Ribuan Pelajar Palestina Gagal Ikut Ujian Akhir Akibat Konflik di Gaza

Warga Palestina memeriksa kerusakan sebuah sekolah akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Gaza City, pada 25 Juni 2024. (F. Xinhua/Mahmoud Zaki)

GAZA (Kepri.co.id – Xinhua) – Ujian akhir bagi pelajar sekolah menengah di Jalur Gaza, biasanya dianggap sebagai pintu gerbang mengejar impian dan ambisi. Namun, konflik yang sedang berlangsung di Gaza telah membuat banyak siswa kehilangan kesempatan penting ini.

“Seharusnya saya ikut ujian,” kata Rafea Iyad dengan nada kecewa, sembari menunjukkan foto teman-temannya dalam pekan ujian baru-baru ini.

Baca Juga: Imbas Konflik Gaza, Tingkat Pengangguran Palestina Capai 50,8 Persen

Pada Sabtu (22/6/2024), lebih dari 50.000 pelajar Palestina di Tepi Barat mengikuti putaran pertama ujian sekolah menengah atas (SMA) tahun ajaran 2023-2024. Sementara sekitar 39.000 pelajar dari Gaza tidak hadir karena konflik yang sedang berlangsung, menurut Kementerian Pendidikan Tinggi Palestina yang berbasis di Ramallah.

“Alih-alih memulai perjalanan menyongsong masa depan, saya malah terdampar di sini, di kamp-kamp pengungsian, tanpa kepastian akan nasib saya di tengah konflik yang menghancurkan ini,” keluh Iyad.

“Bagi pelajar Palestina, ujian SMA merupakan momen yang menentukan, yang membentuk nasib kami. Ujian itu menjadi kunci mengakses pendidikan universitas atau mengejar peluang di luar negeri,” jelasnya.

Iyad bercita-cita masuk ke Fakultas Kedokteran di Universitas Islam Gaza dan kemudian menjadi ahli kardiologi. Kini, mimpi itu hancur berantakan.

“Semua yang ada di Gaza telah hancur. Bukan hanya kehidupan sehari-hari dan bangunan, tetapi harapan dan cita-cita kami juga telah hancur,” imbuhnya.

Anak-anak Palestina terlihat di sebuah sekolah pascaserangan udara Israel di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Gaza City, pada 25 Juni 2024. (F. Xinhua/Mahmoud Zaki)

Tamer Mansour, siswa lain dari Gaza, mengungkapkan kekecewaan karena dirinya tidak dapat mengikuti ujian akhir.

Baca Juga: Anak-Anak di Gaza Genggam Harapan Perdamaian di Tengah Konflik Palestina-Israel

“Setelah 11 tahun mengenyam pendidikan, saya dan keluarga saya membayangkan bisa lulus ujian ini dan mendapatkan jalan masuk ke universitas. Namun, saya telah kehilangan semua impian saya, termasuk cita-cita menjadi seorang insinyur,” ujar siswa berusia 18 tahun ini.

Mansour dan keluarganya meninggalkan rumah mereka di Gaza City, mencari tempat yang lebih aman di Kota Deir al-Balah di Gaza tengah. Mengungsi dan tanpa penghasilan yang dapat diandalkan, Mansour saat ini bekerja sebagai pedagang kaki lima, membantu menghidupi keluarganya yang terdiri delapan orang.

“Saya kini memiliki tantangan yang jauh lebih sulit ketimbang meraih nilai bagus dalam ujian, yaitu bertahan hidup,” tuturnya.

Konflik di Gaza menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap sistem pendidikan. Sekolah-sekolah rusak atau hancur, dan banyak guru serta siswa yang tewas atau mengungsi.

Para siswa Palestina mengikuti pembelajaran tetap muka di sekolah tenda di Kota Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 30 April 2024. (F. Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Hingga 17 Juni 2024, konflik tersebut telah mengakibatkan hancurnya 110 sekolah dan universitas, dengan 321 sekolah dan universitas mengalami kerusakan parsial. Perang tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 10.000 pelajar, menurut kantor media yang dikelola Hamas di Gaza.

Baca Juga: Potret Timur Tengah: Konflik di Gaza Tak Patahkan Semangat Anak-Anak Palestina Menuntut Ilmu

Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) pada Minggu (23/6/2024), mengatakan, militer Israel mengebom 69 persen sekolah yang menampung para pengungsi di Gaza.

Dalam sebuah pernyataan terpisah pada 21 Juni 2024, badan PBB tersebut menyatakan, lebih dari 76 persen sekolah di Gaza membutuhkan rekonstruksi atau rehabilitasi besar-besaran, agar dapat beroperasi kembali. Diperlukan waktu bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan tahun, mengatasi kemunduran pendidikan yang disebabkan oleh konflik tersebut.

Meskipun terjadi kekacauan, Mansour tetap bertekad melanjutkan pendidikannya. “Meskipun kami memiliki prioritas lain saat ini, kami tetap berpegang teguh pada pendidikan,” ujarnya, seraya menambahkan, harapan untuk masa depan Gaza terletak pada pembelajaran. (asa/ xinhua-news.com)

Exit mobile version