BP Batam dan Korea Sepakati Action Plan Perpanjangan Proyek IPAL

Pemberian cinderamata usai penandatanganan Memorandum of Meeting (MoM) pihak BP Batam dan Economic Development Cooperation Fund (EDCF) The Export-Import Bank of Korea, untuk kelanjutan Instalansi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Batam di Kantor The Export-Import Bank of Korea, Seoul, South of Korea, pada Kamis (22/12/2022) waktu Korea. (F. dok humas bp batam)

SOUL (Kepri.co.id) – Kebutuhan air di Kota Batam diprediksi akan terus mengalami peningkatan mencapai 7.000 liter per detik (lpd) pada tahun 2045.

Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Binsar Tambunan, mengatakan, Batam memiliki keterbatasan daya dukung lahan dalam mendorong pemenuhan air melalui bendungan atau waduk.

Menurutnya, perlu strategi pengembangan kapasitas penyediaan air baku alternatif, untuk memenuhi kebutuhan air minum yang akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sesuai arahan Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, tim BP Batam kemudian mendorong solusi pemenuhan kebutuhan air minum Batam ke depan, melalui konsep Batam Integrated Total Water Management (BITWM) strategi pengelolaan air dan limbah terpadu salah satunya adalah dari recycle Instalansi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).

Presentasi pihak BP Batam dan Economic Development Cooperation Fund (EDCF) The Export-Import Bank of Korea, untuk kelanjutan Instalansi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Batam di Kantor The Export-Import Bank of Korea, Seoul, South of Korea, pada Kamis (22/12/2022) waktu Korea. (F. dok humas bp batam)

“Pekerjaan konstruksi IPAL memang mengalami penundaan, akibat pandemi Covid-19 dan kendala teknis di lapangan yang merubah metode kerja. Adapun proyek IPAL tahap 1, saat ini telah mencapai 90,8 persen.” kata Binsar.

BACA JUGA:   BP Siapkan Hunian Sementara, Relokasi Warga Rempang ke Dapur 3 Sijantung

Sementara itu, General Manager Pengelolaan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan, dengan sejumlah upaya konsolidasi, Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam kemudian berhasil memastikan pekerjaan konstruksi IPAL dimulai kembali, setelah disetujui perpanjangan waktu hingga September 2024 oleh The Export-Import (Exim) Bank of Korea (EDCF) Korea selaku lender atau peminjam.

“Kementerian Keuangan RI, sebelumnya telah mengirimkan permohonan resmi ke The Export-Import (Exim) Bank of Korea (EDCF) dan telah disetujui,” ujar Iyus.

“Dengan ini, BP Batam mengharapkan komitmen dari Hansol, untuk segera memulai kembali sisa pekerjaan (10 persen),” tambah Iyus.

IPAL Ditargetkan Selesai Pada 2024

Sisa konstruksi pekerjaan IPAL harus selesai pada 2024. Hal tersebut disampaikan Binsar dan Iyus saat lawatannya di Kantor The Export-Import Bank of Korea, Seoul, South of Korea, pada Kamis (22/12/2022) waktu Korea.

BACA JUGA:   Ditresnarkoba Polda Kepri Amankan Kurir Sabu Jaringan Internasional Seberat 20,8 Kilogram

Dalam pembahasan turut hadir, Kepala Satuan Pemeriksa Intern Konstantin Siboro, Kepala Biro Keuangan Siswanto, Kepala Biro Hukum Alex Sumarna.

Kemudian Manager Operasional dan Pemeliharaan Unit Usaha Pengelolaan Lingkungan Raden Rara Elly Nugrahini, dan Kasubbag Dukungan Strategis Pimpinan Batam Lily Marlina.

Tim BP Batam, bertemu dengan perwakilan dari Economic Development Cooperation Fund (EDCF) The Export-Import Bank of Korea selaku lender; Sunjin Engineering & Architecture Co, Ltd selaku konsultan pengawas; Hansol Paper Co, Ltd selaku kontraktor pelaksana proyek.

Pertemuan ini secara khusus membahas action plan, tindak lanjut permohonan perpanjangan waktu, jadwal pengerjaan kontraktor dan supervisi, serta timeline penyelesaian proyek.

Komitmen tersebut kemudian dituangkan dalam Memorandum of Meeting (MoM), yang ditandatangani bersama semua pihak, yakni BP Batam, EDCF, Hansol, dan Sunjin.

MoM menyatakan komitmen semua pihak, untuk kembali memulai proyek pengerjaan IPAL di Batam, sesuai prosedur dan timeline pekerjaan tepat waktu.

BACA JUGA:   Melayu dan Betawi Miliki Kesamaan Budaya Pantun

Director of Asia Div III Philipines and Indonesia, EDCF Operations Dept.1, Mrs Jinny Lee yang menerima kunjungan, menyampaikan apresiasi kepada BP Batam yang telah gigih dan secara serius menyiapkan solusi kebutuhan air baku bagi Batam melalui IPAL.

“Kami mengapresiasi apa yang telah dilakukan BP Batam. Termasuk bagaimana meyakinkan publik, proyek ini merupakan kebutuhan jangka panjang dan sangat baik bagi lingkungan. Termasuk bagi Korea, ini merupakan tantangan,” kata Jinny.

Korea selama ini mampu mengembangkan sektor air semenjak 1960. Tercatat, Korea berhasil mengembangkan Waste Water Treatment Facilities/ IPAL sebanyak 698 (hingga 2020).

“Kami harapkan BP Batam dapat mengawal, dan kontraktor mengeksekusi pelaksanaan sesuai rencana. Semoga, kerja sama ini dapat terus berlanjut dan membawa manfaat bagi masyarakat,” tutup Jinny. (asa)