Houthi Klaim Serangan Rudal ke Bandar Udara Ben Gurion, Israel Bersumpah Membalas

Houthi Klaim Serangan Rudal ke Bandar Udara Ben Gurion, Israel Bersumpah Membalas
Para petugas polisi bekerja di sebuah area yang dihantam rudal di dekat Bandar Udara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel, pada 4 Mei 2025. Sebuah rudal yang diluncurkan pasukan Houthi Yaman, menghantam Bandar Udara Ben Gurion Israel pada 4 Mei 2025, menyebabkan sejumlah korban luka dan kerusakan, ungkap militer Israel dan pihak berwenang setempat. Pihak militer dalam sebuah pernyataan mengatakan, sistem pertahanan udara berupaya mencegat rudal itu namun gagal. (F. Xinhua/Gil Cohen Magen)

SANAA (Kepri.co.id – Xinhua) – Kelompok Houthi Yaman pada Jumat (9/5/2025) mengatakan, pihaknya telah meluncurkan sebuah “rudal balistik hipersonik” yang menargetkan Bandar Udara Ben Gurion di Israel, beberapa jam setelah militer Israel melaporkan telah mencegat sebuah proyektil yang ditembakkan dari Yaman.

Houthi juga mengklaim telah melakukan serangan drone secara simultan terhadap sebuah fasilitas militer di Tel Aviv. Serangan terkoordinasi tersebut, yang diumumkan melalui saluran televisi al-Masirah milik kelompok itu, terjadi di tengah eskalasi perseteruan lintas perbatasan.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan, sistem pertahanan rudal Israel “gagal mencegat” peluncuran rudal tersebut dan menyatakan, serangan itu mengganggu operasi di Bandar Udara Ben Gurion selama lebih dari satu jam, memaksa “jutaan orang” ke tempat penampungan. Meski demikian, pernyataan tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Foto yang diabadikan pada 6 Mei 2025 ini, menunjukkan kepulan asap dari pembangkit listrik Dhahban pascaserangan udara di Sanaa, Yaman. Serangan udara intensif Israel menghantam Sanaa, ibu kota Yaman, dan Provinsi Amran di bagian utara Yaman pada 6 Mei 2025 sore hari waktu setempat. Di Sanaa, serangan tersebut menghantam Bandar Udara Internasional Sanaa, pembangkit listrik Dhahban, dan dua lokasi militer. (F. Xinhua/Mohammed Mohammed)

Menurut Sarea, serangan tersebut menandai kelanjutan dari kampanye yang dideklarasikan Houthi, memberlakukan blokade udara terhadap Israel sebagai bentuk pembalasan atas apa yang disebutnya sebagai “kejahatan perang” Israel di Gaza.

Sarea mendesak maskapai penerbangan internasional, menangguhkan penerbangan ke Israel dan memperingatkan, kapal-kapal yang berkaitan dengan Israel di Laut Merah dan Laut Arab masih berada dalam jangkauan rudal.

Militer Israel mengonfirmasi, sistem pertahanan udara telah diaktifkan dan mencegat sebuah proyektil di atas Israel tengah. Sirene serangan udara berbunyi di seluruh wilayah Tel Aviv, membuat warga berlindung. Seorang wanita berusia 55 tahun mengalami luka ringan saat melarikan diri, menurut layanan darurat.

Sebuah sumber keamanan yang dikutip The Times of Israel mengatakan, rudal tersebut dijatuhkan sistem pertahanan rudal jarak jauh Arrow milik Israel.
Sumber itu juga melaporkan, sistem pencegat THAAD yang dipasok Amerika Serikat (AS) telah dikerahkan namun gagal mengenai targetnya, menjadi kegagalan kedua THAAD yang dilaporkan sejak Minggu (4/5/2025).

Houthi Klaim Serangan Rudal ke Bandar Udara Ben Gurion, Israel Bersumpah Membalas
Para petugas polisi bekerja di sebuah area yang dihantam rudal di dekat Bandar Udara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel, pada 4 Mei 2025. Sebuah rudal yang diluncurkan pasukan Houthi Yaman, menghantam Bandar Udara Ben Gurion Israel pada 4 Mei 2025, menyebabkan sejumlah korban luka dan kerusakan, ungkap militer Israel dan pihak berwenang setempat. Pihak militer dalam sebuah pernyataan mengatakan, sistem pertahanan udara berupaya mencegat rudal itu namun gagal. (F. Xinhua/Gil Cohen Magen)

Pada 4 Mei, rudal Houthi serupa menghantam dekat Bandar Udara Ben Gurion setelah sistem Arrow dan THAAD mengalami malafungsi, sehingga memicu serangan balasan Israel terhadap posisi Houthi di Yaman.

Sejak Israel melanjutkan serangannya di Gaza pada 18 Maret, pasukan Houthi telah meluncurkan sekitar 28 rudal balistik dan puluhan drone ke wilayah Israel, menurut media Israel.

Eskalasi itu menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Houthi, yang dimediasi Oman dan diumumkan pada Selasa (6/5/2025). Kesepakatan tersebut, bertujuan mengakhiri rentetan serangan timbal balik, namun tidak mencakup target-target Israel atau pelayaran yang berkaitan dengan Israel.

Foto yang dirilis pada 5 Mei 2025 ini, menunjukkan jet tempur Israel lepas landas di sebuah lokasi yang tidak diketahui melakukan serangan udara terhadap target-target di Yaman. (F. Xinhua/IDF)

“Houthi terus meluncurkan rudal Iran ke Israel,” kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam sebuah pernyataan. “Seperti yang telah kami janjikan, kami akan merespons dengan tegas di Yaman dan di mana pun diperlukan.”

Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, telah memosisikan serangan mereka yang terus berlanjut terhadap Israel sebagai sebuah front yang terpisah.

Para pejabat Houthi mengatakan, gencatan senjata dengan AS telah berhasil “menetralisir” tekanan militer AS, tetapi tidak dengan kampanye mereka melawan Israel.

“Israel saat ini berdiri di garis depan yang terbuka, dalam jangkauan rudal kami,” kata Nasr al-Din Amir, seorang pejabat senior media Houthi.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, belum ada laporan mengenai serangan udara AS terhadap sasaran Houthi. Israel yang terletak lebih dari 2.000 Kilometer dari Yaman, memiliki kapasitas terbatas untuk menyerang Houthi secara langsung dan terus bergantung pada dukungan AS. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Kelompok Houthi Yaman Klaim Kembali Tembak Jatuh Drone MQ-9 Amerika

Kelompok Houthi Yaman Klaim Lakukan Serangan Terhadap “Kapal Israel” di Mediterania

Wawasan Dunia: Pandangan Masyarakat Timur Tengah terhadap Kebijakan Trump di Timur Tengah

Konflik Berkepanjangan di Gaza Ungkap Sikap “Bermuka Dua” Washington di Timur Tengah