Dari Pangkalan Ojek, Nindy Kibarkan Merah Putih: Perjuangan Anak Tukang Ojek Menjadi Paskibraka Kepri

Dari Pangkalan Ojek, Nindy Kibarkan Merah Putih: Perjuangan Anak Tukang Ojek Menjadi Paskibraka Kepri
Nindy Harsita Putri Bersama kedua orang tuanya serta adiknya foto Bersama di Gedung Daerah Tanjungpinang, Senin (17/8/2026). (F. Suharmaji)

Di bawah pohon rindang di kawasan Jalan Batu Kucing, Tanjungpinang, seorang ayah setiap hari menunggu penumpang. Dari tempat sederhana itu, Harmani (57) menggantungkan harapan untuk keluarganya dengan menjadi pengemudi ojek pangkalan. Tak pernah terlintas dalam benaknya, dari kehidupan sederhana itu akan lahir sebuah kebanggaan yang membuat dadanya sesak oleh haru. Putri sulungnya, Nindy Harsita Putri (16), siswi kelas XI SMA Negeri 2 Tanjungpinang, berhasil melewati seleksi dan terpilih menjadi anggota Paskibraka Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2026.

SUHARMAJI, Tanjungpinang

PADA Senin, 17 Agustus 2026, Nindy berdiri tegap mengenakan seragam Paskibraka di halaman Gedung Daerah Tanjungpinang. Di hadapan masyarakat dan sejumlah pejabat Provinsi Kepri, ia menjadi bagian dari putra-putri terbaik daerah yang mendapat tugas mulia mengibarkan Sang Merah Putih dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi Nindy, seragam itu bukan sekadar pakaian upacara.

Di baliknya ada keringat seorang ayah yang setiap hari mengayuh kehidupan dari pangkalan ojek. Ada doa seorang ibu. Ada perjuangan keluarga sederhana yang tidak pernah mengajarkan anaknya untuk minder dengan keadaan.

Harmani biasa mangkal di kawasan Batu Kucing, tepatnya di sekitar depan Bank Riau Kepri Syariah dan BTN Pamedan Tanjungpinang. Dari tempat itulah, ia bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga dan membesarkan dua anak bersama istrinya, Siti Muniroh (49).

Namun, profesi sang ayah tak pernah membuat Nindy merasa rendah diri.

Justru dari kehidupan itulah ia belajar tentang arti kerja keras, kedisiplinan, kemandirian dan tanggung jawab.

“Walaupun ayah saya tukang ojek, saya tidak malu. Sejak kecil saya diajarkan untuk disiplin, bekerja keras, mandiri dan bertanggung jawab,” kata Nindy.

Nilai-nilai sederhana yang ditanamkan kedua orang tuanya itu, kemudian menjadi bekal ketika Nindy memutuskan mengikuti seleksi Paskibraka.

Dari ratusan peserta yang mengikuti proses seleksi dari kabupaten/ kota se-Kepulauan Riau, Nindy berhasil melewati tahapan demi tahapan.

Ia menjadi satu-satunya siswi perempuan dari SMA Negeri 2 Tanjungpinang, yang mewakili sekolahnya dalam Paskibraka Tingkat Provinsi Kepri.

Perjuangan itu tentu tidak mudah.

Latihan fisik, kedisiplinan, kekompakan dan tuntutan untuk selalu menjaga sikap harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Namun Nindy tidak menyerah.

Setiap langkah dalam latihan dijalaninya dengan semangat.

Hingga akhirnya, hari yang dinantikan tiba.

Di hadapan masyarakat Kepri, Nindy berdiri tegap. Bendera Merah Putih yang dikibarkannya seolah membawa serta cerita panjang keluarganya—tentang seorang ayah yang tak pernah lelah mencari nafkah dan seorang ibu yang tak pernah berhenti mendoakan anaknya.

Nindy Harsita Putri (16), siswi kelas XI SMA Negeri 2 Tanjungpinang. (F. Suharmaji)

Air Mata Seorang Ayah

Bagi Harmani, melihat Nindy mengenakan seragam Paskibraka menjadi pengalaman yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Pria yang setiap hari bekerja sebagai tukang ojek pangkalan itu mengaku tidak pernah membayangkan putri sulungnya bisa berdiri sebagai salah satu Paskibraka terbaik Provinsi Kepri.

“Saya ini setiap hari ngojek di pangkalan pohon besar di Batu Kucing. Tapi anak saya, Nindy Harsita Putri, bisa mengenakan seragam Paskibraka tahun 2026 dan disaksikan masyarakat Kepri,” ujar Harmani dengan suara penuh haru.

Ada kebanggaan yang sulit disembunyikan.

Sebab bagi orang tua, keberhasilan seorang anak bukan semata tentang penghargaan, jabatan atau prestasi. Ada rasa lega ketika melihat perjuangan dan doa yang selama ini diberikan perlahan menemukan jawabannya.

Nindy menjadi jawaban dari harapan itu.

Sementara sang ibu, Siti Muniroh, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya.

Matanya berkaca-kaca ketika menceritakan perjuangan putrinya mengikuti seluruh proses Paskibraka.

“Saya cukup terharu melihat Nindy. Semangat sekali mengikuti proses Paskibraka tingkat Provinsi Kepri,” tuturnya.

Bagi Siti, melihat putrinya berdiri tegap membawa nama keluarga dan sekolah menjadi kebahagiaan yang tidak mudah digantikan oleh apa pun.

Dari Kesederhanaan Tumbuh Mimpi Besar

Nindy merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Dalam kesehariannya, ia dikenal sederhana dan tidak banyak tingkah.

Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan mimpi besar.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Nindy bercita-cita melanjutkan pendidikan dan menjadi anggota Akademi Kepolisian (Akpol).

Menjadi Paskibraka menjadi salah satu pengalaman penting yang semakin menguatkan keyakinannya untuk mengejar cita-cita tersebut.

Selama mengikuti pemusatan latihan, Nindy tidak hanya mendapatkan pengalaman tentang kedisiplinan dan baris-berbaris. Ia juga bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai kabupaten/ kota di Kepri.

Perbedaan latar belakang justru membuat pengalaman itu semakin berharga.

“Semua teman-teman anggota Paskibraka Tingkat Kepulauan Riau mengasyikkan dan menyenangkan,” katanya.

Kini, Nindy pulang membawa lebih dari sekadar pengalaman.

Ia membawa sebuah cerita tentang keberanian bermimpi meski lahir dari keluarga sederhana.

Cerita tentang seorang ayah yang tetap teguh bekerja di pangkalan ojek, meski penghasilannya tak selalu pasti. Tentang seorang ibu yang terus menyelipkan doa di setiap langkah anaknya. Dan tentang seorang anak perempuan yang memilih membalas perjuangan kedua orang tuanya dengan prestasi.

Di balik langkah tegap Nindy pada 17 Agustus 2026, ada langkah seorang ayah yang setiap pagi berangkat mencari penumpang.

Di balik seragam putihnya, ada doa seorang ibu.

Dan di balik berkibarnya Sang Merah Putih, ada sebuah pesan sederhana: anak dari keluarga sederhana pun berhak bermimpi setinggi langit, selama mau berjuang untuk mewujudkannya.

Nindy telah membuktikannya.

Dari pangkalan ojek di bawah pohon rindang Jalan Batu Kucing, ia melangkah menuju halaman Gedung Daerah Tanjungpinang.

Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain.

Tetapi untuk menunjukkan kepada kedua orang tuanya bahwa setiap tetes keringat dan setiap doa mereka tidak pernah sia-sia.

Hari itu, mungkin bukan hanya bendera yang berkibar.

Harapan seorang ayah dan doa seorang ibu pun ikut berkibar bersama Merah Putih. (aji)