Sekutu Eropa Tolak Seruan Trump untuk Misi Militer di Selat Hormuz

Anak-anak bermain di tepi pantai di Desa Kumzar, Oman, pada 19 Februari 2025. Kumzar, sebuah desa nelayan terpencil di Semenanjung Musandam, Oman utara, terletak di sebuah pelabuhan terlindung dekat jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. (F. Xinhua/Wang Qiang)

BERLIN (Kepri.co.id) – Beberapa negara Eropa dan Uni Eropa (UE) pada Senin (16/3/2026) menyatakan keengganan atau penolakan tegas terhadap seruan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump untuk sebuah misi militer guna memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Dengan menekankan perlunya solusi diplomatik dan memperingatkan soal eskalasi regional lebih lanjut, para pemimpin Eropa menekankan, konflik saat ini tidak boleh berkembang menjadi misi NATO atau menyeret benua itu ke dalam perang yang lebih luas.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz menampik keterlibatan militer apa pun dalam melindungi kapal tanker minyak di selat tersebut, menekankan, NATO merupakan sebuah “aliansi pertahanan” dan bukan “aliansi intervensi”.

Merz mengatakan, Jerman tidak akan ikut serta dalam langkah-langkah militer untuk memastikan kebebasan navigasi selama konflik masih berlangsung. Dia menambahkan, hingga saat ini belum ada konsep layak untuk operasi semacam itu yang telah diajukan.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz berpidato dalam konferensi pers musim panasnya di Berlin, Jerman, pada 18 Juli 2025. (F. Xinhua/Li Hanlin)

Pernyataan senada juga digaungkan Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas di Brussel. Setelah pertemuan tingkat menteri luar negeri (menlu) UE, Kallas, menyatakan, blok tersebut tidak berminat memperluas misi angkatan lautnya yang sudah ada, “Aspides”, ke Selat Hormuz.

“Kami sedang mengupayakan solusi diplomatik untuk Selat Hormuz,” ujarnya, seraya menambahkan, “Ini bukan perang Eropa.”

Di Eropa Selatan, Menlu Portugal, Paulo Rangel, mengatakan, Portugal “tidak sedang dan tidak akan terlibat dalam konflik ini.”

Rangel juga mengabaikan ancaman dari pemerintahan Trump, terkait negara-negara anggota NATO yang tidak bersedia mendukung Washington. Dia mengatakan, ancaman tersebut “sama sekali tidak layak untuk ditanggapi.”

Wakil Perdana Menteri (PM) sekaligus Menlu Italia, Antonio Tajani juga menyampaikan keraguan. Dia menyampaikan, misi-misi yang sudah ada, seperti “Aspides” dan “Atalanta”, pada dasarnya dirancang untuk pengawalan defensif dan operasi antipembajakan, sehingga perluasannya ke Selat Hormuz yang berisiko tinggi menjadi sulit.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, berbicara dalam sebuah konferensi pers di Brussel, Belgia, pada 20 Mei 2025. (F. Xinhua/Uni Eropa)

PM Inggris, Keir Starmer, mengatakan, London sedang bekerja sama dengan para sekutu dalam sebuah “rencana yang layak” guna memulihkan navigasi, tetapi menegaskan bahwa hal itu “tidak akan dan tidak pernah direncanakan sebagai sebuah misi NATO.”

Sikap hati-hati ini muncul, di tengah friksi yang terlihat dengan Washington. Trump baru-baru ini mengkritik Inggris dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, mengeklaim, London “tidak mau turun tangan”, ketika pertama kali dimintai bantuan dan baru menawarkan kapal setelah “kapasitas bahaya” berkurang.

Di Eropa Utara dan Timur, keterbatasan sumber daya dan prioritas strategis memainkan peran besar dalam penolakan tersebut. Menlu Finlandia, Elina Valtonen, mengatakan, Finlandia “hampir tidak memiliki sumber daya tambahan” dan bahwa selat tersebut bukanlah “prioritas utama”.

Menteri Pertahanan Swedia, Pal Jonson juga mengatakan, fokus strategis Swedia tetap tertuju pada wilayah utara.

Menlu Polandia, Radoslaw Sikorski, mengonfirmasi bahwa Polandia “tidak memiliki rencana” berpartisipasi, sementara Pelaksana Tugas (Plt) Menlu Bulgaria, Nadezhda Neynski, mengatakan, negaranya tidak memiliki kapasitas untuk misi semacam itu.

Lembaga penyiaran publik Belanda NOS melaporkan, PM Belanda, Rob Jetten telah mengonfirmasi bahwa Belanda saat ini tidak mempertimbangkan untuk berpartisipasi.

Seorang demonstran mengangkat tangan yang ditulisi slogan “No War” dalam sebuah aksi unjuk rasa di Tel Aviv, Israel, pada 14 Maret 2026 yang digelar memprotes serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dan menuntut dihentikannya semua tindakan perang. (F. Xinhua/JINI/Tomer Neuberg)

“Saat ini, setiap misi di Selat Hormuz akan memerlukan peredaman ketegangan di kawasan tersebut,” ujar Jetten saat berkunjung ke Berlin pada Senin (16/3/2026).

Para analis mengatakan, tekanan AS mungkin bertujuan, mendorong sekutu Eropa agar lebih terlibat. Markku Kangaspuro, direktur riset di Institut Aleksanteri dari Universitas Helsinki, meragukan, apakah negara-negara anggota NATO harus ikut serta dalam sebuah perang yang “dilancarkan secara ilegal oleh AS dan Israel”.

Dengan menyampaikan bahwa ini merupakan kali pertama Washington berupaya melibatkan negara-negara anggota NATO dalam perang melawan Iran, Kangaspuro mengatakan, hal itu mengindikasikan AS melancarkan perang tersebut tanpa pertimbangan yang matang. “Dampaknya tidak dievaluasi secara memadai,” ujarnya. (hen/ xinhua/news.com)

BERITA TERKAIT:

Menlu Iran Sebut Iran Punya “Hak Penuh” Membela Diri, Bertekad akan Terus Berjuang

Serangan Besar-besaran AS ke Iran Picu Banyak Pertanyaan

Media Pemerintah Iran: Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel

Hingga 160 Orang Diperkirakan Tewas dalam Serangan AS-Israel terhadap Sekolah Perempuan di Iran

Intisari: Anggota Parlemen AS dari Partai Demokrat Kecam Trump atas Serangan terhadap Iran

 

Exit mobile version