Imbas Ketegangan di Laut Merah, Pendapatan Terusan Suez Mesir Turun 57,2 Persen

Kapal kargo melintas di Terusan Suez Mesir, beberapa waktu lalu. (F. xinhua)

KAIRO (Kepri.co.id – Xinhua) – Pendapatan transit Terusan Suez turun 57,2 persen menjadi 959,3 juta Dolar AS atau setara Rp15,603 triliun (1 Dolar AS = Rp16.265) pada kuartal pertama tahun 2024, menurut pernyataan yang dirilis Bank Sentral Mesir (Central Bank of Egypt/ CBE), Senin (8/7/2024).

Pernyataan itu menyebutkan, pendapatan transit Terusan Suez turun 7,4 persen dari Juli 2023 hingga Maret 2024, dengan mencatat pendapatan sebesar 5,8 miliar Dolar AS, dibandingkan 6,2 miliar Dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Dibangun 165 Tahun Lalu, Terusan Suez jadi Saksi Perjalanan Mesir dari Terpuruk hingga Bangkit (Bagian 1)

Tonase bersih turun 15,6 persen menjadi 944,9 juta ton, dan jumlah kapal transit turun 11,5 persen dari Juli 2023 hingga Maret 2024, imbuh CBE.

Tahun fiskal Mesir dimulai pada 1 Juli dan berakhir pada 30 Juni tahun berikutnya.

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Kairo. (XHTV)

CBE mengatakan, penurunan tersebut terutama disebabkan gangguan lalu lintas maritim Laut Merah, yang memaksa sejumlah perusahaan pelayaran komersial mengalihkan rute pelayarannya.

Sejak konflik Gaza pecah pada Oktober 2023 lalu, kelompok Houthi Yaman telah berulang kali menyerang kapal-kapal di Laut Merah yang memiliki hubungan dengan Israel.

Baca Juga: Dibangun 165 tahun lalu, Terusan Suez jadi saksi perjalanan Mesir dari terpuruk hingga bangkit (Bagian 2 Habis)

Amerika Serikat (AS) dan Inggris, telah melancarkan beberapa serangan udara terhadap situs-situs militer Houthi di ibu kota Yaman, Sanaa, dan provinsi lain yang berada di bawah kendali kelompok tersebut sejak Januari 2024 lalu, sebagai respons atas serangan Houthi di kawasan tersebut.

Terusan Suez, yang mencakup 12 persen dari perdagangan global, merupakan sumber devisa yang penting bagi Mesir. (asa/ xinhua-news.com)