Terabas Batam Diminati Wisatawan Dalam dan Luar Negeri

Ketua TAC Batam, Zulfahmi Efendi menandatangani nota pelantikan disaksikan pendiri sekaligus ketua pertama TAC Batam, M Al Ichsan di lantai 6 Hotel Golden Bay Bengkong, Sabtu (8/7/2023) malam. (F. dok tac batam)

BATAM (Kepri.co.id) – Jalur terabas Batam banyak diminati wisatawan offroader adventure dalam dan luar negeri. Offroader adventure dalam negeri negri dari Padang, Pekanbaru, Medan, dan Pulau Jawa. Sedangkan wisatawan offroader adventure luar negeri dari Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

“Yang rutin itu wisatawan offroader adventure dari Singapura setiap akhir pekan. Offroader adventure yang main di jalur terabas Batam, satu tim kadang sampai 10 orang. Wajar offroader adventure senang dan menyukai jalur terabas Batam, karena hutan di negara mereka terbatas,” ujar Ketua TAC Batam, Zulfahmi Efendi di sela-sela pelantikan di lantai 6 Hotel Golden Bay Bengkong, Sabtu (8/7/2023) malam.

Baca Juga: Lantik Pengurus TAC Batam, Ichsan: Berawal dari Kumpul-kumpul Kini Eksis 15 Tahun

Wisatawan offroader adventure luar negeri, lanjut Zulfahmi, ditangani divisi wisata. Jalur terabas di Batam sangat variatif dan menantang, sehingga menarik adrenalin wisatawan offroader adventure luar negeri. Ada jalur ekstrim dibuat sendiri oleh TAC. Seperti jalur Tiban Kampung, Aviari Batuaji, Kopral Nongsa, dan lainnya. Ada juga jalur alami seperti Duriangkang, Tanjungpiayu.

BACA JUGA:   Layani Sepenuh Hati, Dit Polairud Polda Kepri Gelar Program Presisi Sampan Layar

“Rekan kita offroader adventure luar negeri, kita sediakan motor untuk mereka pakai. Ada paket untuk sewa. Sebenarnya, terabas itu enak, asyik, laki, dan memacu adrenalin. Bagi yang bergabung ke TAC Batam, Sekretariat kami di Ruko Mega Legenda Blok B3 Nomor 36,” ujar Zulfahmi.

Pendiri sekaligus ketua pertama TAC Batam tahun 2008, M Al Ichsan (batik) membacakan naskah pelantikan pengurus TAC Batam disaksikan pendiri sekaligus mantan Ketua TAC Batam tahun 2009 sampai 2012, Agus Rianto (kiri) dan Sekretaris TAC Kota Batam, Nandi Romansah (kanan) di lantai 6 Hotel Golden Bay Bengkong, Sabtu (8/7/2023) malam. (F. doc tac batam)

Wisatawan offroader adventure dalam negeri, ada dari Sumatera Barat, Pekanbaru, Sumatera Utara, dan Pulau Jawa. Offroader adventure dalam negeri ini, ada yang membawa unit motor masing-masing. Sedangkan TAC Batam hanya membantu akomodasi. “Mereka main juga bayar, sesuai berapa hari main,” terang Zulfahmi.

Tipikal anggota TAC Batam, kata Zulfahmi, ada pencinta cross, trail adventure, ada penikmat jalur saja. Untuk kegiatan ini, sudah menyangkut keseluruhan baik itu crosser, adventure, maupun enduro sudah ada diterabas.

BACA JUGA:   Tingkatkan Kunjungan Wisman, Gagas Penerbangan Langsung ke Lagoi

Untuk kegiatan trail dari crosser ikut bermain. Komunitas ini ada program enduro dua atau tiga kali even, untuk ketahanan atau kompetisi,” terangnya.

Sekretaris TAC Batam, Nandi Romansah, menambahkan, ada divisi wisata menampung offroader adventure dari Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Ada tim sendiri memimpin terabas offroader adventure luar negeri sampai ke hutan, ada mekanik, dan sweeper.

“Kami sudah beberapa kali sondingkan kegiatan terabas ke Dinas Pariwisata Kota Batam. Ke depan, akan berhubungan lagi dengan Dinas Pariwisata biar lebih luas lagi terabas dengan wisatawan luar negeri,” ujar Nandi.

Jalur terabas di Batam, kata Nandi, yang dibuat sendiri seperti di Tiban Kampung, jalur Aviari Batuaji, jalur Kopral Nongsa. Sedangkan jalur terabas alami yaitu Duriangkang dan Tanjungpiayu.

BACA JUGA:   Wakapolda Ingatkan Personel Pengamanan Bantu TPS dan Netral

Untuk membuat jalur terabas, aku Nandi, jalan dulu menelusuri sampai ke puncak bukit yang tertinggi. Dari puncak bukit, disurvei baru tahu ke mana arahnya. Kalau masuk hutan ada tradisi yaitu permisi dulu.

“Sering terjadi kejadian yang aneh-aneh. Seperti nggak bisa pulang, mutar-mutar di situ saja walaupun sudah pakai General Packet Radio Service (GPRS). Nggak ke luar-ke luar. Solusinya tidur di lokasi dan besok paginya baru ke luar,” aku Nandi.

Biasanya, ungkap Nandi, kejadian aneh-aneh sering terjadi bila terabas dilakukan waktu menjelang atau pada saat Maghrib. “Kalau sudah Maghrib, nggak boleh terabas masuk hutan. Kecuali terabas masuk hutan pagi, ke luarnya Maghrib tak apa. Walaupun dianggap sepele, tapi agak riskan. Kami sudah pernah mengalaminya dan anggota TAC lainnya,” pesan Nandi. (asa)