GAZA (Kepri.co.id – Xinhua) – Hamas pada Minggu (25/8/2024) mengatakan, delegasinya menuntut Israel mematuhi apa yang telah disepakati pada 2 Juli 2024 lalu, berdasarkan pada apa yang dinyatakan dalam pidato Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga: Warga Gaza Yang Terluka, Hadapi Kondisi Mengancam Jiwa di Tengah Kekurangan Obat dan Bahan Bakar
Delegasi negosiasi Hamas meninggalkan Kairo pada Minggu (25/8/2024) malam waktu setempat, setelah bertemu dengan para mediator dari Mesir dan Qatar, serta menerima hasil dari putaran terakhir negosiasi gencatan senjata Gaza, kata Ezzat Al-Rashq, anggota Biro Politik Hamas, dalam sebuah pernyataan.
Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Gaza. (XHTV)
Kelompok tersebut siap mengimplementasikan apa yang telah disepakati sebelumnya, sebagai upaya mencapai kepentingan tertinggi masyarakat di Gaza termasuk menghentikan agresi terhadap mereka, menurut pernyataan tersebut.
Delegasi itu menekankan, setiap kesepakatan harus mencakup gencatan senjata permanen, penarikan penuh (pasukan) Israel dari Jalur Gaza, kembalinya penduduk Gaza ke rumah mereka, bantuan dan rekonstruksi, serta kesepakatan serius terkait pertukaran tahanan-sandera, tambahnya.
Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Hamas di Jalur Gaza, untuk membalas serangan kelompok itu di perbatasan Israel selatan pada 7 Oktober 2023, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan sekitar 250 orang disandera.
Baca Juga: Jumlah Warga Palestina yang Tewas di Gaza Bertambah Jadi 40.265 Orang
Sementara itu, jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, telah bertambah menjadi 40.405 orang, menurut otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza dalam sebuah pernyataan pada Minggu (25/8/2024).
“Saya dan saudara laki-laki saya, satu-satunya yang selamat dari pengeboman Israel yang menargetkan rumah empat lantai kami di Jabalia. Saya masih berharap perang akan berakhir, karena situasinya tidak bisa terus berlanjut seperti sekarang,” ujar Yahia Safi, warga Palestina. (hen/ xinhua-news.com)







