Dia terlambat lebih dari satu jam. Saya duduk di sebuah kafe yang ramai di Tel Aviv, membaca kembali catatan saya untuk ketiga kalinya, dan bertanya-tanya apakah dia benar-benar akan datang. Saat saya hendak meninggalkan tempat itu, seorang remaja laki-laki dengan napas terengah-engah menerobos pintu.
PENULIS: Feng Guorui, Shuai Anning, Mamoun Wazwaz, dan Nidal Eshtayeh
“Saya sungguh minta maaf,” ujarnya dengan wajah memerah lantaran berlari. “Sinyal GPS kembali terganggu. Rute bus yang biasa saya naiki tidak beroperasi; dan saya harus berganti bus tiga kali untuk bisa sampai ke sini. Benar-benar kacau.”
Baca Juga: Negara-negara Arab Tolak Upaya Relokasi Warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat
Nama remaja itu Eitan. Dia berusia 17 tahun dan saat ini duduk di bangku sekolah menengah atas di Israel. Seperti banyak orang lainnya, hidup Eitan dijungkirbalikkan oleh putaran terbaru dari rangkaian kekerasan antara Israel dan negara-negara tetangganya.
Militer Israel mengacaukan sinyal GPS dalam upaya menggagalkan berbagai ancaman dari Hizbullah, Hamas, dan kelompok lainnya, namun dampaknya terasa hingga melampaui medan perang.
Baca Juga: Yordania Kirim 16 Helikopter Tambahan untuk Salurkan Bantuan ke Gaza
“Tidak hanya saya,” sambung Eitan. “Tak seorang pun dapat mengandalkan apa pun lagi, peta tidak berfungsi, bus tidak beroperasi, pengiriman dibatalkan. Seolah-olah seluruh negara kami telah kehilangan arah.”
Saya sangat memahami situasi yang dialami Eitan. Beberapa pekan sebelumnya, saya berkendara menuju sebuah lokasi penugasan di Israel utara. GPS saya berfungsi dengan baik selama sebagian besar perjalanan, hingga saya berada sekitar 10 Kilometer dari tujuan saya.
Baca Juga: Tim Penjinak Bom Palestina Mulai Netralkan Bahan Peledak Milik Israel di Gaza
Kemudian, tiba-tiba, peta di ponsel saya terus menerus menunjukkan bahwa saya sedang berada di suatu tempat di Yordania. Karena bingung dan tidak lagi memercayai perangkat itu, saya menepi untuk mengamati peta cetak, dan ternyata saya berada di zona militer terlarang.
Sejumlah tentara memberhentikan saya sebelum saya terlibat dalam masalah yang lebih besar.
Baca Juga: Lebih dari 500.000 Pengungsi Palestina Telah Pulang ke Gaza Utara
Bagi banyak warga Israel, gangguan sinyal bukanlah sekadar ketidaknyamanan. Gangguan itu merupakan ancaman bagi keselamatan mereka.
Di Haifa, saya bertemu dengan Aaron (19). Aplikasi peringatan dini pada ponsel Aaron gagal memberikan peringatan, saat roket menghantam lingkungan tempat tinggalnya.

“Aplikasi itu menggunakan GPS untuk mengirimkan peringatan,” urai Aaron. “Namun saat roket menghantam, ponsel saya mengira saya sedang berada di tengah-tengah Mediterania. Alih-alih melindungi saya, sinyal yang mengalami gangguan itu malah menempatkan saya dalam bahaya yang lebih besar.”
Baca Juga: Tenda Sementara Didirikan di Gaza bagi Pengungsi Palestina yang Pulang ke Rumah Mereka
Gangguan itu tidak hanya terjadi di perbatasan Israel. Menurut surat kabar Israel Haaretz, gangguan GPS memengaruhi sejumlah wilayah di Suriah, Yordania, Lebanon, dan bahkan Siprus.
Otoritas penerbangan Eropa telah mengeluarkan peringatan, terkait potensi risiko tersebut kepada para pilot dan pengawas lalu lintas udara.
Baca Juga: Gencatan Senjata Bawa Harapan bagi Warga Gaza untuk Bangun Kembali Kehidupan Pascaperang
Kekacauan itu dapat mendatangkan bahaya yang nyata bagi masyarakat. Sebuah studi bersama yang dilakukan Universitas Columbia Amerika Serikat dan sebuah pusat penelitian Israel, mengungkap bahwa tingkat gangguan stres pascatrauma, kecemasan, dan depresi di kalangan warga Israel meningkat hampir dua kali lipat sejak dimulai konflik.
Kisah Aaron membuktikan bahwa data statistik itu benar adanya. Menjalani wajib militer pada Oktober 2023, dia menghabiskan waktu selama tiga bulan bersama unit pencarian dan penyelamatan, menyisir reruntuhan untuk mencari penyintas.
Baca Juga: Kisah Dokter Gaza Merawat Anak-anak Korban Perang, Meski Cacat Akibat Serangan Udara Israel
“Hampir setiap hari, saya menggendong orang-orang ke luar dari rumah yang hancur,” ujar Aaron kepada saya. “Terkadang mereka masih hidup. Kadang-kadang mereka telah tiada. Bahkan saat ini, saya terkadang masih terbangun dari mimpi buruk, bercucuran keringat, dan mendengar jeritan. Saya tidak tahu lagi bagaimana menjalani kehidupan normal.”
Saat saya menulis artikel ini, kehidupan tampaknya telah kembali normal. Dengan diberlakukannya gencatan senjata antara Israel dan Hamas, sinyal GPS telah pulih, bus-bus kembali beroperasi sesuai jadwal, dan rutinitas sehari-hari kembali berlanjut.
Baca Juga: Jumlah warga Palestina yang Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza Tembus 46.000
Akan tetapi, untuk berapa lama? Akankah perdamaian ini bertahan lama, atau kandas seperti gencatan senjata yang rapuh pada November 2024 lalu?

Pada Selasa (11/2/2025), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kembali melontarkan ancaman bahwa jika para sandera yang ditahan di Gaza tidak diserahkan pada Sabtu (15/2/2025), gencatan senjata dengan Hamas akan dibatalkan, dan Israel akan melanjutkan “pertempuran intensif” di Gaza.
Baca Juga: Ancaman Perang Masih Hantui Gaza di Tengah Ketidakpastian Prospek Perdamaian
Gangguan sinyal GPS mungkin hanya disrupsi sementara. Namun, hal itu melambangkan disorientasi yang lebih dalam, yaitu masyarakat yang terjebak dalam siklus ketakutan dan ketidakpastian tanpa akhir, di mana sejarah seakan-akan terulang kembali secara terus-menerus.
Di tanah ini, di mana gencatan senjata terasa seperti hitung mundur menuju konflik berikutnya. Tantangan sesungguhnya bukanlah menemukan jalan untuk kembali ke keadaan normal, melainkan mencari jalan untuk terus maju, menuju perdamaian yang abadi. (hen/ xinhua-news.com)







