Sistem Penyediaan Air Minum Kolaps, Warga Gaza “Hampir Mati Kehausan”

Sistem Penyediaan Air Minum Kolaps, Warga Gaza "Hampir Mati Kehausan"
Para pengungsi Palestina mengambil air di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara pada 10 April 2025. (F. Xinhua/Mahmoud Zaki)

RAMALLAH (Kepri.co.id – Xinhua) – Otoritas Sumber Daya Air Palestina (Palestinian Water Authority/ PWA) pada Sabtu (10/5/2025) memperingatkan, saat ini Jalur Gaza menghadapi krisis air dan “hampir mati kehausan”, akibat layanan penyediaan air minum dan sanitasi yang nyaris sepenuhnya lumpuh di tengah konflik dengan Israel.

Dalam sebuah pernyataan, pihak berwenang mengungkapkan, operasi militer Israel, kerusakan infrastruktur yang meluas, pemadaman listrik, dan pembatasan suplai bahan bakar, serta pasokan esensial lainnya hampir membuat layanan penyediaan air terhenti sepenuhnya.

PWA melaporkan, 85 persen fasilitas air dan sanitasi di daerah kantong tersebut rusak parah, sehingga warga hanya memiliki rata-rata tiga hingga lima Liter air per orang setiap hari, jauh di bawah standar darurat minimum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 15 liter.

Orang-orang mengambil air di daerah Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 27 April 2025. (F. Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Pernyataan tersebut juga memperingatkan soal meningkatnya risiko kesehatan masyarakat, merujuk pada pembuangan air limbah yang belum diolah dengan ke daerah permukiman serta penggunaan air asin yang tidak layak konsumsi oleh warga.

PWA menuding Israel telah melanggar hukum kemanusiaan internasional dan menyerukan penghentian operasi militer sesegera mungkin, penghentian atas apa yang disebutnya sebagai “praktik pendudukan sistematis”, pencabutan blokade, dan perlindungan terhadap para pekerja di sektor air.

Secara terpisah, kantor media pemerintah yang dikelola Hamas di Gaza menuduh Israel melakukan “kejahatan terorganisasi” terhadap lebih dari dua juta warga sipil di daerah kantong tersebut, dengan memberlakukan blokade menyeluruh dan membatasi masuknya pasokan bantuan kemanusiaan.

Anak-anak Palestina menunggu giliran untuk mengambil air di dalam kamp pengungsian di Gaza City bagian tengah pada 6 April 2025. (F. Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat (9/5/2025), kantor tersebut mengungkapkan, Israel menutup semua jalur perlintasan Gaza selama 70 hari berturut-turut, memblokir akses masuk bagi sekitar 39.000 truk bantuan yang membawa bahan bakar, makanan, dan pasokan medis terlepas dari apa yang disebutnya sebagai krisis kesehatan dan kemanusiaan yang semakin memburuk.

Israel menutup akses ke Gaza pada 2 Maret 2025, menyusul berakhirnya tahap pertama dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai dengan Hamas pada Januari 2025 lalu.

Sampai saat ini, tahap kedua gencatan senjata belum terlaksana akibat belum tercapainya kesepakatan di antara kedua pihak. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Sistem Layanan Kesehatan yang Hancur Akibat Serangan Israel Perparah Derita Pasien Gaza

Erdogan Sebut Turki akan Terus Bekerja Sama dengan Indonesia dalam Rekonstruksi Gaza

Gaza Hadapi Kelaparan Setelah Toko Roti Tutup dan Bantuan Menipis

Israel Perintahkan Warga Gaza Utara Segera Mengungsi di Tengah Ekspansi Militer

Blokade Bantuan dan Tewasnya Staf PBB Hambat Pengiriman Bantuan Kemanusiaan di Gaza

Pekerja Asing PBB Tewas Akibat Pengeboman Israel di Gaza Tengah

 

Exit mobile version