GAZA (Kepri.co.id – Xinhua) – Di Gaza, siklus pengungsian tanpa henti telah menghancurkan mimpi banyak orang, memaksa jutaan warga berulang kali meninggalkan tanah kelahiran mereka akibat serangan Israel, yang telah menghancurkan setiap sudut daerah kantong padat penduduk tersebut.
“Bagi kami, memikirkan masa depan sungguh melelahkan,” ujar Masada Al-Hamzawi (32), janda sekaligus pengungsi Palestina asal Beit Hanoun di Gaza timur laut. Dia telah menanggung pedihnya pengungsian di berbagai area di Jalur Gaza.
Baca Juga: Kisah Sukarelawan Pelajar Palestina, Lantunkan Lagu-Lagu Harapan Hibur Warga Gaza yang Terpuruk
Sebagai satu-satunya penyedia kebutuhan hidup bagi kelima anaknya sejak kepergian sang suami tahun 2013, Masada menggantungkan harapan untuk masa depan yang lebih baik di tengah tantangan membesarkan anak-anak yatim.
“Namun, semua harapan saya hancur ketika perang dimulai,” ujarnya. “Saat ini, kami tidak tahu apakah kami masih bisa hidup menyongsong hari esok, apalagi membangun kembali apa yang telah hancur,” ujarnya.
Masada kini tinggal bersama anak-anaknya di sebuah tenda di pantai Deir al-Balah di Gaza tengah, di mana suhu panas yang menyengat menjadikan kehidupan sehari-hari tak tertahankan.
“Bertahan hidup adalah perjuangan sehari-hari, tanpa ada prospek masa depan yang lebih baik,” tambahnya. Dia juga merasa khawatir, keluarganya akan dipaksa terus mengungsi, seperti kakek dan neneknya.

Emad Abu Hamad, pengungsi lainnya yang berasal dari Khan Younis di Gaza selatan, menuturkan, konflik dan pengungsian telah menghancurkan kehidupan normal dan nyaman yang dia jalani sebelumnya.
Baca Juga: Anak-Anak di Gaza Genggam Harapan Perdamaian di Tengah Konflik Palestina-Israel
“Sebelum konflik, saya berprofesi sebagai tukang ledeng, mengantongi pendapatan sekitar 500 Dolar AS (1 dolar AS = Rp16.420) per bulan,” kenang ayah berusia 32 tahun tersebut.
“Penghasilan itu tidak seberapa, namun itu menopang keluarga saya dan memungkinkan kami melewati masa-masa sulit,” ujarnya.
Hidupnya begitu sederhana saat itu, dipenuhi berbagai perayaan kecil-kecilan dan mimpi akan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anaknya. Namun, semuanya berubah beberapa bulan lalu, saat Emad dan keluarganya dievakuasi secara paksa militer Israel.
“Kami mengungsi dalam tenda-tenda di Al-Mawasi, Khan Younis, mendengar rentetan serangan Israel yang terus-menerus menerpa lingkungan kami,” tuturnya. Suatu hari saat pulang ke daerahnya, Emad sangat terpukul mendapati rumahnya telah menjadi puing-puing.
Dengan terbatasnya kebutuhan hidup seperti air, makanan, dan listrik, Emad dan anak-anaknya kini harus rela mengantre panjang, memperoleh barang-barang esensial guna bertahan hidup.
“Saya biasanya membeli makanan dan air bersih, tanpa diselimuti kekhawatiran. Namun kini, kami terkadang harus meminum air asin, yang berdampak pada kesehatan kami,” ujarnya.
Bahkan, untuk memastikan makanan pokok pun menjadi tantangan tersendiri bagi Fatima, istri Emad, tanpa ada gas masak.

“Saya telah memasak menggunakan kayu bakar selama berbulan-bulan,” kata Fatima. “Hal itu menjaga kami, agar tetap hangat selama musim dingin, namun pada musim panas yang terik ini, (rasanya) tak tertahankan berada di dekat api, bahkan untuk beberapa menit saja.”
Baca Juga: Potret Timur Tengah: Konflik di Gaza Tak Patahkan Semangat Anak-Anak Palestina Menuntut Ilmu
Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East/ UNRWA) memperkirakan, sekitar 1,7 juta warga Palestina, atau sekitar 75 persen dari total populasi Gaza, saat ini mengungsi di sejumlah daerah seperti Khan Younis dan Gaza tengah, dengan banyak di antara mereka harus mengungsi beberapa kali.

“Keluarga-keluarga di Gaza terus mengungsi mencari tempat yang aman,” kata UNRWA dalam sebuah pernyataan pada Senin (17/6/2024), sembari menyoroti upaya berat mereka dalam memperoleh keamanan di tengah gejolak yang tak kunjung usai tersebut. (asa/ xinhua-news.com)







