BATAM, Kepri.co.id – Pada 26 Oktober hingga 2 November 2026, Badan Pengusahaan (BP) Batam menggandeng PT Rekayasa Atmosfer Indonesia melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menurunkan hujan memenuhi waduk-waduk di Batam.
Sebelumnya, pada Mei 2026 lalu BP Batam melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menurunkan hujan memenuhi waduk-waduk. Ini menunjukkan, bahwa kelangsungan dan ketersediaan air bersih di waduk-waduk yang ada di Kota Batam, sangat rentan jika hujan tak turun.
Selain Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), BP Batam melalui Direktorat Badan Usaha Sitem Pengelolaan Air Minum (BU SPAM) dan Pengolahan Limbah menggelar pelaksanaan salat Istisqa (minta hujan, red) bersama masyarakat Kota Batam di area Waduk Nongsa, pada Jumat (9/10/2026).
Upaya yang dilakukan BP Batam dengan teknologi rekayasa cuaca dan mengetuk “pintu langit” dengan salat Istisqa, hal ini tidak boleh dianggap sepele.
Demi kelangsungan investasi dan kelangsungan kebutuhan hajat hidup warga yang tinggal di Batam, BP Batam harus mencari solusi terkait kebutuhan air bersih ini.
Salah satu solusi, membendung laut (desalinasi) sampai rasa asin atau rasa payau air laut hilang, baru bisa disalurkan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, daerah Rempang-Galang banyak pulau, sehingga antar pulau bisa dibendung dijadikan waduk (desalinasi). Setelah rasa asin air lautnya hilang, menjadi sumber air bersih. Semoga, BP Batam segera menjadikan desalinasi ini menjadi program strategis Utama,” ujar Parna, anggota Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) PWI Provinsi Kepri di Batam Centre, akhir pekan lalu.
Seperti diketahui, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Dr Amsakar Achmad SSos MSi, turun langsung ke Waduk Nongsa untuk melihat kondisi sumber air, sekaligus merespons keluhan warga terkait gangguan suplai air di kawasan Nongsa, Senin (5/10/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Amsakar menjelaskan, Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Nongsa saat ini berada pada kisaran 5,5 Meter di atas permukaan laut, atau mengalami penurunan sekitar 4,5 Meter dibandingkan kondisi normal.
Saat kondisi normal, rata-rata TMA Waduk Nongsa berada pada kisaran 10 Meter di atas permukaan laut. Pada kondisi puncak, TMA dapat mencapai sekitar 12,7 Meter di atas permukaan laut.
“Dengan kondisi yang terjadi seperti ini, BP Batam hendaknya membuat grand design yang memberikan solusi jangka panjang. Menurut saya, desalinasi solusi terhadap masalah kebutuhan air bersih Batam ke depan. Kalau mengharapkan curah hujan, berat!” pungkas Parna. (advertorial)
BACA JUGA:
Jaga Ketersediaan Air Baku Batam, BP Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
BP Gelar Salat Hujan Bersama Ratusan Warga di Waduk Nongsa
Amsakar Respons Keluhan Warga Nongsa: BP Batam Percepat Pengerjaan Interkoneksi Perkuat Suplai Air
Pasokan Air Nongsa Diperkuat, BP Batam Optimalkan Suplai dari Duriangkang
