Ashraf al-Ajrami, seorang pakar Palestina yang berbasis di Ramallah, mengatakan, pemerintah Amerika Serikat (AS) mempraktikkan “kebohongan” ketika negara itu terus-menerus membicarakan tentang kemungkinan untuk menyelesaikan situasi dan mencegah konflik semakin memanas.
JANJI-JANJI KOSONG
JIKA memang pernyataan-pernyataan pemerintah AS dapat dipercaya, maka seharusnya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas sudah hampir tercapai sekarang.
AS telah secara aktif mengadvokasi penghentian permusuhan di Gaza sejak Mei 2024, dan secara terang-terangan mengklaim bahwa pihak-pihak terkait “lebih dekat daripada sebelumnya” untuk mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Mengungkap Peran Amerika dalam Eskalasi Konflik Gaza (Bagian 1)
Kendati demikian, meski ada komitmen publik untuk memediasi gencatan senjata, tindakan-tindakan yang diambil oleh AS menunjukkan cerita yang berbeda.
Sejak pecahnya konflik itu, AS telah menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB sebanyak empat kali, menolak resolusi yang berkaitan dengan konflik Gaza, dan menutup telinga terhadap seruan komunitas internasional untuk segera melakukan gencatan senjata.
Selain itu, AS secara terbuka mendukung aksi militer Israel terhadap Iran dan Lebanon.
Osama Hamdan, Juru Bicara Hamas, menuding AS “hanya memberikan waktu tambahan bagi Israel untuk melanjutkan genosida” dengan memberikan janji-janji kosong mengenai kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga: Peneliti Palestina Sebut Peran Mediasi AS Dalam Gencatan Senjata Gaza Diragukan
Untuk meredakan ketidakpuasan internasional atas dugaan kolusinya dengan Israel, AS tidak sepenuhnya mengabaikan bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza.
Sejak konflik dimulai, Washington telah menyalurkan ratusan juta Dolar AS dalam bentuk bantuan kemanusiaan ke wilayah itu.
Namun, bantuan ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan bantuan militer sebesar 8,7 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp15.680) yang diberikan AS kepada Israel.
Di tengah serangan tanpa henti yang dilancarkan Israel menggunakan bom buatan AS, para pengungsi Palestina di Gaza dipaksa berjuang demi mendapatkan remah-remah roti yang semakin langka.
Baca Juga: Bantuan Kemanusiaan Tertahan di Perlintasan Rafah Saat Krisis Gaza Kian Memburuk
Dukungan tanpa syarat dari AS, ditambah dengan kegagalan Washington mengamankan gencatan senjata di Gaza, telah memberanikan Israel menyatakan perang besar-besaran, dan mendorong wilayah tersebut ke tepi jurang, kata Elgindy, seorang senior fellow di Institut Timur Tengah (Middle East Institute), sebuah wadah pemikir (think-thank) yang berbasis di AS.
CITRA AS YANG HANCUR
Respons AS yang mengecewakan terhadap konflik antara Hamas dan Israel, telah secara signifikan menodai reputasi internasionalnya di Timur Tengah.
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan sebelumnya pada tahun 2024 ini oleh Arab Center Washington DC di 16 negara Timur Tengah, mengungkapkan bahwa 76 persen responden kini memandang peran AS di dunia Arab secara lebih negatif.
Baca Juga: Sekjen PBB Dorong Penekanan Kembali Pentingnya Resolusi Politik Atasi Krisis Gaza
Penyelesaian konflik regional yang sesungguhnya mengharuskan negara-negara, termasuk Palestina, “menikmati hak-hak kenegaraan, kedaulatan, dan keamanan yang setara,” ujar Rami G Khouri, seorang fellow terkemuka di Universitas Amerika di Beirut (American University of Beirut), dalam sebuah artikel di situs web Al Jazeera.
“AS dan Israel mengungkapkan pernyataan yang tidak jelas mengenai hal ini, tetapi tindakan mereka justru menghalangi upaya perdamaian yang serius dan mendorong konflik militer berkepanjangan,” ungkap Khouri.
Pendapat Khouri diamini Juan Cole, seorang profesor sejarah di Universitas Michigan, yang mengatakan, pemerintah AS membiarkan pemerintah Israel “sepenuhnya mengabaikan hukum internasional ketika menyangkut perlakuannya terhadap Palestina.”
“Singkatnya, kita saat ini sedang menyaksikan runtuhnya ikatan pengaruh AS di Timur Tengah,” tambah Cole dalam sebuah artikel opini di majalah The Nation.
Baca Juga: Sedikitnya 25 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Sekolah-Sekolah di Gaza City
The New York Times bahkan lebih lugas dalam penilaiannya terhadap peran Washington dalam konflik Gaza, dengan menyatakan secara blak-blakan, bahwa dampak AS dalam menyelesaikan krisis tersebut adalah “nol.”
Artikel itu lebih lanjut mengkritik kebijakan Biden di Timur Tengah, dengan menyatakan bahwa “setahun setelah serangan teror 7 Oktober 2023, kebijakan Biden di Timur Tengah tampaknya merupakan kegagalan baik secara praktis maupun moral.” (amr/ xinhua-news.com)







