Lagu Istimewa dan Lejen Selamat Hari Raya

Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial

ADA tiga lagu Melayu berjudul Selamat Hari Raya, semuanya sedap dan semuanya penting. Sakral didengar saat mulai minggu ketiga Ramadan sampai hari raya.

F. Suqyan Rahmat
F. Suqyan Rahmat

‎Puncaknya adalah di malam hari raya, di dengar saat sambil makan ketupat dan rendang. Saya sangat menyukai tiga lagu ini, karena sangat menyemarakkan suasana hari raya.

‎Tiga lagu ini masing-masing dinyanyikan oleh Saloma, Ahmad Jais, dan Fazidah Joned. Dan diluncurkan pada tahun yang berbeda-beda. Tiga-tiganya istimewa dan membentuk kesan yang mendalam dalam hidup saya.

Bukan gampang memilih yang paling disukai di antara tiga lagu lejen ini. Yang dinyanyikan Saloma nuansa lagunya sangat menyemarakkan suasana, yang dinyanyikan Ahmad Jais sangat syahdu didengar saat sedang dalam perjalanan, dan yang dinyanyikan Fazidah Joned sering menaikkan bulu roma.

‎Sehingga, tiga-tiganya terasa sama pentingnya, hanya soal giliran pendengarannya. Tapi, dilihat dari sejarahnya, yang dinyanyikan Saloma lah yang paling sesuai menjadi pengiring utama saat hari raya. Sebab, semangat hari raya sangat terasa di lagu ini.

Lagu ini biasa terdengar di radio sejak minggu ketiga Ramadan, seminggu menjelang hari raya.

‎Bukan hanya di radio, tapi juga sering terdengar di mall, di bandara, di teksi, bahkan pengamen di lorong menuju Marina Bay.

Saya mendengarkan lagu ini sudah dari kecil, sehingga sangat menyatu dengan jiwa saya. Sering tersentuh perasaan saya setiap mendengar lagu ini.

Mendengar lagu ini, membawa saya pada kenangan puluhan tahun yang lalu, saat saya menemankan Mak saya membuat kue. Lagu ini biasa diputar di radio Singapura dan film-film di TV 3.

Perasaan saya sangat tersentuh, apabila mendengar lagu-lagu ini, bukan hanya senang, tapi juga menguatkan rasa sayang kepada keluarga saya.

Mak dan ayah saya, adinda saya, dan saudara-saudara saya lainnya. Dan juga mengingatkan dengan saudara-saudara yang sudah tak ada.

Mendengar lagu ini, rasanya semakin mengeratkan hubungan kekeluargaan. Di hari-hari biasa, lagu-lagu ini juga sekali-sekali saya dengar, saat saya rindu dengan Ramadan dan hari raya. Mendengar lagu ini di hari raya, adalah tradisi yang tak bisa terganti dengan apapun.

Lagu ini juga menandakan lengkapnya peradaban Melayu. Bukan hanya arsitektur, busana, dan kuliner, tapi sampai di lagu-lagu hari raya pun, orang Melayu ada lagunya.

Bukan hanya lagu-lagu tradisional seperti Nak Dara Rindu dan Gurindam Jiwa, peradaban Melayu yang kaya dengan syair-syair menawan, terasa memuncak pada saat mendengar lagu-lagu ini di hari raya.

Apalagi, mendengarnya saat dengan anggota keluarga, hari raya terasa begitu sempurna. Sangat menyenangkan, hanya karena mendengarkan lagu-lagu ini.

Sebenarnya, bukan hanya tiga lagu ini yang memeriahkan suasana hari raya, banyak juga yang lain.

Yang paling istimewa seperti Suara Takbir dan Kupohon Restu Ayah Bonda, yang sungguh menusuk kalbu. Lagu yang membuat saya merasa bersyukur dengan semua nikmat Allah SWT.

Ada juga seloka hari raya dan indah di hari raya. Semua lagu ini, terasa sangat berarti, karena mengingatkan dengan jatidiri keluarga besar saya.

Dengan banyaknya pilihan lagu, semakin membuat hari raya terasa begitu istimewa. Momen setahun sekali yang tak ternilai.

‎Mendengar Selamat Hari Rayanya Saloma yang dinyanyikan dengan tempo cepat, sering membuat saya terbayang dengan kehidupan orang Melayu pada tahun 1950-an, saat lagu ini pertama kali diluncurkan.

Saat orang Melayu di Kepulauan Riau umumnya masih banyak yang tinggal di rumah panggung dekat pantai. Disisi lain  mendengar lagu ini juga membuat saya teringat dengan tempat-tempat yang pernah saya lewati selama di Singapura.

‎Mulai dari Harbour Front sampai Woodland. Sungguh kesatuan yang tak terpisahkan antara lagu ini, saya, dan Singapura.

Bukan hanya bersyukur dengan lengkapnya peradaban Melayu, tapi saya juga bersyukur dengan keluarga saya yang masih lengkap, dan telinga saya yang masih bisa mendengar.

Saya harap lagu-lagu istimewa ini abadi, menjadi lagu pengiring hari raya orang Melayu di Kepulauan Riau. Di Batam, Bintan, Karimun, Lingga, sampai Tambelan.

Bahkan, yang merantau sampai ke Kanada dan Australia. Selamanya. Sepanjang zaman. Bukan hanya 50 tahun atau 100 tahun ke depan, tapi selama-lamanya. Insya Allah. ***

***) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.