Di sebuah kawasan di mana gejolak sudah menjadi hal yang biasa terjadi, rentetan peristiwa di Timur Tengah tahun 2024, tetap mengejutkan dunia karena intensitas dan kompleksitasnya.
KONFLIK Israel-Palestina memasuki tahun kedua, membuat Gaza terjebak dalam krisis kemanusiaan mengerikan dan menciptakan efek riak di Lebanon, Yaman, dan Iran.
Terlepas dari perang Israel di berbagai front, memanasnya pertempuran di Sudan, meningkatnya ketidakstabilan di Libya, serta tumbangnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah, menciptakan kekacauan lebih lanjut di Timur Tengah.
Tragedi kemanusiaan, pergeseran geopolitik, dan tantangan sosio-ekonomi yang menerpa kawasan itu sepanjang tahun, membayangi masa depan Timur Tengah tahun 2025.
MENINGKATNYA PERMUSUHAN
Ketika para mediator masih berupaya menjembatani jurang antara Israel dan Palestina, untuk menciptakan kesepakatan gencatan senjata di Gaza melalui negosiasi tidak langsung, Israel melancarkan lebih banyak serangan udara dan aksi pengeboman di daerah kantong yang rapuh tersebut.
Konflik yang sudah berlangsung selama 14 bulan ini, telah menewaskan lebih dari 45.300 warga Palestina dan melukai hampir 108.000 lainnya, menurut otoritas kesehatan Gaza.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, hingga awal Desember 2024, lebih dari 1,6 juta orang tinggal di tempat penampungan sementara, dengan 80 persen wilayah Gaza berada di bawah perintah evakuasi yang terus berlanjut sejak Oktober 2024.
“Tidak ada tempat yang aman bagi warga sipil di Gaza,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Tom Fletcher untuk urusan kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat, pada Senin (30/12/2024), dengan menyebutkan, lebih banyak warga sipil yang tewas di Gaza tahun 2024 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Potret Timur Tengah: Warga Terima Bantuan Makanan di Kamp Jabalia di Gaza
Konflik di Gaza, yang merupakan “pusat badai”, juga menyebar ke kawasan-kawasan tetangga, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa Timur Tengah berada di ambang perang regional yang lebih luas.
Serangan udara Israel terhadap Kedutaan Besar Iran di Suriah pada April 2024, mendorong Iran membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal berskala besar terhadap Israel, dan memicu pertikaian lebih lanjut di antara kedua belah pihak.
Israel kemudian membunuh Kepala Politbiro Hamas, Ismail Haniyeh pada Juli 2024 dan pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah pada September 2024. Pada bulan berikutnya, tank-tank Israel menyeberangi perbatasan dan memasuki wilayah Lebanon.
Meski ada gencatan senjata yang rentan antara Israel dan Hizbullah, yang berlaku sejak 27 November 2024 dan bertujuan mengakhiri konflik yang dilaporkan telah menewaskan 4.000 orang di Lebanon, pasukan Israel tetap melanjutkan serangan, sehingga menimbulkan lebih banyak korban jiwa.
Menyusul operasi militer selama 12 hari oleh kelompok-kelompok militan Suriah yang mengakibatkan jatuhnya pemerintahan al-Assad pada 8 Desember 2024, Israel melancarkan serangan udara ekstensif di Suriah dan memindahkan pasukannya ke zona demiliterisasi di dekat Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Baca Juga: Potret Timur Tengah: Konflik di Gaza Tak Patahkan Semangat Anak-Anak Palestina Menuntut Ilmu
Menjelang akhir tahun 2024, Israel bersumpah “bertindak dengan kekuatan” terhadap Houthi di Yaman di tengah aksi baku tembak yang semakin sengit antara kedua belah pihak.

“Saat ini, Timur Tengah menjadi medan pertempuran bagi Israel, yang terlibat dalam berbagai konfrontasi militer,” ungkap wadah pemikir Carnegie Endowment for International Peace yang berkantor pusat di Washington, pada pertengahan November 2024, seraya menambahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan sekutunya “tampaknya bersikeras mempertahankan konflik ini, menolak negosiasi dan penyelesaian politik.”
Baca Juga: Sekjen PBB: Sudah Saatnya Gencatan Senjata Segera Dicapai di Gaza
“Jika ada waktu untuk menggunakan superlatif mengenai urusan Timur Tengah, tahun 2024 adalah saat yang tepat. Penataan ulang kawasan ini disertai dengan kekerasan besar dan persaingan baru,” tulis Financial Times pada Minggu (22/12/2024) pekan lalu.
TANGAN YANG TAK TERLIHAT
Meski secara luas disepakati kekacauan di Timur Tengah harus dipahami terutama dari sudut pandang sejarah, yang menampilkan masalah-masalah yang belum terselesaikan di antara berbagai kelompok etnis di kawasan tersebut, banyak pakar sepakat, pengaruh eksternal dari Barat, terutama Amerika Serikat (AS), juga menjadi faktor kunci dalam perang gesekan yang sedang berlangsung di kawasan itu.
Pada pertengahan November 2024, Dewan Hubungan Internasional (Council on Foreign Relations), sebuah wadah pemikir AS, mengungkapkan bahwa “Israel telah lama menjadi penerima utama bantuan luar negeri AS, termasuk bantuan militer” dan bahwa “AS untuk sementara waktu melalui nota kesepahaman telah menyetujui memberikan bantuan kepada Israel senilai 3,8 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.251) per tahun hingga 2028.”
“Bantuan militer AS untuk Israel melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir di tengah perang Israel dengan Hamas di Jalur Gaza,” kata wadah pemikir tersebut. Mereka juga mengatakan, AS telah mengesahkan undang-undang yang memastikan pemberian bantuan militer langsung minimal senilai 12,5 miliar Dolar AS kepada Israel.
Para peneliti di Universitas Brown memperkirakan, pada awal Oktober 2024 bahwa pemerintahan Presiden AS, Joe Biden memberikan tambahan 17,9 miliar Dolar AS kepada Israel sejak dimulainya perang Gaza.
Meski AS menyebut dirinya sebagai mediator dalam gencatan senjata Gaza, negara itu berulang kali memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB, yang menyerukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Gaza.
Baca Juga: Fatah dan Hamas Sepakat Bentuk Komite untuk Kelola Gaza Pascaperang
Sebuah laporan Politico pada akhir September 2024 mengungkapkan, meskipun Washington secara terbuka mendesak Israel mengurangi serangannya terhadap Lebanon, tokoh-tokoh senior Gedung Putih secara pribadi mendukung upaya militer Israel terhadap Hizbullah.
Sebelumnya pada Desember 2024 ini, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken secara terbuka mengakui, usaha negaranya selama 20 tahun terakhir mengupayakan perubahan rezim di Iran tidak membuahkan hasil signifikan. (bersambung *** amr/ xinhua-news.com)







