BATAM (Kepri.co.id) – Pemilihan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) 2029 makin seksi dan beberapa sudah ada yang memanaskannya di media sosial seperti FaceBook (FB). Sejumlah nama sudah muncul ke permukaan. Ada Nyanyang Haris Pratamura (Wakil Gubernur aktif), H Muhammad Rudi (mantan Walikota dan Kepala BP Batam), Nurdin Basirun (mantan Gubernur), Soerya Respationo (mantan Wakil Gubernur dan tokoh senior PDIP), Ismeth Abdullah (mantan Gubernur pertama Kepri dan mantan Kepala BP Batam), Irjen Pol (Purn) Drs Yan Fitri Halimansyah MH (mantan Kapolda Kepri), H Dharma Setiawan (anggota DPD RI Kepri peraih suara terbanyak), dan Rizki Faisal SE MM (anggota Komisi III DPR RI).
Master Sains Politik Lulusan Universitas Kebangsaan Malaysia, Iskandar Zulkarnain Nasution SIP MPhil yang juga kandidat Doktor Kebijakan Publik Universitas Pasundan, mengulas siapa yang paling berpeluang? Berikut analisa populernya dari sudut politik, sosiologi pemilih, dan psikologi pemimpin yang diterima redaksi Kepri.co.id:

1️⃣ Nyanyang Haris Pratamura SE MSi
Keunggulan:
Saat ini menjabat Wakil Gubernur (Wagub) aktif, sering turun ke masyarakat hingga ke pulau-pulau.
Figur muda, enerjik, mudah diterima generasi milenial.
Dekat dengan tokoh agama dan pemilih Melayu.
Kelemahan:
Basis suara di Batam belum sekuat kandidat lain.
Popularitas belum merata di seluruh kabupaten/ kota.
Sebagai partai penguasa, perlu mesin partai yang lebih solid untuk skala provinsi.
Kesempatan: Jika mampu memanfaatkan posisinya sebagai Wagub aktif dan menggandeng tokoh berpengaruh Batam, Nyanyang bisa menjadi kuda hitam.

2️⃣ H Muhammad Rudi
Keunggulan:
Mantan penguasa Batam, wilayah dengan suara terbesar di Kepri.
Terkenal dengan proyek pembangunan jalan, bandara, dan pelabuhan.
Figur pekerja keras, dekat dengan masyarakat Batam.
Kelemahan:
Isu ”Batam-sentris” bisa jadi kelemahan di luar Batam.
Beberapa kritik terkait penggusuran dan penataan lahan.
Harus menjaga relasi baik dengan BP Batam dan pusat agar stabil.
Kesempatan: Jika sukses meyakinkan kabupaten lain bahwa pembangunan Batam berdampak untuk Kepri, Rudi bisa menjadi kandidat terkuat.

3️⃣ Dr H Nurdin Basirun SSos MSi
Keunggulan:
Pernah menjabat Gubernur Kepri, punya pengalaman dan jaringan birokrasi.
Dekat dengan nelayan, tokoh Melayu, dan warga pesisir.
Figur santai dan mudah bergaul dengan masyarakat.
Kelemahan:
Pernah tersandung kasus hukum, perlu kerja keras memulihkan citra.
Basis massa lama belum tentu solid mendukung kembali.
Isu pembaruan program harus diangkat agar tidak dianggap usang.
Kesempatan: Jika berhasil melakukan rebranding, Nurdin masih punya peluang memanfaatkan jejaring lama dan simpati masyarakat pesisir.

4️⃣ Prof Dr HM Soerya Respationo SH MH MM
Keunggulan:
Senior di politik Kepri, mantan Wagub, dekat dengan struktural PDIP.
Memiliki kemampuan komunikasi politik yang baik.
Pernah meraih suara cukup tinggi pada Pilgub sebelumnya.
Kelemahan:
Usia yang relatif senior dibanding kandidat lain.
Basis suara di Batam masih kalah dengan Rudi.
Perlu narasi segar agar menarik pemilih milenial.
Kesempatan: Dengan mesin PDIP, Soerya masih bisa jadi penantang kuat jika koalisi besar terbentuk.

5️⃣ Drs H Ismeth Abdullah
Keunggulan:
Gubernur pertama Kepri, figur senior yang dihormati banyak kalangan.
Pengalaman panjang di birokrasi dan pembangunan.
Memiliki pengaruh di kalangan Melayu tua.
Kelemahan:
Usia menjadi tantangan di era pemilih muda.
Jarang muncul di isu kekinian Kepri, terutama di Batam.
Basis relawan lama sudah terpecah oleh waktu dan dinamika politik baru.
Kesempatan: Jika ingin comeback, perlu langkah konsolidasi dan narasi nostalgia kepemimpinan bersih dan tegas.

6️⃣ Irjen Pol (Purn) Drs Yan Fitri Halimansyah MH, walau sudah pensiun namun gerak sosialisasi ke daerah daerah bersosialisasi mulai terdengar dan disambut hangat oleh masyarakat.
Dukungan Kelompok Luas & Emosional Kepulauan Riau
Terdapat dukungan antaretnis dari Melayu, Tionghoa, Jawa, Batak, nelayan, dan tokoh agama.
Rekam Jejak Karier dan Kepemimpinan
Sebagai Kapolda Kepri sejak Desember 2023, Yan Fitri diakui mampu menghadirkan stabilitas, dekat dengan masyarakat, dan memiliki prestasi hukum yang kuat.
⚠️ Tantangan yang Harus Diatasi
Sebagai calon non-politisi, keberhasilan Yan Fitri bergantung pada dukungan partai. Menurut pengamat, selain popularitas, tiket partai (minimal 20% kursi DPRD Kepri) adalah tiket mutlak
Mobilisasi Suara Gerakan Rakyat
Meskipun didukung banyak komunitas, tantangan praktisnya adalah merangkul semua elemen—bersifat merakyat sekaligus efektif secara politik dan organisasi.
Peluang Strategis
Profil kuda hitam (dark horse): Posisi sebagai figur baru dengan popularitas, kapabilitas hukum, dan sentuhan emosional pada masyarakat, memberi potensi besar jika bisa menguasai momentum.
Isu keamanan dan kesinambungan: Irjen Pol (Purn) Drs Yan Fitri Halimansyah bisa menawarkan narasi kuat, bahwa Kepri butuh pemimpin yang mampu menjaga ketertiban, menghormati akar budaya lokal, dan menjamin keadilan hukum—nilai unggul bagi pemilih.
Kesimpulan
Irjen Pol (Purn) Drs Yan Fitri Halimansyah MH memiliki modal elektoral yang kuat, basis dukungan (informal) lintas etnis dan komunitas, serta reputasi pribadi yang mumpuni. Namun, jalan menuju pencalonan bergantung pada kemampuan membangun koalisi partai, merangkul pemilih luas (khususnya di luar Batam), dan memposisikan diri sebagai figur alternatif yang lebih unggul secara ide, visi, dan jaringan.
Untuk benar-benar lolos menjadi kandidat dan menang, ia harus:
Mengamankan dukungan partai (tiket DPRD minimal 20%).
Memperkuat kesiapan tim kampanye dan logistik.
Dengan keunggulan struktur popularitas dan dukungan emosional, peluangnya sangat nyata—tetapi tidak otomatis. Kuncinya terletak pada strategi politik, penggalangan koalisi formal, dan bagaimana ia merakit kekuatan akar rumput.

7️⃣ Iman Sutiawan SE, Ketua DPRD Provinsi Kepri (2024–2029) setelah sebelumnya 2 periode sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Batam. Ini memberinya basis kekuasaan legislatif yang luas, pengaruh terhadap arah kebijakan daerah, dan jaringan politik yang kuat.
• Basis Elektoral Lokal
Pada Pileg 2024, Iman meraih suara tertinggi se-Dapil Belakangpadang–Sekupang (32.926 suara), menunjukkan popularitas dan daya tarik politik luar biasa di Batam dan sekitarnya.
• Dukungan Partai Formal
Sebagai Ketua DPD Gerindra Kepri, ia memiliki akses langsung ke mesin politik partai. Gerindra memegang 9 kursi DPRD, cukup untuk memenuhi syarat minimal pengusungan (20 %) bagi calon kepala daerah.
• Kegiatan dan Penguatan Relasi
Aktivitas seperti peresmian bantuan 400 paket sembako pada Ramadan 2025 dan sinergi aktif dengan lembaga keagamaan (MUI, LAM) memperkuat citra pelayanan masyarakat dan keberpihakan kepada nilai lokal.
⚠️ Tantangan yang Harus Diantisipasi
Meski kuat di Batam, ia perlu meningkatkan dukungan di kabupaten/ kota lain (Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, dan Anambas) agar memenuhi syarat suara wilayah luas sebagai calon gubernur.
• Persaingan Parpol
Calon lain dari partai besar dapat menggalang koalisi lebih luas. Iman perlu menjaga loyalitas Gerindra dan mencari mitra koalisi yang solid.
• Citra Pelayanan vs Prestasi Kebijakan
Popularitas belum cukup tanpa narasi kuat soal capaian legislatif yang konkret (misalnya peningkatan ekonomi lokal, tata kelola daerah, kesetaraan distribusi infrastruktur).
Kesimpulan
Iman Sutiawan SE memiliki modal politik signifikan: rekam jejak legislatif, basis pemilih loyal, dan dukungan partai Gerindra. Jika ia mampu: memperluas daya jangkau ke seluruh wilayah Kepri, mengukuhkan koalisi politik teknis, maka peluangnya menjadi calon Gubernur Kepri unggulan untuk Pilgub 2029 sangat terbuka.

8️⃣ H Dharma Setiawan, suara terbanyak di DPD RI Kepri.
Pada Pemilu 2024, Dharma meraih suara tertinggi dari semua kandidat DPD Kepri: 172.868 suara, unggul signifikan atas peringkat kedua Ria Saptarika (162.400 suara). Juga unggul di kota Tanjungpinang dan lintas kabupaten.
Citra Tokoh Sosial & Sederhana
Sebagai senator, ia dikenal dekat dengan masyarakat, rendah hati, proaktif memperjuangkan aspirasi lokal, dan mendukung pembangunan infrastruktur sosial—termasuk renovasi rumah ibadah dan pembekalan Kepri.
✅ Kekuatan Utama
Sebagai petahana DPD yang paling dipilih, Dharma sudah memiliki pengenalan politik luas dan dukungan masyarakat sejak tingkat akar rumput.
Jalur Politik Bersih dari Polemik
Ia bukan mantan birokrat atau militer yang rentan kasus, namun politiknya lebih bersih, berbasis sosial, dan pembangunan.
Jangkauan Geografis Luas
Elektabilitasnya menyebar merata: unggul tidak hanya di Batam dan Tanjungpinang, tapi juga satu kota lainnya dan lima kabupaten Kepri—menunjukkan potensi calon daerah yang merata.
⚠️ Tantangan Strategis
Lolos di Pilgub butuh dukungan partai dengan minimal 20% kursi DPRD Kepri. Dharma perlu membangun relasi solid dengan partai-partai besar.
Narasi Kebijakan & Visi Provinsi
Harus menyusun program pembangunan konkret: ekonomi, pariwisata, infrastruktur, pemerataan sosial, yang siap dikomunikasikan kepada publik.
Strategi Memperkuat Peluang
Koalisi Parpol: Menyusun aliansi formal untuk tiket dan dukungan legislatif.
Program & Visi: Susun roadmap bertema kesejahteraan sosial, investasi, infrastruktur, dan penguatan kelembagaan lokal untuk publikasinya.
Ekspansi Relasi: Dorong kegiatan sosial publik dan dialog dengan tokoh masyarakat di luar basis elektoralnya.
Branding Legislatif: Tonjolkan konten tentang aspirasi dan turun langsung ke masyarakat dalam kampanye.
Kesimpulan
H Dharma Setiawan memiliki modal elektoral dan reputasi sosial yang kuat sebagai basis awal. Catatan suaranya yang tertinggi di DPD RI, menunjukkan potensi tinggi sebagai figur calon gubernur. Namun, kunci sukses menuju Pilgub 2029 terletak pada:
Strategi koalisi politik yang matang;
Visi pembangunan yang inklusif dan detail;
Mesin kampanye yang efektif menjangkau seluruh wilayah Kepri.
Jika dijalankan dengan tepat, Dharma memiliki peluang signifikan untuk menjadi kandidat gubernur pilihan rakyat Kepri pada 2029.

9️⃣ Rizki Faisal SE MM, Sekretaris DPD Golkar Kepri dan Wakil Ketua DPRD (periode 2019–2024), serta kini Anggota Komisi III DPR RI (Dapil Kepri) sejak 2024—memberinya struktur politik dan jaringan kuat antar daerah.
Kemenangannya di DPR RI (73.664 suara) menjadikannya figur populer di internal partai dan di mata publik Kepri.
Pengalaman Organisasi & Sosial
Ketua IMI Kepri (2022–2026), Ketua Federasi Barongsai, dan Ketua Dewan Pertimbangan Bapera Kepri, menunjukkan jangkauan luas di berbagai komunitas dan publik.
Figur pegiat otomotif mendapat dukungan yang solid.
Citra Aktivis Reformasi 98 & Profesional
Aktivis ’98, lulusan Lemhanas, dan dikenal dekat dengan nilai reformasi, modernitas, serta kesejahteraan—membangun citra sebagai figur bermoral dan berwawasan nasional.
⚠️ Tantangan yang Dihadapi
Walau memiliki posisi penting dalam Golkar, ia butuh platform koalisi lintas partai untuk mencapai syarat minimal kursi (20%).
Distribusi Dukungan Geografis
Basis kuat di Batam dan Tanjungpinang; namun perlu memperluas pengaruh ke kabupaten-kabupaten luar seperti Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, dan Anambas.
Narasi dan Visi Aspiratif
Harus menyusun visi pembangunan yang tajam: ekonomi kreatif, otomotif, pariwisata, pendidikan, lapangan kerja—supaya bisa dihadirkan dalam kampanye.
Mobilisasi Organisasi & Relawan
Dibutuhkan tim kampanye yang masif, relawan aktif di tiap kabupaten/kota, serta strategi komunikasi yang luas dan terpadu.
Kesimpulan
Rizki Faisal memiliki modal politikal dan elektoral yang sangat kuat:
Caleg DPR RI dengan suara tertinggi dari Golkar Kepri,
jaringan organisasi luas (IMI, Bapera, barongsai),
serta citra aktivis dan profesional.
Untuk menjadi kandidat Gubernur Kepri 2029 yang kompetitif, ia perlu:
Mengokohkan dukungan internal Golkar,
Membangun aliansi lintas partai dengan tiket pencalonan formal,
Menyusun visi pembangunan komprehensif,
Menyiapkan tim kampanye yang efektif dan jaringan akar rumput di seluruh Kepri.
Dengan langkah strategis tersebut, peluangnya sangat kuat. Figur seperti dirinya—dengan akar legislatif dan sosial yang dalam—sangat berpotensi mencuat sebagai kandidat unggulan.
Isu Penentu:
Pemilih Kepri akan melihat siapa yang mampu menjawab isu harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, penataan BP Batam, dan pemerataan pembangunan antarwilayah.
Figur yang dekat dengan rakyat, rajin turun ke pulau-pulau, serta terlihat bersih dan pekerja keras akan lebih diuntungkan.
Pemilih muda akan menjadi penentu, dan narasi digital campaign akan sangat mempengaruhi.
Secara pragmatis bahwa isi tas, kapasitas, dan kapabilitas paling menentukan dalam eksekusi di lapangan. Pembiayaan saksi dan sebagainya, kampanye politik, dan sebagainya tentu tidak lepas dari biaya politik (isi tas).
Utak Atik Pasangan
Mengelaborasi dari masing-masing bakal calon kandidat di atas, kata Iskandar, Muhammad Rudi terbukti kalah di Batam. Kelihatan Rudi sekarang fokus untuk mengurus Masjid sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kepri. Jadi, kata Iskandar, agak berat untuk bertarung setelah tidak menduduki posisi kekuasaan.
Nurdin Basirun menurut Iskandar, berpeluang tapi sejarah mencatat mereka yang pernah menjadi napi korupsi, gagal mendapat dukungan partai politik (parpol). “Biaya akan sangat besar jika memang ngotot untuk maju,” kata Iskandar.
Calon yang potensial adalah Wagub Kepri saat ini, Nyanyang yang memiliki peluang terbesar sepanjang konsisten untuk menjaring aspirasi masyarakat bersama Gubernur Ansar. “Beliau (Nyanyang, red) bisa berpasangan dengan Wakil Ketua DPRD Kepri dari Fraksi Golkar, yang juga istri Gubernur saat ini, Hj Dewi Kumalasari Ansar memiliki basis dukungan tradisional yang sangat kuat di pulau-pulau di luar Batam,” ulas Iskandar.
Sementara PDI P, kata Iskandar, mau mengusung maka pilihan hanya harus selain Soeryo Respationo, kalau ingin menang. “Bisa dari luar kader atau malah sangat tepat untuk mengusung Walikota Tanjungpinang saat ini H Lis Darmansyah SH,” terangnya.
Kuda hitam saat ini, menurut Iskandar, jika Ketua DPRD Kepri, Iman Sutiawan yang juga berasal dari Partai Gerindra bisa merebut dukungan Partai Gerindra untuk didukung menjadi calon Gubernur Kepri di pilkada berikutnya. “Iman Sutiawan selain Ketua Partai Gerindra Kepri juga adalah sosok anak tempatan dan asli anak pulau yang merupakan tokoh terpopuler saat ini, yang berasal dari Partai Gerindra,” beber Iskandar.
Menurutnya, Iman Sutiawan bisa berpasangan dengan Amsakar Achmad (Walikota Batam yang juga Kepala Badan Pengusahaan Batam, red) ,seandainya berani mengambil peluang untuk naik ke provinsi, jika koalisi dengam Li Claudia Chandra pecah di Batam untuk pilkada Walikota Batam periode kedua.
Pemilihan Gubernur Kepri 2029 akan menjadi panggung menarik, karena bukan sekadar pertarungan figur, tetapi juga tentang masa depan Kepri sebagai wilayah perbatasan yang strategis. Siapakah yang akan memimpin Kepri selanjutnya? Waktu akan menjawab, rakyat akan menentukan. (asa)







