Penulis: Suqyan Rahmat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
TANJUNGPINANG kota kuno… kata seorang gadis di Instagram. Bagi saya, ini satu pujian dan penghormatan kepada ibukota provinsi saya. Tak semua kota layak digelar kuno. Hanya kota-kota dengan sejarah yang agunglah yang bisa berstatus kuno. Contohnya adalah Athena, Roma, dan Istanbul, tiga kota tua dunia yang juga bergelar kota kuno.
Kita sebagai masyarakat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), layak bangga dengan pengakuan gadis ini. Pusat kota di kota lama dan semua pemukiman lama menjadi bukti kekunoan kota ini.
Batam yang dianggap modern oleh masyarakat perantau tak bisa dianggap kuno. Karena Batam yang sekarang baru dibangun pada tahun 1970-an, meskipun berabad-abad yang lalu batam pernah mengalami kejayaan sebagai negara bahari.
Sejarah Batam yang sekarang tidaklah sepanjang sejarah Tanjungpinang, yang sudah berdiri sejak abad 18. Saksi utama dari Perang Riau, perang antara Kesultanan Riau melawan Kerajaan Belanda. Bahkan, saat Singapura belum didirikan encik Raffles.

Tentu tak adil, bila membandingkan Tanjungpinang dengan Jakarta sebab dari APBD-nya sudah jelas jauh berbeda. Tanjungpinang sebesar Rp1 triliun, sedangkan Jakarta sebesar Rp85 triliun.
Artinya di sini, ada 85 kali lipat perbedaan kekuatannya. Belum lagi masa pembangunannya sejak berdiri negara Indonesia, Jakarta selalu diutamakan sejak tahun 1950. Berbeda dengan Tanjungpinang yang baru jadi ibukota Provinsi Kepulauan Riau sejak tahun 2004. Lain hal, kalau Tanjungpinang adalah ibukota negara, pasti lebih hebat daripada Jakarta.
Masyarakat Tanjungpinang sering tak bangga dengan kotanya, karena dianggap tak semaju Batam. Mal dan apartemen menjadi standar pemikiran mereka. Padahal, perbandingan Tanjungpinang bukanlah dengan Batam, tapi dengan ibukota provinsi-provinsi di Sumatera seperti Padang dan Pekanbaru. Atau Banda Aceh.
Saat dibandingkan dengan tiga kota ini, Tanjungpinang justru nampak lebih pesat pembangunannya. Dari sisi prasarana umum, pemukiman masyarakat, dan tempat wisata, Tanjungpinang jelas lebih baik.
Ada pihak yang menganggap keadaan Tanjungpinang sekarang adalah karena Tanjungpinang bukan kota industri, seperti Batam. Ini adalah pemikiran yang keliru. Justru, karena Tanjungpinang bukan kota industrilah peradaban Melayu menjadi selamat.
Saya justru bersyukur Tanjungppinang tak dijadikan pusat industri, apalagi industri perumahan, perkapalan, dan pengolahan. Tak adanya kawasan industri di Tanjungpinang, bukanlah sebab pembangunan Tanjungpinang berbeda hasilnya dengan Batam.
Penyebabnya adalah APBD Tanjungpinang yang sangat kecil, sehingga Tanjungpinang tak mampu membangun gedung-gedung pemerintahan yang megah seperti di Putrajaya. Keadaan ini bukanlah kesalahan Pemerintah Kota Tanjungpinang, tapi ini murni kesalahan pemerintah pusat Indonesia yang bakhil, karena hanya memberikan sedikit duit kepada APBD Provinsi Kepulauan Riau. Padahal, dengan semua kekayaan alam yang diambil dari Kepulauan Riau setiap tahun, Tanjungpinang harusnya ber-APBD Rp40 triliun.
Tanjungpinang yang merupakan melting pot-nya orang Melayu sejak zaman Keresidenan Riau sampai tahun 1990-an, cocoknya fokus pada bisnis pariwisata. Didukung banyaknya tujuan wisata di sana.
Ditambah lagi dengan menghadirkan banyak restoran Melayu, kedai souvenir Melayu, dan agenda kebudayaan Melayu. Paling tidak, wisatawan bisa menghabiskan tiga hari dua malam di kota ini, untuk menelusuri semua jejak sejarahnya. Mulai dengan salat Jumat di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat sampai ngopi di kedai kopinya.
Selain fokus di bisnis pariwisata, tanjungpinang juga layak menjadi pusat pendidikan di provinsi ini. Setidaknya, tempat pilihan bagi anak-anak dari seluruh Kabupaten Bintan melanjutkan SMP dan SMA.
Masyarakat Tanjungpinang bisa memanfaakan keadaan ini, dengan menjadikan kamar-kamar di rumahnya menjadi kamar sewa untuk pelajar-pelajar dari luar Tanjungpinang. Industri seperti perumahan, perkapalan, dan pertambangan itu justru merusak lingkungan. Banyak mudaratnya bagi masyarakat pribumi.
Demikianlah pandangan singkat saya tentang Tanjungpinang. Bagi saya, di cap kuno itu membanggakan. Artinya, ibukota provinsi saya dianggap setara dengan kota-kota kuno dunia.
Yang terpenting sekarang adalah budaya Melayu tetap hidup dan turun temurun dilestarikan ke semua anak cucu. Supaya wisatawan juga bisa merasakan nuansa Melayu di kota ini.
Sekurang-kurangnya dengan mendengar logat Melayu di radio-radio lokal dan di tempat umum. Sehingga, wisatawan bisa merasakan syahdunya nuansa Melayu. ***
—–
QUOTE PENULIS
Penulis adalah sosok yang menganggap Piala Dunia Prancis 1998 sebagai piala dunia terbaik sepanjang masa. Rempang Galang adalah kabupaten idamannya. Selamat Hari Raya nyanyian Saloma adalah lagu hari raya kegemarannya.
***) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.







