Mengapa Feed Instagram Gen Z Semakin Sepi?

Mengapa Feed Instagram Gen Z Semakin Sepi?
Silvi Aris Arlinda SIKom MIKom Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta. (Sumber: Dok Silvi)

Penulis: Silvi Aris Arlinda SIKom MIKom

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta

JIKA membuka akun Instagram milik banyak anggota Generasi Z hari ini, kita akan menemukan pemandangan yang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Tidak sedikit akun yang memiliki ribuan pengikut, tetapi hanya berisi beberapa unggahan, bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki postingan di feed. Sebaliknya, mereka justru aktif membagikan aktivitas sehari-hari melalui Instagram Story, Close Friends, atau akun kedua yang lebih dikenal sebagai second account.

Fenomena ini menarik. Di tengah budaya media sosial yang semakin berkembang, mengapa generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet, justru semakin jarang menggunakan feed sebagai ruang ekspresi?

Padahal, beberapa tahun lalu, feed Instagram merupakan etalase digital yang sangat penting. Orang berlomba-lomba mengunggah foto terbaik, mengatur tampilan grid agar terlihat estetik, dan menjadikan akun media sosial sebagai representasi identitas diri. Semakin menarik tampilan feed seseorang, semakin besar pula peluang memperoleh perhatian dan pengakuan sosial.

Namun pola tersebut tampaknya mulai berubah.

Bagi banyak Gen Z, feed Instagram kini bukan lagi ruang yang nyaman untuk berbagi kehidupan sehari-hari. Feed dianggap terlalu permanen, terlalu terbuka, dan terlalu mudah mengundang penilaian dari orang lain. Setiap unggahan dapat dilihat teman sekolah, keluarga, dosen, rekan kerja, hingga orang yang bahkan tidak terlalu dikenal.

Akibatnya, aktivitas yang seharusnya sederhana berubah menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan berkali-kali. Foto yang akan diunggah harus dipilih, diedit, dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Tidak sedikit yang kemudian bertanya dalam hati: “Nanti dikira pamer tidak ya?“, “Terlalu alay tidak ya?“, atau “Penting tidak sih kalau diposting?

Di sinilah muncul fenomena second account.

Bagi sebagian Gen Z, akun kedua menjadi ruang yang lebih aman untuk menampilkan diri apa adanya. Mereka dapat mengunggah foto yang tidak sempurna, membagikan aktivitas sehari-hari, mengeluhkan tugas kuliah, atau sekadar mengunggah hal-hal lucu tanpa khawatir dinilai terlalu serius oleh banyak orang.

Fenomena ini, menunjukkan adanya perubahan cara generasi muda memaknai media sosial. Jika dahulu media sosial digunakan untuk membangun citra diri di hadapan publik yang luas, kini banyak pengguna justru lebih nyaman berinteraksi dalam lingkaran yang lebih kecil dan lebih dekat.

Menariknya, perubahan tersebut terjadi pada saat personal branding semakin sering dibicarakan. Banyak pakar komunikasi dan pemasaran menekankan pentingnya membangun jejak digital yang positif. Media sosial bahkan menjadi salah satu sarana penting untuk menunjukkan kompetensi, karya, aktivitas, maupun pencapaian seseorang.

Namun di sisi lain, muncul budaya digital yang sering kali memberikan stigma negatif terhadap orang yang terlalu aktif menampilkan dirinya. Unggahan mengenai prestasi dapat dianggap pamer. Dokumentasi aktivitas bisa dianggap mencari perhatian. Bahkan, berbagi pengalaman sederhana pun terkadang memunculkan komentar sinis dari lingkungan digital.

Situasi ini menciptakan paradoks. Generasi muda didorong membangun personal branding, tetapi pada saat yang sama mereka juga hidup dalam budaya yang sering kali cepat memberikan penilaian terhadap setiap unggahan yang dibuat.

Tidak mengherankan, jika banyak Gen Z kemudian memilih jalan tengah. Mereka tetap aktif bermedia sosial, tetapi aktivitas tersebut dipindahkan ke Story, Close Friends, atau second account yang audiensnya lebih terbatas. Mereka tetap berbagi cerita, hanya saja tidak lagi kepada semua orang.

Dalam perspektif komunikasi, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran dari budaya publik menuju budaya semi-privat. Media sosial tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai panggung untuk menunjukkan siapa diri kita kepada dunia, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kenyamanan bersama kelompok yang dianggap aman.

Pada akhirnya, sepinya feed Instagram Gen Z bukan berarti mereka tidak ingin berbagi cerita. Justru sebaliknya, mereka tetap aktif berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Hanya saja, mereka lebih selektif menentukan kepada siapa cerita itu dibagikan.

Mungkin, inilah wajah baru komunikasi digital saat ini. Ketika ruang publik terasa semakin penuh dengan penilaian dan ekspektasi, generasi muda memilih mencari ruang yang lebih kecil, lebih aman, dan lebih autentik untuk menjadi dirinya sendiri. Feed boleh saja semakin sepi, tetapi percakapan di balik layar justru semakin ramai. ***

*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.