Feature: Tantangan Pengguna Media Sosial Indonesia di Era AI

Foto dokumentasi ini ,menampilkan akses media sosial oleh masyarakat Indonesia. (F. Xinhua)

Bagi jutaan pengguna media sosial Indonesia, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) bukan lagi sesuatu yang harus dicari lewat aplikasi khusus.

Prabowo Destyan
Xinhua-news.com

TANPA disadari, teknologi ini sudah tersemat di mesin pencari, aplikasi pesan, hingga fitur edit foto dan video yang dipakai setiap hari. Di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru bagi pengguna biasa, dari membedakan yang asli dan palsu hingga menjaga keamanan data pribadi.

“Pergeseran terbesar justru terjadi saat pengguna tidak merasa sedang menggunakan AI,” ungkap praktisi komunikasi dan media sosial Didit Putra Erlangga.

Xinhua berbincang dengan Didit, untuk menelaah tantangan bermedia sosial di Indonesia di era AI, dengan karakteristik dan kekhasan demografinya. Bagi mantan jurnalis yang pernah mengelola media sosial Harian Kompas tersebut, tantangan utamanya bukan lagi soal adopsi, melainkan memastikan kemampuan masyarakat berkembang secepat teknologi yang mereka pakai.

Skalanya tidak kecil. Laporan “Digital 2026” mencatat, sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia per Oktober 2025, dengan 180 juta identitas pengguna media sosial. Sementara itu, We Are Social bersama Meltwater mencatat, lebih dari sepertiga pengguna internet Indonesia sudah memakai layanan AI. ChatGPT mendominasi lalu lintas web terkait AI sebesar 80,6 persen, disusul Perplexity 15 persen.

TANTANGAN NYATA: REKAYASA HINGGA KESEIMBANGAN HIDUP

Salah satu tantangan paling nyata adalah kian mudahnya merekayasa sesuatu. Teks, gambar, suara, hingga video kini bisa dibuat dengan cepat dan murah, sehingga modus lama seperti phishing atau penipuan investasi menjadi jauh lebih mudah dibuat dan lebih mengecoh.

Data menunjukkan besarnya persoalan ini. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat 1.379 laporan penipuan terindikasi AI hingga pertengahan 2026. Bareskrim Polri lewat Pusiknas mencatat lebih dari 32 ribu terlapor tindak pidana siber dengan hampir 29 ribu korban sejak 2022. Pada 2025, video deepfake yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan mantan menteri keuangan Sri Mulyani, dipakai untuk menipu warga dengan iming-iming bantuan tunai. Inilah contoh nyata bagaimana pengguna awam bisa menjadi sasaran.

“AI tidak selalu menciptakan jenis kejahatan yang sepenuhnya baru,” ujar alumnus Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada tersebut, “tetapi justru memperbesar skala, mempercepat produksi, dan meningkatkan kredibilitasnya.”

Tanda visual deepfake seperti bibir tak sinkron, ekspresi kaku, dan pencahayaan janggal memang masih bisa membantu. Namun Didit mengingatkan pengguna agar tidak terus bergantung pada mata dan telinga. “Kelemahan visual yang hari ini mudah terlihat belum tentu masih terlihat beberapa bulan atau beberapa tahun lagi,” katanya. Kebiasaan verifikasi perlu berubah, yakni bukan lagi menilai tampilan, melainkan menelusuri asal-usul dan konteks konten, lalu mencari konfirmasi dari sumber independen, terutama bila menyangkut dana, kesehatan, atau keputusan penting.

Meski demikian, Karmin Winarta (50), seorang pekerja komunitas asal Wonogiri yang juga pengguna aktif Threads, Instagram, Facebook, dan TikTok, menilai saat ini masih ada celah untuk mengenali konten AI cukup dengan kejelian. “Hingga saat ini, mayoritas konten AI sangatlah mudah dikenali, AI masih belum smooth dalam menciptakan video, foto, ataupun tulisan,” ujarnya kepada Xinhua.

Namun, seperti diingatkan Didit, kelemahan visual itu belum tentu bertahan lama, sehingga kejelian mata saja tidak cukup. Karmin sendiri tidak berhenti pada penilaian visual. Menurutnya, sebelum mencerna suatu isu, penting menggunakan common sense sebagai filter dan mencari rujukan dari sumber lain, baik langsung maupun lewat pihak yang berkompeten di bidangnya.

“Sebagai pengguna wajib memiliki kematangan berpikir juga. Kita harus mampu mengendalikan diri untuk tidak terpengaruh dengan segala info yang diembus-embuskan di media sosial. Pilih info yang benar-benar kita perlukan,” ujar Karmin.

Pengguna media sosial Indonesia juga menghadapi tantangan yang lebih halus: cepatnya hoaks menyebar dan risiko terkurung dalam filter bubble. Menurut Didit, ini terjadi karena bertemunya dua faktor, yakni psikologi manusia yang mudah tergerak oleh konten emosional dan sistem rekomendasi platform yang mengamplifikasi konten berinteraksi tinggi.

Foto dokumentasi ini, menampilkan praktisi komunikasi Didit Putra Erlangga (kanan). (F. Xinhua/ Istimewa)

Dia menegaskan, lingkungan informasi pengguna bukan semata hasil rekayasa algoritma. “Lingkungan informasi kita merupakan hasil interaksi antara desain algoritma dan perilaku kita sendiri,” katanya, sehingga pengguna ikut membentuknya lewat siapa yang diikuti dan apa yang dibagikan.

Kesiapan pengguna Indonesia pun masih terbatas. Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2025 mencatat Pilar Literasi Digital baru mencapai skor 49,28 dari 100. Bagi Didit, ini menandai perlunya pergeseran definisi literasi digital, dari sekadar bisa memakai perangkat menjadi mampu “menggunakan, memahami, memverifikasi, dan bertanggung jawab” atas output AI yang dikonsumsi.

Wajah dan suara yang dulu menjadi bukti identitas kini justru menjadi celah bagi penipu. Prinsip yang disarankan Didit sederhana, yakni jangan jadikan wajah atau suara sebagai satu-satunya bukti identitas. Jika menerima permintaan mendesak dari orang yang dikenal, seperti transfer dana, data pribadi, atau kode OTP, pengguna perlu memverifikasi lewat kanal berbeda, misalnya menelepon balik nomor yang sudah dikenal.

Tantangan lain datang dari kebiasaan membagikan data pribadi. Foto wajah, suara, lokasi, dan kebiasaan sehari-hari, bila digabungkan, dapat membentuk identitas digital yang sangat rinci. Meski Indonesia telah memiliki UU Pelindungan Data Pribadi (UU No. 27/2022) dan aturan turunannya, PP No. 33/2026, Didit menegaskan regulasi tidak menghapus perlunya kehati-hatian individu. Prinsip data minimization tetap menjadi pegangan utama pengguna.

Tantangan berikutnya lebih personal, yakni menjaga keseimbangan hidup di tengah dominasi media sosial. Laporan “Digital 2026” mencatat pengguna Indonesia rata-rata menghabiskan 21 jam 50 menit per pekan di media sosial dan video daring, waktu yang sejatinya bisa dialokasikan untuk tidur, keluarga, atau olahraga.

Didit menyarankan kebiasaan sederhana namun konsisten, seperti menyepakati waktu tanpa gawai, misalnya saat makan bersama keluarga, dan tidak menganggap setiap pesan harus direspons seketika. Sebelum membagikan konten, dia menawarkan tiga langkah praktis, yaitu berhenti sejenak saat emosi memuncak, cek sumber dan konteks, lalu putuskan apakah konten memang perlu disebarkan.

TANGGUNG JAWAB KOLEKTIF

Meski banyak tantangan dibebankan pada pengguna, Didit mengingatkan bahwa tanggung jawab sesungguhnya dibagi tiga pihak, yakni pengguna yang kritis, platform yang bertanggung jawab atas desain sistemnya, dan regulator yang mampu mengikuti laju teknologi.

“Literasi pengguna tidak boleh menjadi alasan platform untuk melepaskan tanggung jawab,” tegasnya, “sebaliknya, tanggung jawab platform juga tidak berarti pengguna bebas menyebarkan apa saja tanpa verifikasi.”

Dari sisi kreator, Sonny Hendrawan Saputra, pemilik akun Instagram Travelmagzgo dengan belasan ribu pengikut, menilai penggunaan AI masih wajar selama sebatas tools yang membuat kualitas video lebih baik tanpa menghilangkan karakter diri. Namun, konten yang menyesatkan tanpa disclaimer, apalagi murni penipuan, menurutnya layak di-takedown.

“Sayangnya sistem takedown di Indonesia yang merupakan tuntutan manual masyarakat masih sangatlah lemah. Bahkan di luar sebagai konten kreator, banyak saya temui di dunia kerja saya di mana banyak akun AI memersonifikasi diri sebagai artis untuk melakukan penipuan penjualan, tetapi permohonan takedown hampir tidak pernah ditanggapi,” ungkap Sonny, yang juga berstatus karyawan di sebuah perusahaan otomotif roda dua multinasional.

Foto dokumentasi ini, menampilkan aktivitas bermedia sosial di Indonesia. (F. Xinhua)

Para kreator juga ditantang untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah godaan AI yang kian besar dan mudah dijalankan. “Inti dari karya video memerlukan rasa dan sentuhan otentik sang pembuat karya.

Ketika semakin banyak kreator video menggunakan alat bantu AI secara berlebihan, semakin banyak video akan terasa sama. Saat ini contohnya yang saya rasakan adalah kesamaan gaya caption. Sayang sekali bila jiwa tulisan seseorang tidak muncul karena sudah terlanjur seragam karena AI,” papar Sonny.

Ke depannya, Didit memperkirakan jarak antara konten asli dan sintetis akan makin tipis, sehingga tantangan bagi pengguna kian besar. Namun baginya, solusinya bukan menghindari teknologi. “Kita tidak mungkin menghentikan perkembangan AI, tetapi kita bisa memastikan kecepatan teknologi tidak jauh meninggalkan kemampuan masyarakat untuk memahami dan menggunakannya secara bertanggung jawab,” tutupnya. (hen/ xinhua-news.com)