ANAMBAS, Kepri.co.id – Suasana hangat menyelimuti halaman SMP Negeri 2 Siantan pada Senin pagi (28/9/2026).
Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, hadir langsung menyapa para pendidik dan orang tua murid. Kehadirannya membawa misi penting, berupa penyerahan bantuan perlengkapan peserta didik.
Agenda ini merupakan bagian dari program strategis pemerintah daerah tahun 2026.
Kegiatan yang dimulai pukul 10.30 WIB tersebut, turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Anambas, Tony Karnain. Ketua Komite SMP Negeri 2 Siantan, Sarivan, juga tampak mendampingi rombongan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Anambas menyerahkan 90 set seragam baru. Bantuan ini, diperuntukkan khusus bagi siswa kelas tujuh yang baru memulai masa pendidikan tingkat menengah.
Namun, sorotan utama justru datang dari pesan emosional sang bupati saat berdiri di mimbar.
Aneng tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik sekolah semata. Ia lebih banyak menyoroti beban psikologis yang dipikul oleh para tenaga pendidik saat ini.
Menurutnya, menjadi guru atau pengurus komite sekolah bukanlah pekerjaan mudah, karena memikul ekspektasi besar keluarga.
Kenangan Disiplin Masa Lalu dan Tantangan Mendidik
Di hadapan para hadirin, Aneng mengajak semua pihak, kembali merenungkan jasa besar seorang guru. Ia menyempatkan diri menceritakan pengalaman masa kecilnya saat dididik dengan sangat keras.
Guru yang mengajarnya dulu disebut sebagai sosok pahlawan, yang membentuk karakter kedisiplinannya. Pukulan rotan di kaki hingga pinggang pernah ia rasakan saat berbuat salah di masa sekolah.
Hukuman fisik tersebut tidak lantas membuatnya menyimpan dendam. Ia justru merasa bersyukur, karena ketegasan itulah yang mengantarkannya menjadi seorang pemimpin daerah hari ini.
Realita tersebut, kemudian ia bandingkan dengan fenomena sosial masyarakat modern yang dinilai mulai kehilangan toleransi.
Kasus pelaporan guru ke pihak kepolisian akibat teguran ringan, menjadi perhatian serius baginya.
Fenomena kriminalisasi guru membuat orang nomor satu di Anambas itu, merasa sangat prihatin.
“Tapi, anak-anak sekarang kita jengkel dikit saja, lapor polisi pula. Itu yang saya sangat sayangkan” ucap Aneng dengan nada pelan.
Ia meminta para orang tua, lebih bijaksana dalam menyikapi metode pendidikan di sekolah.
Rumah memang menjadi tempat utama mendidik karakter, tetapi lingkungan sekolah adalah ranah tanggung jawab para pendidik.
Oleh sebab itu, ia memohon kepada seluruh wali murid, memberikan kepercayaan penuh kepada tenaga pengajar.
“Ayo kita sama-sama dukung guru kita, beri mereka motivasi, beri mereka kepercayaan mendidik masa depan putra-putri kita,” tambah Aneng.
Dukungan emosional dari keluarga, kata Aneng, diyakini akan membuat guru lebih tenang dalam mencetak generasi berprestasi.
Komitmen Bantuan dan Solusi Krisis Pendidik
Selain memberikan pesan moral, kehadiran bupati, membawa angin segar bagi fasilitas penunjang siswa.
Kepala sekolah sebelumnya, sempat meminta bantuan tambahan berupa pakaian olahraga anak.
Aneng langsung merespons permintaan tersebut, setelah berdiskusi singkat dengan Tony Karnain. Pemerintah daerah berkomitmen menyediakan satu set tambahan baju olahraga, melengkapi kebutuhan seragam siswa.
Bantuan ini juga menjadi wujud apresiasi pemerintah, terhadap konsistensi prestasi SMP Negeri 2 Siantan.
Sekolah ini dikenal sering mengharumkan nama Kabupaten Kepulauan Anambas, melalui berbagai kompetisi.
Padahal, kondisi internal sekolah sedang tidak ideal, akibat kekurangan sumber daya manusia. Masalah minimnya guru ini, sempat diutarakan secara langsung oleh Ketua Komite Sekolah dalam sambutan pembukanya.
Sarivan mengungkapkan, kendala formasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) membawa dampak ganda. Sekolah ini tidak mendapatkan pembukaan formasi baru, pada tahun 2025 lalu.
Kondisi ini, memaksa sejumlah tenaga pendidik honorer lama, mencari peluang di tempat lain demi kepastian nasib.
Akibatnya, SMP Negeri 2 Siantan kini hanya digerakkan empat orang tenaga kependidikan, untuk melayani 280 murid.
Beban kerja yang sangat berat ini, menuntut perhatian ekstra dari otoritas pendidikan terkait. Idealnya, sekolah dengan jumlah murid sebanyak itu, membutuhkan minimal tujuh hingga delapan tenaga kependidikan.
Aneng berjanji, akan menjadikan aspirasi komite sekolah ini, sebagai catatan prioritas. Pemerintah daerah akan berupaya merumuskan solusi terbaik, agar kualitas pendidikan di sekolah unggulan ini tetap terjaga. (LS)







