WASHINGTON DC (Kepri.co.id – Xinhua) – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Selasa (20/5/2025), mengumumkan sistem pertahanan rudal senilai 175 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.406) yang dijuluki Golden Dome dan menunjuk Jenderal Angkatan Antariksa AS (US Space Force), Michael Guetlein memimpin apa yang digambarkan Trump sebagai inisiatif “berskala Proyek Manhattan.”
Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Washington DC. (XHTV)
Saat menyampaikan pengumuman di Ruang Oval, dengan didampingi Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Guetlein, Trump mengungkapkan, proyek tersebut akan selesai dalam waktu tiga tahun dan akan melindungi seluruh benua AS, termasuk Kanada, dari ancaman serangan udara.
“Ini hari yang luar biasa bagi Amerika,” kata Trump, sambil duduk di samping poster yang menunjukkan, benua AS berwarna emas dengan penggambaran artistik pencegatan rudal.
“Desain Golden Dome ini, akan terintegrasi dengan kemampuan pertahanan kita saat ini dan harus beroperasi penuh sebelum masa jabatan saya berakhir.”
Sistem ambisius ini, dirancang untuk menciptakan jaringan satelit komprehensif yang mampu mendeteksi, melacak, dan mencegat rudal yang datang. Trump mengeklaim, sistem ini akan “mampu mencegat rudal meskipun rudal itu diluncurkan dari belahan lain dunia, dan bahkan jika rudal itu diluncurkan dari luar angkasa.”
Proyek ini merupakan evolusi substansial dari apa yang awalnya diumumkan sebagai “Iron Dome for America” pada pekan pertama pemerintahan Trump, sebelum namanya diganti menjadi “Golden Dome” oleh Pentagon pada Februari 2025, kemungkinan karena masalah merek dagang dengan sistem “Iron Dome” milik Israel saat ini.
Guetlein sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala operasi antariksa di Angkatan Antariksa AS, dan memiliki pengalaman luas dalam pertahanan rudal dan kemampuan berbasis antariksa.
Pada Maret 2025, Guetlein menggambarkan cakupan proyek itu, menyebutnya “setara dengan Proyek Manhattan” dan mengatakan, proyek ini akan “membutuhkan upaya bersama dari jajaran petinggi top pemerintahan kita” dan “kehendak nasional untuk mewujudkan semua ini.”
Harga 175 miliar Dolar AS yang diumumkan oleh Trump, jauh di bawah perkiraan Kantor Anggaran Kongres AS sebelumnya, yang menyebutkan sistem tersebut dapat menelan biaya antara 161 miliar hingga 542 miliar Dolar AS selama 20 tahun, menurut laporan Bloomberg pada 5 Mei 2025.
Sebuah studi Dewan Riset Nasional AS dari tahun 2012, memperkirakan total biaya sistem pertahanan rudal boost-phase berbasis ruang angkasa, dapat mencapai 831 miliar Dolar AS pada 2025.
Secara terpisah, Senator Tim Sheehy, anggota Partai Republik dari Montana, yang mengepalai “kaukus Golden Dome”, baru-baru ini mengatakan kepada publik, “Kemungkinan besar biayanya mencapai triliunan jika dan ketika Golden Dome selesai dibangun,” menurut Space News.
Sejumlah analis pertahanan juga mempertanyakan tentang kelayakan teknis proyek ini, dengan menyebut kesulitan meningkatkan Iron Dome Israel untuk melindungi daratan yang luasnya sekitar 400 kali lebih besar.
Fungsi utama Sistem Israel adalah menangkis roket dan artileri jarak pendek, sementara sistem Amerika harus mampu menangkal rudal balistik dan hipersonik canggih.
Para kontraktor terkemuka bersaing menyediakan komponen-komponen utama berbasis satelit termasuk SpaceX, Palantir, dan Anduril, yang mengusulkan peluncuran konstelasi ratusan hingga ribuan satelit orbit rendah Bumi, untuk menyediakan pelacakan tiga dimensi yang berkesinambungan dan kemampuan mencegat.
Di Capitol Hill, anggota kongres dari Partai Republik telah bergerak memasukkan 27 miliar Dolar AS untuk Golden Dome ke dalam paket pertahanan senilai 150 miliar Dolar AS, yang dilampirkan dalam rancangan undang-undang rekonsiliasi pemotongan pajak Trump.
Menurut sejumlah pejabat Angkatan Antariksa AS yang dikutip dalam berbagai laporan berita, teknologi ini akan sangat bergantung pada sensor dan pencegat berbasis antariksa, untuk memberikan deteksi dini dan kemampuan respons yang cepat.
Kubu pendukung berpendapat, teknologi modern akan membuat konsep ini lebih layak, tidak seperti konsep pertahanan rudal sebelumnya seperti Inisiatif Pertahanan Strategis milik mantan Presiden AS, Ronald Reagan.
Sementara, kubu penentang memperingatkan, mempersenjatai luar angkasa berisiko menimbulkan perlombaan senjata baru dan merongrong perjanjian pengendalian senjata yang telah berusia puluhan tahun.
Direktur penelitian Union of Concerned Scientists, Laura Grego, menggambarkan rencana tersebut sebagai “fantasi”, dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Januari 2025 ini. Dia memperingatkan, musuh dapat mengembangkan langkah balasan mengalahkan sistem pertahanan berbasis antariksa.
Kelompok itu mengatakan, usulan terdahulu untuk mengatasi kelemahan sistem Pertahanan Midcourse Berbasis Darat, dengan membangun pertahanan rudal berbasis antariksa telah berulang kali diabaikan “karena mahal, sangat menantang secara teknis, dan mudah dikalahkan.”
“Gagasan Trump tentang pertahanan rudal berbasis antariksa, merupakan investasi yang buruk,” ujar kelompok itu menyimpulkan. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Wawasan Dunia: Pandangan Masyarakat Timur Tengah terhadap Kebijakan Trump di Timur Tengah
Saham-saham AS Melonjak Tinggi, Usai Trump Tunda Sejumlah Besar Tarif
Netanyahu dan Trump akan Langsungkan Pertemuan di Gedung Putih
Unjuk Rasa Menentang Kebijakan Pemerintahan Trump Digelar di AS dan Eropa







