Perusahaan China Lawan Serangan Siber dengan Bantuan Teknologi AI

Perusahaan China Lawan Serangan Siber dengan Bantuan Teknologi AI
Foto yang diabadikan pada 25 Februari 2020 ini, menunjukkan stan perusahaan keamanan terkemuka China, Qi-Anxin Group dalam konferensi keamanan siber RSA di San Francisco, Amerika Serikat. (F. Xinhua/Wu Xiaoling)

BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Pepatah China mengatakan: “balas tindakan seseorang dengan taktik yang sama seperti yang mereka lakukan kepadamu”.

Di saat kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) semakin berperan dalam serangan siber, perusahaan-perusahaan China mulai menggunakan teknologi AI generatif membangun pertahanan terhadap ancaman AI tersebut.

Baca Juga: Ratusan Pasis Seskoau Kunjungi China Pelajari Teknologi AI di Bidang Pertahanan

Qi-Anxin Group, sebuah perusahaan keamanan siber terkemuka China, merilis model QAX-GPT skala besar pada Maret 2024, dengan harapan dapat membantu dalam pengembangan produk keamanan, pendeteksian ancaman dan area kerentanan, serta analisis kejahatan terkait internet.

Model ini memiliki kemampuan investigasi dan penilaian yang mendekati kemampuan pakar keamanan tingkat menengah, sementara efisiensinya dalam hal peringatan dan penilaian, lebih dari 60 kali lipat dari upaya manual, kata Qi Xiangdong, ketua Qi-Anxin.

Sejak ChatGPT yang dikembangkan oleh OpenAI, menggemparkan dunia pada akhir tahun 2022, raksasa teknologi dan perusahaan rintisan di seluruh dunia berlomba-lomba dalam bidang AI dengan meluncurkan chatbot AI serupa, serta aplikasi industri berdasarkan model bahasa yang besar.

Baca Juga: Huawei dan BSSN Kerja Sama Pelatihan Keamanan Siber untuk 500 Personel TNI AU

Para ahli percaya bahwa perangkat AI generatif menurunkan hambatan masuk bagi pelaku ancaman dengan kemampuan pemrograman atau keterampilan teknis yang terbatas dan memperingatkan bahwa peretas telah mulai menggunakan alat AI generatif untuk membuat malware, dark web, dan alat lain untuk melakukan serangan siber.

Namun, alat AI tersebut merupakan pedang bermata dua bagi keamanan jaringan. Selain itu, juga terdapat kasus alat AI generatif telah dibuat menjadi senjata untuk melawan serangan siber.

Kurangnya personel dan sumber daya keamanan jaringan, yang menyebabkan peringatan diabaikan atau salah penanganan, merupakan kerentanan terbesar yang dihadapi keamanan jaringan, menurut survei Qi-Anxin.

Baca Juga: Pembaruan Perusahaan Keamanan Siber AS Picu Gangguan TI Global Skala Besar

“Guna menghindari dampak pada operasional, 99 persen peringatan yang menunjukkan ancaman keamanan siber memerlukan analisis ahli. Namun, jumlah ahli di perusahaan mana pun terbatas dibandingkan banyaknya peringatan yang muncul. Oleh karena itu, sistem analisis komprehensif yang didukung AI akan sangat meningkatkan pertahanan keamanan,” kata Qi.

Dibandingkan dengan ahli manusia, QAX-GPT mampu belajar jauh lebih cepat, memperoleh keahliannya dari kumpulan analisis, laporan, dan artikel yang terkait dengan keamanan siber, kata Zhang Zhuo, Wakil Presiden Qi-Anxin.

“Berbagai tantangan yang dihadapi keamanan siber meliputi kelangkaan ahli, menurunnya respons manusia terhadap peringatan, dan hambatan efisiensi. Model skala besar ini memungkinkan kita, untuk bertransformasi dari reproduksi barang menjadi reproduksi pengalaman ahli,” tutur Zhang.

China menjadi korban utama dalam peretasan dan serangan siber. Lebih dari 42 juta serangan malware terdeteksi di China tahun 2020, menurut sebuah laporan yang dirilis pengawas keamanan siber, National Computer Network Emergency Response Technical Team/ Coordination Center of China. (amr/ xinhua-news.com)