Pesawat Jet Buatan China Perkuat Hubungan China-Indonesia (Bagian 1)

Orang-orang berpose untuk difoto bersama pesawat jet ARJ21 pertama milik maskapai Indonesia TransNusa di Bali pada 18 April 2023. (Xinhua/Commercial Aircraft Corporation of China)

Sejak ARJ21 produksi China melakukan debut penerbangan komersialnya di luar negeri dengan maskapai penerbangan Indonesia TransNusa satu tahun lalu, pesawat jet regional tersebut menunjukkan peningkatan performa di pasar Asia Tenggara.

Selama satu tahun terakhir, TransNusa telah mengakuisisi dua ARJ21 dari Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC) dan mengoperasikannya di enam rute.

Kedua pesawat tersebut telah mengumpulkan 3.560 jam penerbangan aman dan mengangkut hampir 120.000 penumpang.

Setahun Beroperasi di Tanah Air, Pesawat Buatan China ARJ21 Bukti Persahabatan China-Indonesia

Keberhasilan ARJ21 menandai pencapaian signifikan di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra, dalam hubungan China-Indonesia yang sedang berkembang.

ADAPTASI PASAR LOKAL

Di Indonesia, bandara kerap kali memiliki fasilitas yang terbatas serta landasan pacu yang pendek dan sempit, namun ARJ21 mampu beradaptasi dengan baik dengan kondisi tersebut.

Saat jet tersebut menyelesaikan penerbangan carteran dari Jakarta ke Morowali, yang landasan pacu bandaranya sempit dan pendek, Wakil Presiden TransNusa, Leo Budiman menyebutnya sebagai “keberhasilan luar biasa” serta terobosan bagi ARJ21.

Wakil Presiden COMAC Shanghai Aircraft Customer Service Co., Ltd. Wu Guofang mengatakan kepada Xinhua, ARJ21 dirancang beradaptasi terhadap suhu dan kelembapan tinggi, cocok dengan iklim di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Foto yang diabadikan pada 17 Desember 2022 ini, menunjukkan pesawat jet ARJ21 pertama milik maskapai Indonesia TransNusa di Shanghai, China Timur. (Xinhua/Commercial Aircraft Corporation of China)

Bagi Yves Liga Pangeran Hakim, salah satu pilot TransNusa, ARJ21 sangat cocok untuk pasar lokal.

“Potensinya bagus dan dapat terbang di landasan sempit. Pesawat ini memberikan solusi bagi pasar penerbangan Indonesia. Sebuah kesuksesan besar,” kata Hakim, yang telah beberapa kali menerbangkan ARJ21.

ARJ21 juga sempat dikerahkan untuk penerbangan internasional, karena TransNusa mengoperasikan pesawat tersebut di rute Jakarta-Kuala Lumpur pada 2023.

Menurut Budiman, ARJ21 menerima “sambutan yang luar biasa” di Malaysia ,karena pesawat jet tersebut telah memperoleh izin beroperasi di enam bandara di negara tersebut.

“Kami akan menunjukkan kepada dunia, ARJ21 sangat cocok untuk pasar lokal,” kata Budiman.

Wakil Presiden PTransNusa, Leo Budiman melakukan wawancara dengan Xinhua di Jakarta pada 17 April 2024. (Xinhua/Sun Lei)

POTENSIAL UNTUK MENJANGKAU KAWASAN YANG LEBIH LUAS

Setelah sukses di Indonesia, COMAC berupaya memperluas jejak bisnisnya ke negara-negara lain di Asia Tenggara.

Di Singapore Airshow 2024 yang digelar Februari 2024 lalu, ARJ21 dan C919, pesawat jet lainnya buatan COMAC, menarik perhatian publik. Dalam ajang tersebut, COMAC menerima pesanan 40 unit jet C919 dan 16 unit jet ARJ21.

Usai Singapore Airshow 2024, kedua pesawat jet tersebut, meluncurkan penerbangan demonstrasi di lima negara Asia Tenggara. Mengincar kerja sama dengan maskapai penerbangan lokal di negara-negara tersebut, COMAC mulai membangun jaringan pasar luar negerinya.

“Pesawat ini telah sepenuhnya menunjukkan stabilitas dan kemampuan beradaptasi yang sangat baik, menerima tanggapan yang sangat positif dari otoritas penerbangan sipil Indonesia, maskapai penerbangan Indonesia, dan pasar Asia Tenggara,” kata Wu.

Meyakini ARJ21 memiliki potensi pasar yang lebih besar di kawasan tersebut, Budiman mengatakan, maskapai TransNusa akan meningkatkan konektivitas antar pulau, yang sangat penting bagi Indonesia dan kawasan yang lebih luas.

“Kami melihat, COMAC mengalami kemajuan dari hari ke hari,” kata Budiman, seraya menambahkan bahwa prospeknya “sangat menjanjikan.” (asa/ xinhua-new.com)