MBG Jangan Dihentikan, Tata Kelolanya yang Harus Dibenahi

Dr Iskandar Zulkarnaen Nasution. (Sumber: Dok Iskandar)

Oleh: Dr Iskandar Zulkarnaen Nasution
Pengamat Kebijakan Publik, Alumni Universitas Pasundan

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis yang memiliki tujuan besar: memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup, sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Karena itu, perdebatan mengenai program ini sebaiknya tidak berhenti pada persoalan kekurangan dalam pelaksanaan, tetapi diarahkan pada bagaimana memperbaiki tata kelola agar manfaatnya semakin luas dan tepat sasaran.

Sebuah program besar yang menyentuh jutaan masyarakat tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Dalam perjalanan pelaksanaannya, mungkin ditemukan kelemahan, persoalan administrasi, maupun tata kelola yang belum sempurna.

Namun, solusi terhadap persoalan tersebut bukan dengan menghentikan program, melainkan melakukan evaluasi menyeluruh, memperbaiki kekurangan, dan memastikan tujuan awalnya tetap berada pada jalur yang benar.

MBG harus kembali kepada semangat awalnya, yakni meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda melalui pemenuhan gizi, terutama bagi anak-anak yang berisiko mengalami kekurangan nutrisi. Di sisi lain, program ini juga harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi rakyat melalui keterlibatan pelaku usaha kecil, petani, nelayan, peternak, hingga tenaga kerja lokal.

Bukan Sekadar Makan Gratis, tetapi Menggerakkan Ekonomi Riil

Salah satu dampak positif yang tidak boleh diabaikan dari program MBG adalah munculnya perputaran ekonomi di sektor riil. Ketika dapur penyedia makanan membutuhkan bahan pangan, maka ada rantai ekonomi yang ikut bergerak.

Kebutuhan beras, sayuran, telur, ikan, daging, bumbu dapur, hingga berbagai bahan pendukung lainnya akan membuka peluang bagi para pemasok lokal. Petani mendapatkan pasar yang lebih pasti, peternak memiliki permintaan yang stabil, pedagang kecil memperoleh peluang usaha, dan masyarakat sekitar mendapatkan lapangan pekerjaan baru.

Program MBG bukan hanya persoalan menyediakan makanan bagi anak sekolah, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Setiap Rupiah yang berputar dalam program ini berpotensi kembali ke masyarakat dalam bentuk pendapatan, upah pekerja, dan peningkatan daya beli keluarga.

Efek bergandanya sangat besar. Pekerja yang mendapatkan penghasilan dari sektor MBG, akan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan rumah tangga. Warung, pasar tradisional, usaha kecil, dan sektor jasa di sekitar mereka ikut merasakan manfaatnya. Inilah yang disebut sebagai penguatan ekonomi riil.

Di tengah tantangan ekonomi saat ini, program yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat tentu memiliki nilai strategis.

Evaluasi Sasaran Agar Lebih Tepat Manfaat

Meski demikian, keberhasilan MBG sangat bergantung pada ketepatan sasaran. Evaluasi penerima manfaat menjadi hal penting, agar program benar-benar dirasakan oleh kelompok yang paling membutuhkan.

Prioritas utama sebaiknya diberikan kepada siswa yang secara ekonomi maupun kondisi kesehatan lebih membutuhkan dukungan gizi. Sekolah-sekolah di wilayah pinggiran kota, daerah terpencil, maupun kawasan dengan tingkat kerentanan ekonomi tinggi perlu menjadi perhatian utama.

Bukan berarti siswa di sekolah lain tidak membutuhkan perhatian, tetapi pemerintah perlu memiliki skala prioritas, agar manfaat program dapat memberikan dampak terbesar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pendekatan berbasis data harus menjadi dasar dalam menentukan penerima manfaat. Data kondisi ekonomi keluarga, status gizi anak, serta karakteristik wilayah harus menjadi pertimbangan Utama, agar MBG tidak sekadar menjadi program pembagian makanan, tetapi benar-benar menjadi investasi pembangunan manusia.

SPPG Harus Menjadi Pusat Ekonomi Masyarakat

Selain penerima manfaat, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga harus menjadi perhatian. SPPG tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat produksi makanan, tetapi harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

SPPG idealnya melibatkan masyarakat lokal, baik sebagai tenaga kerja maupun mitra pemasok bahan pangan. Dengan demikian, keberadaan SPPG mampu meningkatkan pendapatan warga sekitar dan menciptakan rasa memiliki terhadap program tersebut.

Konsep ini penting, agar MBG tidak hanya menghadirkan manfaat bagi penerima makanan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar.

Selain itu, pembangunan SPPG perlu ditempatkan dalam perencanaan jangka panjang nasional. Dapur-dapur pelayanan gizi ini dapat dirancang sebagai jaringan fasilitas yang sewaktu-waktu dapat difungsikan sebagai dapur umum ketika terjadi bencana alam, keadaan darurat, atau kondisi krisis lainnya.

Dengan konsep tersebut, pemerintah tidak perlu membangun fasilitas baru secara mendadak ketika terjadi situasi darurat. Infrastruktur yang sudah tersedia dapat langsung dimanfaatkan untuk membantu masyarakat.

Perbaiki yang Kurang, Pertahankan yang Baik

Ada pandangan yang menyebutkan bahwa anggaran MBG lebih baik diberikan langsung kepada orang tua siswa agar mereka membeli makanan sendiri. Pendekatan tersebut memang terlihat sederhana, tetapi memiliki tantangan besar dalam pengawasan dan ketepatan penggunaan.

Pengalaman berbagai program bantuan langsung tunai (BLT) menunjukkan bahwa distribusi bantuan tunai membutuhkan sistem pendataan dan pengawasan yang sangat kuat, agar benar-benar sampai kepada kelompok yang berhak.

Sementara MBG memiliki keunggulan karena manfaatnya langsung terlihat: anak mendapatkan makanan bergizi, sekolah memiliki dukungan terhadap kesehatan siswa, dan masyarakat memperoleh peluang ekonomi dari rantai pasok yang terbentuk.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan menghentikan MBG, melainkan memperbaiki sistemnya. Transparansi anggaran, pengawasan kualitas makanan, pemilihan mitra pelaksana, serta evaluasi berkala harus menjadi bagian utama dalam penyempurnaan program.

Jika tata kelola diperkuat, MBG berpotensi menjadi salah satu program pembangunan yang memiliki dampak luas: memperbaiki gizi anak-anak, mengurangi kesenjangan kesehatan, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi masyarakat dari tingkat paling bawah.

Program besar memang membutuhkan koreksi dalam perjalanan. Yang kurang diperbaiki, yang sudah baik dipertahankan. Dengan pengelolaan yang tepat, MBG bukan hanya menjadi program makan gratis, tetapi dapat menjadi investasi besar bagi masa depan bangsa dan penggerak ekonomi rakyat. ***

*) Semua isi opini ini merupakan tanggung jawab penulis dan bukan sikap redaksi.

Exit mobile version