hilang.

Seperti penggalan puisi Sapardi Djoko Damono, yang terasa begitu dekat dengan renungan ini: “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” ***