Menilik Kebangkitan Kota Dunhuang di China yang Kaya akan Peninggalan Budaya

Hewan unta hidup di daerah Dunhuang, Provinsi Gansu, China barat laut. (F. xinhua)

LANZHOU (Kepri.co.id – Xinhua) – Kota Dunhuang, Provinsi Gansu, China barat laut. Terletak di sebuah oasis di tepi Gurun Taklamakan, Dunhuang merupakan tempat perhentian utama di Jalur Sutra kuno, yang menghubungkan Timur dan Barat melalui aktivitas perdagangan yang hidup.

Kebudayaan Dunhuang yang unik terlukis jelas di Gua Mogao, yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Lanzhou, China. (XHTV)

Berasal dari abad keempat, situs ini memiliki 735 gua yang terpahat di sebuah tebing, yang saat ini menjadi rumah bagi lebih dari 2.000 patung warna-warni dan mural seluas 45.000 meter persegi.

Baca Juga: Telusuri Jejak Marco Polo ke China, Petualang Wanita Asal Italia Saksikan Transformasi Jalur Sutra

Dunhuang makin menarik para pengunjung dan cendekiawan dari seluruh dunia yang tertarik untuk menyelami signifikansi historis situs tersebut dan menyaksikan kebangkitan budaya modernnya.

Neil Schmid, seorang peneliti asal Amerika, mulai tertarik pada Gua Mogao di Dunhuang sejak kunjungan pertamanya tahun 1987.

Dedikasinya kian mendalam kala bergabung dengan Akademi Dunhuang tahun 2018, di mana dia terus mempromosikan signifikansi Dunhuang secara global.

“Ada begitu banyak peleburan budaya yang terjadi di Dunhuang selama lebih dari seribu tahun, dan kami melihat ada semacam harmoni di gua-gua tempat semua budaya ini terabadikan di dinding gua. Ada semacam harmoni, dan ini bukan penggambaran budaya dan interaksi budaya yang bersifat menang-kalah (zero-sum),” ujar peneliti di Akademi Dunhuang, Neil Schmid.

Baca Juga: Museum Makam Bawah Tanah Jalur Sutra Kuno Dibuka di Uighur

“Ini merupakan warisan budaya universal umat manusia. Peninggalan dari Dunhuang, dokumen dan mural yang digali, memiliki signifikansi penting bagi berbagai bidang. Keberadaan peninggalan ini sangat diperlukan untuk mendukung studi sejarah, termasuk sejarah Buddha, sejarah budaya, dan sejarah politik,” ujar Profesor di Universitas Renmin China, Kirill Solonin.

Dunhuang, yang memiliki populasi hanya 200.000 jiwa, telah menyambut lebih dari 7,24 juta pengunjung sejak Januari hingga akhir September 2024 ini, naik 21,54 persen secara tahunan (year on year/ yoy), ungkap biro budaya dan pariwisata setempat. (hen/ xinhua-news.com)