KITA hidup di zaman semua orang bisa jadi filsuf dadakan. Ide diobral murah di mana-mana, di ruang meeting ber-ac, di grup WhatsApp (WA) keluarga, sampai di bual-bual kedai kopi dari kopi masih panas mengepul sampai matahari sudah meninggi dan tukang kopi sudah bosan melihat muka kita. Semua ngomongnya besar, nadanya tinggi, tangannya ikut menari menjelaskan visi masa depan yang akan mengubah dunia. Giliran ditanya kapan mulainya, jawabnya nanti, minggu depan, tunggu modal, tunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat yang entah kapan datangnya, mungkin nunggu kiamat.
Inilah yang disebut the illusion of execution, ilusi eksekusi. Perasaan sudah mengerjakan sesuatu hanya karena sudah menceritakannya dengan hebat. Monolog kata-kata tanpa realita, narasi bernada tinggi tanpa realisasi, jadi singa kalau pidato tapi aksinya no. Bahasa melayu lamanya pas sekali, nak bikin tapi tak jadi. Angan-angan melambung tinggi sampai ke awan ke tujuh, sayang badannya masih setia di atas kasur, belum bergeser satu senti pun. Lucunya, dia sendiri percaya dia itu sibuk dan produktif, padahal sibuknya cuma di mulut.
Orang tua Melayu itu kalau menyindir pedasnya tidak main-main. Ada pepatah tong kosong nyaring bunyinya, paling kuat bunyinya biasanya paling kosong isinya. Ada lagi cakap berdegar-degar, habuk pun tak ada, guruhnya menggelegar satu kampung dengar, tapi hujan setetes pun tak turun. Atau yang paling sering kita lihat, hangat-hangat tahi ayam, panasnya cuma lima menit di awal, habis itu sejuk, hilang, menguap. Dan yang paling halus tapi menusuk, indah kabar dari rupa, ceritanya saja yang indah didengar, barangnya tidak pernah ada. Kalau dibaca sambil ngopi rasanya lucu, tapi kalau kena di diri sendiri rasanya langsung ketawa sambil tersipu malu, karena diam-diam kita semua pernah jadi orang itu.
Untuk memahami mengapa banyak orang memiliki gagasan besar tetapi gagal mewujudkannya, beberapa pakar dari berbagai disiplin ilmu telah memberikan penjelasan yang saling melengkapi.
Derek Sivers adalah seorang pengusaha, penulis, dan pembicara berkebangsaan Amerika Serikat yang kemudian menjadi warga negara Selandia Baru. Ia dikenal sebagai pendiri CD Baby dan penulis buku Anything You Want (2011). Melalui presentasi TED berjudul Keep Your Goals to Yourself (2010), Sivers menjelaskan, ketika seseorang terlalu sering menceritakan tujuan besarnya dan memperoleh pujian dari orang lain, otak akan menghasilkan rasa puas yang menyerupai pencapaian nyata.
Kepuasan psikologis tersebut, justru dapat mengurangi dorongan untuk benar-benar bekerja mewujudkan tujuan itu. Dengan kata lain, seseorang dapat merasa telah melangkah jauh, padahal belum melakukan apa pun. Ini yang bikin banyak orang kenyang dipuji padahal belum masak apa-apa.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof Dr Peter M Gollwitzer, seorang psikolog sosial berkebangsaan Jerman yang mengajar di New York University, Amerika Serikat, dan University of Konstanz, Jerman. Ia dikenal luas melalui teori implementation intentions yang dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul Implementation Intentions: Strong Effects of Simple Plans di jurnal American Psychologist (1999). Penelitiannya menunjukkan adanya intention-action gap, yaitu kesenjangan antara niat dan tindakan.
Menurut Gollwitzer, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh besarnya niat, tetapi oleh kemampuan menerjemahkan niat menjadi rencana tindakan yang spesifik, terukur, dan langsung dapat dilaksanakan. Jadi bukan sekadar bilang saya mau sukses, tapi jam berapa, di mana, dan apa langkah pertamanya yang bisa dieksekusi hari ini.
Sementara itu, Steven Pressfield adalah seorang novelis dan penulis nonfiksi berkebangsaan Amerika Serikat yang banyak menulis tentang kreativitas, produktivitas, dan disiplin. Dalam bukunya yang sangat berpengaruh, The War of Art (2002), ia memperkenalkan konsep resistance, yaitu hambatan psikologis yang berasal dari dalam diri sendiri.
Resistance membuat seseorang terus menunda pekerjaan dengan berbagai alasan yang tampak logis, seperti merasa belum siap, masih menyusun strategi, atau menunggu waktu yang tepat. Padahal, semua itu sering kali hanyalah bentuk ketakutan untuk memulai. Alasan-alasan keren itu sebenarnya selimut untuk kemalasan yang tidak mau kelihatan malas.
Ketiga pemikiran tersebut saling melengkapi. Derek Sivers mengingatkan, terlalu banyak berbicara tentang tujuan dapat menciptakan kepuasan semu. Peter Gollwitzer menjelaskan, niat harus diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata dan terencana. Steven Pressfield mengingatkan, musuh terbesar manusia bukanlah kegagalan, melainkan rasa takut dan kecenderungan menunda yang muncul dari dalam diri sendiri.
Dari ketiga pandangan tersebut dapat ditarik satu pelajaran penting: ide tanpa eksekusi adalah ilusi, sedangkan aksi tanpa prediksi hanyalah halusinasi. Keberhasilan hanya akan lahir ketika gagasan yang baik dipadukan dengan perencanaan yang matang, keberanian untuk memulai, serta konsistensi dalam bertindak hingga tujuan benar-benar tercapai.
Jadi, berhentilah jadi juru bicara untuk mimpi-mimpi sendiri. Jangan jual ide, cicil aksi. Prinsipnya sederhana saja, kerja dalam senyap. Diam-diam ubah rencana besarmu jadi langkah kecil yang memalukan kalau tidak dikerjakan. Mau nulis buku, jangan umumkan, tulis satu paragraf hari ini. Mau buka usaha, jangan sibuk bikin logo dulu, jual satu barang dulu hari ini.
Dunia ini tidak kekurangan pemimpi yang hebat berpidato di atas kasur, dunia itu kekurangan tukang yang mau mengotori tangannya. Biar lambat asal selamat, biar sedikit asal bukit. Sedikit yang jadi bukit itu jauh lebih terhormat daripada banyak yang jadi angin. ***
