Ilmuwan China Sembuhkan Pasien Diabetes Tipe 1 Secara Klinis via Terapi CiPSC-islet

Lini produksi injeksi antidiabetes terlihat di sebuah pabrik Novo Nordisk (China) Pharmaceutical Co Ltd di Tianjin, China utara, pada 22 September 2022. (F. Xinhua/Li Ran)

BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Sejumlah ilmuwan China merealisasikan penyembuhan klinis pasien diabetes tipe 1, dengan mentransplantasi sel islet yang berasal dari sel punca pluripoten yang diinduksi secara kimiawi (CiPSC-islet), menurut penelitian klinis yang diterbitkan di jurnal Cell, Rabu (25/9/2024).

Terapi CiPSC-islets yang ditujukan menyembuhkan diabetes tipe 1 ini, yang pertama dari jenisnya, dilakukan para ilmuwan medis dari Rumah Sakit Pusat Pertama Tianjin, Universitas Peking, Laboratorium Changping, dan Hangzhou Reprogenix Bioscience.

Baca Juga: Forum di Thailand Serukan Peningkatan Globalisasi Pengobatan Tradisional China

Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang mengancam kesehatan manusia, dengan diabetes tipe 1 sebagai salah satu bentuk yang paling parah.

Sulit untuk mencapai kontrol gula darah yang tepat melalui metode pengobatan saat ini, sehingga menimbulkan berbagai komplikasi yang sangat memengaruhi kualitas hidup pasien.

Menurut Wang Shusen dari Rumah Sakit Pusat Pertama Tianjin, salah satu penulis korespondensi (corresponding author) dalam penelitian tersebut, terapi transplantasi islet tradisional dapat meringankan masalah ini dan telah menunjukkan kemajuan yang jelas sebagai strategi pengobatan alternatif, tetapi kurangnya jumlah donor pankreas membuat aplikasinya terbatas.

Baca Juga: Goji Berry yang Digunakan Dalam Pengobatan Tradisional China Raih Popularitas Global

Dalam penelitian tersebut, seorang pasien wanita yang menderita diabetes tipe 1 selama 11 tahun, sepenuhnya bergantung pada pengobatan insulin dan menderita kontrol gula darah yang buruk.

Setelah transplantasi CiPSC-islet, dia mendapatkan kembali kemampuan untuk mengatur gula darahnya secara mandiri.

Setelah 75 hari transplantasi, dia menjadi bebas dari insulin dan tetap bebas dari injeksi insulin selama lebih dari setahun.

Baca Juga: Indonesia akan Kirim SDM Kardiovaskular ke China, Terima Pelatihan dan Kerja Sama Bidang kesehatan Kedua Negara

Semua indikator terkait diabetesnya telah mencapai level orang sehat, yang mengonfirmasi kesembuhan klinis pasien diabetes tipe 1 ini.

Menurut Deng Hongkui, Direktur Pusat Penelitian Sel Punca Universitas Peking, yang juga merupakan salah satu penulis penelitian itu, sel punca pluripoten memiliki kemampuan proliferasi yang tidak terbatas dan dapat berubah menjadi semua jenis sel fungsional.

Baca Juga: Peneliti China Identifikasi Terapi Bakteri yang Berpotensi Efektif Cegah dan Obati Kanker Usus Besar

Hal ini menjadikan sel punca pluripoten sebagai “sel benih” dalam pengobatan regeneratif.

Namun, mereka hanya ada pada tahap awal perkembangan embrio, dan kemudian berubah menjadi berbagai jenis sel dewasa yang membentuk organisme, sehingga kehilangan kemampuan “sel benih” mereka.

Baca Juga: Studi Ungkap Terapi Akupunktur Dapat Bantu Obati Kecanduan Opioid

Jika proses alami ini dibalik, sel-sel dewasa yang sudah mengalami perubahan signifikan bisa kembali ke kondisi pluripoten yang mirip dengan tahap awal perkembangan embrio.

Jika itu terjadi, “sel benih” ini dapat digunakan mempersiapkan sel dan jaringan manusia secara in vitro. Dengan cara ini, berbagai penyakit yang disebabkan penuaan, perubahan patologis, cedera, atau faktor genetik dapat diobati.

Deng memimpin sebuah tim untuk memprogram ulang sel somatik manusia menjadi sel punca pluripoten melalui pengaturan molekul kimia kecil, membuka jalan baru menyiapkan sel punca pluripoten manusia. Dia dianugerahi Future Science Prize 2024 dalam bidang ilmu hayati atas penelitiannya ini.

Baca Juga; Peneliti China Rancang Jam Tangan Pantau Kesehatan Secara Real-Time Lewat Keringat

Menurut Deng, CiPSC-islet menyediakan sumber baru digunakan dalam terapi transplantasi diabetes.

Sementara itu, pemrograman ulang kimiawi dapat menjadi teknologi inti universal untuk menyiapkan berbagai jenis sel fungsional secara efisien.

Hal ini membuka jalan baru untuk penerapan terapi sel secara luas dalam pengobatan penyakit-penyakit kronis. (amr/ xinhua-news.com)