Gelombang Laut 5 Meter Hantam Desai Lingai, Dermaga Rusak Parah

Cuaca Ekstrem, Gelombang Laut 5 Meter Hantam Desai Lingai
Dermaga Desa Lingai, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas rusak parah akibat hantaman gelombang laut setinggi lima Meter pada Sabtu (25/7/2026) pagi. (F. Latif Sabrian)

SIANTAN SELATAN (Kepri.co.id) – Cuaca ekstrem yang memicu gelombang laut setinggi kurang lebih lima Meter menghantam kawasan pesisir Desa Lingai, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas pada Sabtu (25/7/2026) pagi. Hantaman ombak besar yang terjadi secara tiba-tiba ini, mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur dermaga dan meluluhlantakkan fasilitas ekonomi milik nelayan setempat.

Berdasarkan rekaman video yang didapatkan redaksi dari status warga Lingai, terjangan ombak tampak berulang kali menghantam area dermaga utama desa. Kuatnya arus dan hempasan air laut, menyebabkan sebuah anjungan kayu yang menjorok ke laut roboh seketika. Air juga terlihat meluap deras membanjiri lantai beton dermaga, menyapu perlengkapan nelayan seperti tong air dan fiber (coolbox) yang berada di lokasi.

Kerusakan Masif dan Kerugian Puluhan Juta

Kepala Desa Lingai, Iskandar, mengonfirmasi tingkat keparahan insiden tersebut. Menurutnya, terjangan ombak tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga menghancurkan aset vital penunjang ekonomi warga pesisir.

“Habis, memang betul-betul habis. Yang jelas gudang cumi penampung habis semua. Itu milik sepupu saya, Jon, yang pengelolaannya dipegang oleh Rizani,” ungkap Iskandar saat dikonfirmasi via telepon, Sabtu (25/7/2026) malam.

Selain gudang penampungan hasil laut dan perlengkapan fiber nelayan yang tersapu ombak, infrastruktur publik juga terdampak. Iskandar memaparkan, jembatan penghubung di area dermaga yang baru saja selesai diperbaiki, kembali hancur berantakan akibat kuatnya hantaman gelombang.

Pemerintah Desa Lingai memastikan, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa ini. Namun, kerugian materiil ditaksir menembus angka yang signifikan bagi ukuran ekonomi nelayan tradisional.

“Alhamdulillah, kalau korban jiwa tidak ada. Kalau kerugian materiil, ini sudah lebih dari tiga puluh juta Rupiah,” tegas Iskandar.

Iskandar juga menegaskan, pihaknya telah memberikan imbauan kepada seluruh warga Desa Lingai, agar untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas melaut terhitung mulai hari ini demi keselamatan bersama.

Jeda Mitigasi: Absennya Peringatan Dini BMKG

Satu fakta krusial yang menjadi sorotan dalam insiden ini adalah absennya sistem peringatan dini (early warning system). Iskandar membenarkan, sebelum gelombang setinggi lima meter tersebut menghantam pesisir desanya, warga dan perangkat desa sama sekali tidak menerima informasi atau peringatan cuaca buruk dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kondisi ini terbilang anomali. Biasanya, otoritas terkait secara proaktif menyalurkan prakiraan cuaca maritim ekstrem kepada pemerintah desa, agar nelayan dapat menunda aktivitas melaut dan mengamankan aset di pesisir.

Ketiadaan informasi mitigasi ini, membuat warga terkejut dan tidak memiliki waktu cukup memindahkan barang-barang berharga mereka dari bibir dermaga.

Menanti Kehadiran Pemerintah Daerah

Pascakejadian, roda ekonomi nelayan di Desa Lingai lumpuh sementara waktu. Infrastruktur dermaga yang menjadi urat nadi pergerakan manusia dan barang, mengalami kerusakan struktural yang membutuhkan perbaikan segera.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons nyata maupun tindak lanjut dari instansi terkait di tingkat kabupaten. Kondisi ini, membuat warga dan pemerintah desa mendesak adanya langkah taktis dan strategis segera dari otoritas wilayah.

“Harapan kami, bantuan dari pemerintah cepatlah datang. Keadaan di sini parah sekali. Mengingat ini adalah mata pencaharian kami di sini,” pungkas Iskandar, menyuarakan urgensi intervensi dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas.

Hingga berita ini diturunkan, cuaca di sekitar perairan Siantan Selatan masih terpantau berawan tebal dengan potensi gelombang yang fluktuatif. Otoritas terkait diimbau, untuk segera mengaktifkan kembali rantai komando peringatan dini demi mencegah kerugian susulan di kepulauan terluar tersebut. (LS)

BERITA TERKAIT:

HNSI Anambas Perkuat Sinergi dengan Polri untuk Mengoptimalkan Pengawasan Wilayah Perbatasan Laut

Hindari Laka Laut, Kasatpol Airud Imbau Nelayan Anambas Nyalakan Lampu dan Pakai Life Jacket saat Melaut

 

Exit mobile version