LONDON (Kepri.co.id – Xinhua) – Diwarnai unjuk rasa dan beda pendapat soal Palestina, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Kamis (18/9/2025) meninggalkan Inggris saat melakukan kunjungan menemui Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer.
“Saya memiliki perbedaan pendapat dengan sang PM terkait hal itu,” ungkap Trump dalam konferensi pers bersama sebelum mengakhiri kunjungan kenegaraan keduanya ke Inggris, ketika ditanya mengenai rencana pengakuan Inggris. “Sebenarnya, itu salah satu dari beberapa perbedaan pendapat kami.”
Starmer pada Juli 2025 mengumumkan, Inggris akan mengakui status Negara Palestina pada September 2025, kecuali pemerintah Israel mengambil langkah-langkah substansial untuk mengakhiri konflik di Gaza. Menurut sejumlah laporan media, pengakuan tersebut diperkirakan akan diresmikan pada akhir pekan ini, setelah kunjungan kenegaraan Trump.
Starmer dalam konferensi pers tersebut menyampaikan, jadwal pengumuman langkah ini “tidak ada hubungannya” dengan kunjungan Presiden AS, Donald Trump mengakhiri kunjungan ke Inggris yang diwarnai unjuk rasa.
Sebelumnya pada Kamis (18/9/2025) yang sama, kedua pihak menandatangani kesepakatan teknologi senilai miliaran Dolar AS untuk meningkatkan kerja sama di sektor-sektor yang sedang berkembang pesat seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), komputasi kuantum, dan energi nuklir.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Microsoft akan melakukan investasi sebesar 30 miliar Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.498) dalam infrastruktur AI di Inggris, sementara Google akan membuka pusat data di Waltham Cross, Hertfordshire.
Trump mengakhiri kunjungannya ke Inggris dan bertolak setelah konferensi pers tersebut. Agendanya ke Inggris meliputi kunjungan ke Kastil Windsor pada Rabu (17/9/2025), yang dalam kesempatan itu Trump disambut oleh Raja Charles, serta para pengunjuk rasa di luar kediaman kerajaan.
“Tidak ada yang namanya hubungan istimewa (AS-Inggris). Amerika hanya peduli pada kepentingan nasional mereka. Bagi mereka, semua negara sama, hanya soal kesepakatan bisnis,” ujar seniman satir Kaya Mar di luar Kastil Windsor.
Ribuan pengunjuk rasa juga berbaris melintasi pusat kota London pada Rabu (17/9/2025) untuk memprotes kunjungan Presiden AS, dengan kritikan terhadap kebijakan AS terkait Israel dan konflik Gaza menjadi salah satu seruan utama dalam aksi tersebut.
Dari Los Angeles, pagi-pagi sekali pada hari itu Amanda terbang ke London, demi bergabung dalam unjuk rasa tersebut. “Kami tidak memiliki kepemimpinan yang baik, dan saya sangat khawatir soal arah yang diambil AS maupun dunia,” tuturnya. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Presiden Mesir Sambut Baik Keputusan Inggris untuk Akui Negara Palestina
Usulan Trump”Ambil Alih Kepemilikan Gaza” Picu Perlawanan dan Kecaman Warga Palestina
Netanyahu dan Trump akan Langsungkan Pertemuan di Gedung Putih
Prancis akan Resmi Akui Negara Palestina Dalam Sidang Majelis Umum PBB Mendatang
PM Australia Sebut Netanyahu Sengaja “Pungkiri” Penderitaan Warga Gaza
Norwegia, Irlandia, dan Spanyol Umumkan Pengakuan Resmi Atas Negara Palestina
Eropa Kecam Rencana Pengambilalihan Gaza oleh Israel, Peringatkan Krisis yang Memburuk
Kanada Kecam Israel atas Bencana Kemanusiaan di Gaza
Belanda Akan Ambil Tindakan jika Israel Langgar Kesepakatan Akses Bantuan ke Gaza
Utusan China Sampaikan Peringatan tentang Kemungkinan Pendudukan Israel atas Seluruh Gaza
“Kematian Terasa Lebih Berbelas Kasih”, Pilihan Menyakitkan untuk Bertahan Hidup di Gaza
Presiden Mesir Sebut Perang Gaza “Lampaui Batas Logika”, Bertujuan Hapus Perjuangan Rakyat Palestina
Kapal Yunani Tujuan Gaza Bertolak dari Pulau Syros
