Komunitas Asia-Pasifik: 71 Tahun Berlalu, Gema Semangat Bandung Tetap Terasa di Indonesia

Foto yang diabadikan pada 3 Juni 2026 ini, menunjukkan tampilan eksterior Gedung Merdeka, lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika yang bersejarah, di Bandung, Provinsi Jawa Barat. (F. Xinhua/Zhang Yisheng)

Di luar stasiun kereta cepat di Bandung, kota keempat terbesar di Indonesia, Ricky (29), seorang pengemudi layanan transportasi online, mengantre menjemput penumpang selanjutnya.

Penulis: Xinhua Cao Kai, Zhang Yisheng

“Saya datang ke sini beberapa kali sehari untuk menjemput dan mengantar penumpang,” ujarnya kepada Xinhua, seraya menyatakan, Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dikenal sebagai “Whoosh”, menjadikan Bandung mudah dijangkau dari Jakarta, yang berjarak hanya 150 Kilometer.

Data resmi menunjukkan, per 4 Juni, Whoosh yang merupakan proyek kereta cepat luar negeri pertama yang sepenuhnya menggunakan sistem, teknologi, dan komponen industri perkeretaapian China, telah menangani lebih dari 15,88 juta perjalanan penumpang.

Namun, Bandung menawarkan lebih dari sekadar kemajuan transportasi modern. Bagi banyak orang, signifikansi sejati kota itu bermula dari sebuah pertemuan bersejarah pada 71 tahun lalu.

Terletak di Jalan Asia-Afrika yang ramai di Bandung, sejumlah bangunan era kolonial berdiri dengan elegan di bawah terik matahari tropis. Benak seseorang dapat dengan mudah terbawa kembali ke masa lalu pada 1955, saat para perwakilan dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung untuk menghadiri Konferensi Bandung yang bersejarah.

Saat itu, puluhan ribu warga berbaris di jalan dengan penuh antisipasi saat para pemimpin berjalan bersama dengan bangga, membuka babak baru solidaritas dan dukungan timbal balik.

Gedung Merdeka, yang berlokasi tepat di tepi jalan itu, merupakan landmark berlantai tiga dengan warna krem. Dahulu pada masa kolonial, bangunan itu merupakan klub sosial eksklusif bagi kalangan elite.

Pada 1955, bangunan itu memegang peran yang sama sekali berbeda sebagai lokasi penyelenggaraan (venue) konferensi bersejarah tersebut. Pada 1980, sayap timur bangunan tersebut diperuntukkan sebagai Museum Konferensi Asia-Afrika, yang mengabadikan babak sejarah sangat penting tersebut selamanya.

Meski jam operasional museum itu belum dimulai, Elvitarizky, seorang ibu asal Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia yang berlokasi di pesisir timur laut Pulau Jawa, telah menunggu di luar museum bersama kedua anaknya.

“Saya membawa mereka ke sini secara khusus, agar mereka dapat mengamati dan merasakan langsung Semangat Bandung,” tutur Elvitarizky. “Saya ingin mereka dapat benar-benar memahami arti perdamaian dan kerja sama.”

Di dalam ruang-ruang pameran tersebut, berbagai foto dan artefak bersejarah menyajikan gambaran masa lalu. Baru berkeliling selama sejam, reporter Xinhua bertemu dengan tiga kelompok studi yang sangat bersemangat.

Salah satunya beranggotakan 50 orang yang menempuh perjalanan dari sekolah menengah pertama (SMP) terdekat. “Kami mengajak para siswa muda ini ke sini, untuk mengingat sejarah dan menghormati para pendahulu kita,” ujar guru mereka. “Sejarah merupakan buku ajar yang paling berharga.”

Berjarak hanya selemparan batu dan terletak di seberang jalan, berdiri Hotel Savoy Homann, tempat para delegasi menginap selama konferensi bersejarah tersebut.

Di lobi hotel itu, terpampang peta Pulau Jawa era kolonial, yang membangkitkan refleksi mendalam terkait masa lalu yang penuh gejolak di negara kepulauan tersebut. Dahulu, jaringan rel kereta lama saling bersilangan di pulau tersebut, menyalurkan rempah-rempah, karet, dan mineral ke pelabuhan-pelabuhan penguasa kolonial.

Sejumlah penumpang berpose untuk difoto dengan rangkaian kereta Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di peron Stasiun Halim di Jakarta pada 2 Juni 2026. (F. Xinhua/Zhang Yisheng)

Terletak di sepanjang garis khatulistiwa, Indonesia selalu diberkahi dengan kekayaan alam yang melimpah. Wang Dayuan, navigator sekaligus penjelajah asal China pada abad ke-14, memuji kesuburan tanah dan dataran rendah Jawa dalam catatannya, sembari menyatakan hasil panen biji-bijian dan padinya begitu melimpah hingga mencapai dua kali lipat dibandingkan negara-negara lainnya.

Marco Polo, penjelajah asal Italia, juga mengagumi perdagangan yang berkembang pesat di daerah tersebut dalam jurnalnya.

Namun, kekayaan yang begitu melimpah tak pelak mengundang keserakahan yang tak terhingga. Sejak abad ke-17, kapal-kapal perang dan meriam kekuatan Barat mengguncang ketenangan di daerah tersebut. Seperti yang diamati oleh penulis Elizabeth Pisani dalam bukunya.

“Begitulah Indonesia: Menjelajahi Bangsa yang Tak Terduga” (Indonesia Etc.: Exploring the Improbable Nation), kaum penjajah hanya tertarik meraup keuntungan dan tidak peduli dengan kesejahteraan warga lokal. Selama periode waktu yang begitu lama, Indonesia dieksploitasi sebagai sumber utama kekayaan luar negeri bagi Belanda.

Namun, menghadapi penindasan yang kejam, masyarakat Indonesia berjuang dengan gagah berani, dari generasi ke generasi, hingga akhirnya fajar kemerdekaan bangsa itu terbit pada 1945.

Saat ini, tongkat estafet sejarah telah diserahkan kepada generasi baru. Dalam sebuah seminar internasional yang memperingati 71 tahun Konferensi Asia-Afrika baru-baru ini, Semangat Bandung atas solidaritas, persahabatan, dan kerja sama, tetap menjadi konsep yang paling sering disinggung oleh para partisipan.

Al Busyra Basnur, Presiden Indonesia-China Friendship Association, baru menyelesaikan kunjungan selama 10 hari di China pada akhir Mei, di mana dirinya menghadiri berbagai acara yang ditujukan untuk mendorong pertukaran dan komunikasi antara kedua negara.

“Dalam beberapa tahun terakhir, pendalaman kerja sama dan dukungan timbal balik antara Indonesia dan China dalam kerangka multilateral telah secara signifikan mendorong kemakmuran dan pembangunan regional,” ujar Basnur kepada Xinhua.

Persahabatan antarmasyarakat memegang kunci bagi terjalinnya hubungan antarnegara yang baik, pernyataan yang sepenuhnya diamini oleh Kang Zhenguo, direktur asal China di Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Kang menuturkan kepada Xinhua, persahabatan yang telah terjalin lama antara kedua masyarakat sangat bergantung pada generasi muda yang terus memelihara hubungan. Dalam beberapa tahun terakhir, proyek-proyek kerja sama unggulan seperti Whoosh, telah memberikan kemudahan yang nyata bagi warga setempat dan semakin mempererat hubungan kedua pihak.

“Saat ini, semakin banyak pemuda Indonesia yang antusias mempelajari bahasa Mandarin, terpesona oleh budaya China, dan berkeinginan menempuh studi di China,” papar Kang.

“Kami berharap dapat menyelenggarakan lebih banyak aktivitas budaya untuk membangun jembatan pemahaman bersama sembari memastikan Semangat Bandung terus bergema di hati para pemuda.” (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

69 Tahun Berselang, Semangat Bandung Konferensi Asia-Afrika Tetap Berkobar di Global South

Bandung Hidupkan Budaya Sunda lewat Pasanggiri Jaipong

Konferensi Asia Afrika dalam Kenangan Saksi Hidup, Dunia yang Berubah dan Semangat Melestarikan

 

Exit mobile version