Penulis: Suqyan Rahmat
Bermastautin di Batam, Peminat Sejarah, dan Penggiat Sosial
JEPANG adalah penyebab utama terhenti mendadaknya hubungan istimewa Belanda dengan Riau pada tahun 1942. Sejak tahun 1942 Jepang menjajah wilayah (kepulauan) Riau dengan memusatkan kekuasaannya di Singapura.
Malangnya adalah tak banyak cerita yang bisa didapat tentang zaman ini, sebab saat itu, Jepang menjajah dalam keadaan perang dunia kedua sedang berjalan. Satu hal yang sering diceritakan adalah Jepang merupakan penjajah yang jahat, berbeda dengan Belanda.
Itulah sebabnya, tak ada gedung-gedung peninggalan Jepang di (Kepulauan) Riau, contohnya kantor pejabat militernya. Semua foto suku Melayu di (Kepulauan) Riau pada zaman itu, juga masih mereka simpan sampai sekarang.
Demi mencegah bangkitnya semangat kemelayuan di (Kepulauan) Riau pada tahun 1950-an dan 1960a-n. Syukur alhamdulillah, Jepang kalah perang. Karena kalau tidak, hari ini kita semua sudah memakai bahasa Jepang, sebagai bahasa sehari-hari kita. Dan lupa dengan bahasa asli kita.
Dilihat dari sikap Jepang selama ini, apa yang dibilang datok nenek dulu memang betul. Contohnya, Jepang puluhan tahun mengelola minyak di Natuna, tapi tak ada satu pun bentuk pengabdian mereka kepada pribumi (Kepulauan) Riau.
Misalnya penghibahan buku-buku untuk perpustakaan daerah dan beasiswa, untuk pelajar-pelajar (Kepulauan) Riau kuliah ke Jepang. Mereka bukannya tak tahu, tapi mereka memang sengaja bersikap abai karena merasa sudah memenuhi kemauan pemerintah pusat.
Jepang mau bangsa Indonesia terus menerus menjadi pelanggan abadi barang dagangan mereka. Mereka menutupi masa lalu mereka yang jahat, dengan rutin mengorbitkan seniman-seniman biru mereka, seperti Eri Takigawa dan Mariko Sata. Supaya bekas rakyat jajahan mereka lupa, terlupa, dan melupakan kejahatan mereka di masa penjajahan dulu.
Sehingga, semua orang di negara ini tetap mengutamakan barang-barang Jepang. Seperti mobil, TV, dan video game. Apalagi, di Indonesia ada 300 juta calon pembeli.
Di tahun 1958 saat Jepang membayar pampasan perang, satu manfaat pun tak dirasakan pribumi (Kepulauan) Riau. Jepang tak bisa beralasan, kami sudah membayarnya kepada pemerintah pusat.
Karena mereka pun tahu ada cara yang tepat, untuk menyalurkan duit hasil pampasan perang itu kepada pribumi di setiap daerah. Jepang tak peduli dengan nasib orang Melayu yang tak bisa menuntut hak mereka, karena terhalang jarak. Disebabkan Jepang memandang Melayu tak penting, karena tak berkuasa di pusat.
Ketidakbaikan Jepang yang paling fatal, mereka tidak menjadikan suku Melayu sebagai mitra lokal dari semua bisnis mereka di sini. Padahal, orang Melayu banyak yang mampu dan layak untuk menjadi mitra lokal mereka.
Orang Melayu adalah orang-orang yang bisa dipercaya, tertib, sopan, bersih, rapi, rajin, dan pintar. Terkait prosedur, itu semua bisa dikirim kalau Jepang ada niat baik. Seperti yang mereka lakukan kepada semua mitra lokal mereka di sini selama ini.
Ketidakbaikan lainnya, triliunan dolar keuntungan yang mereka dapat setiap bulan dari minyak Natuna selama puluhan tahun tak membuat mereka tergugah, untuk menyediakan prasarana umum yang canggih di (Kepulauan) Riau, contohnya dengan mengadakan MRT di Batam. Padahal. biaya pembuatan pada saat itu, belum semahal sekarang.
Di semua perusahaan Jepang di Batam, juga tidak pernah setengah direksinya dijabat suku Melayu, dengan sengaja membuat tahap penerimaan dan kenaikan jabatan yang tidak adil.
Mengaku-ngaku sebagai saudara tua kadang mereka lakukan untuk menyenangkan perasaan pejabat negara dan semua calon pembeli di Indonesia, tapi kenyataannya pengakuan itu dilakukan hanya untuk keuntungan bisnis mereka di sini.
Demi awetnya Indonesia sebagai pelanggan. Visa pun baru mereka bebaskan pada tahun 2022. Oleh sebab ini semua, hakikatnya selama ini, Jepang memandang Indonesia hanyalah sekAdar pelanggan. Malangnya adalah dipandang sebagai pelanggan istimewa pun bukan. ***
Riwayat Singkat Penulis
Nama: Suqyan Rahmat
Tempat/ Tgl. Lahir: Batam, 22-02-1989
Alamat: Bengkong Kolam
Penulis adalah pendukung benua Afrika menjadi benua Prancis. Mendambakan orang Arab magribi menjadi pendatang terbaik di Prancis dan tak lebih dari 5% bangsa Prancis. Maroko adalah negara Afrika idamannya.
***) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.







